BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 18


__ADS_3

Pak Baba dan istrinya masih berusaha membujuk Ara untuk pulang. Namun sayang keputusan anaknya itu sudah bulat, tidak ingin ikut bersama kedua orangtuanya. Entah mengapa perasaannya tidak enak jika dia pulang kerumah. Hatinya berkata untuk tidak ikut dengan mereka.


Karena anaknya yang susah dibujuk, maka dengan terpaksa suami istri itu berpamitan pulang, ditambah dengan hari yang sudah sangat malam.


“Tuh kan Yah, apa kata aku juga dia gadis yang keras kepala. Susah buat dibujuk,” ucapnya kesal pada sang suami karena gagal membawa Ara.


“Memang keras kepala! Dengan cara apalagi kita membujuk Ara? Sia-sia saja kita drama di depan keluarga itu,” jawab sang suami.


“Lain kali kita datang lagi ke sana, tapi jika anak itu masih sama tidak mau pulang maka kita paksa dia.” Mereka berdua terus berusaha membujuk anak semata wayangnya itu, namun percuma keputusan Ara sudah bulat dia tidak akan pulang.


••


••


Beberapa Minggu kemudian, waktunya Ara melahirkan. Semua berada dirumah sakit menunggu persalinan. Biru tidak pergi kesekolah begitupun Andi dan Echa. Kali pertamanya gadis itu bolos sekolah.


Di sekolahan, Arka dan Nadia sedang mengurus acara bazar yang akan para osis laksanakan. Berhubung si ketua osis tidak ada maka Arka sebagai wakil dan Nadia sekertaris yang harus mengurusnya. Acara masih ada beberapa hari lagi tapi mereka mulai mempersiapkannya dari sekarang. “Ka balik sekolah kerumah sakit yuk lihat si Ara,” ajak Nadia.


“Okey.” Keduanya melanjutkan tugas masing-masing dibantu oleh anggota lain. Tak sedikit orang yang bertanya kemana si ketos, mereka merasa ada yang kurang jika Biru tidak masuk sekolah.


Arka dan Nadia berbohong dengan menjawab jika Biru pergi keluar kota untuk bertemu dengan keluarganya. Padahal si ketos sedang menemani sepupunya lahiran dirumah sakit.

__ADS_1


Tidak ada yang tahu dengan kehamilan Ara. Teman-teman sekolahnya menyangka jika Ara benar-benar kabur dari rumah bersama lelaki lain. Itulah rumor yang tersebar di sekolahnya. Semuanya di katakan oleh Heru, lelaki tersebut berbohong jika kekasihnya pergi meninggalkan demi bersama orang lain. Para siswi yang tidak tahu sifat Heru sebenarnya memberikan semangat agar melupakan Ara dari pikirannya. Banyak dari mereka yang menyukai Heru karena lelaki itu tampan dan kaya.


“Bu, apa Ara bisa?” tanya Echa gelisah khawatir akan keadaan Ara di dalam.


“Kamu yang tenang Ca, Ara perempuan kuat dia pasti bisa. Tunggu sebentar lagi pasti suara bayi akan terdengar,” seru ibunya.


Biru, Andi dan ayah Echa hanya menyimak obrolan kedua perempuan itu, Benar saja tak lama kemudian terdengar suara bayi, dokter keluar memberitahu keadaan si ibu dengan anaknya. Mendapatkan kabar baik bahwa keduanya sehat semua merasa bersyukur.


“Bapak suaminya mari ikut saya,” ujar si dokter kepada Andi. Biru dan Echa saling tatap, mereka menahan tawa saat Andi disebut suami Ara.


“Eh baik dok,” jawabnya. Biru melambaikan tangannya kepada Andi. Bu Tania dan yang lain masuk untuk melihat keadaan Ara, gadis itu tersenyum sembari mengendong bayinya. Memuji betapa tampannya sang anak, begitu juga dengan ibu Echa.


“Jadi bapak nih,” sahut Biru tersenyum.


“Nggak papa lah gue jadi bapak, btw selamat ya Ra anak lu ganteng. Semoga tumbuh jadi anak yang sehat juga pintar,” ucap Andi. Dalam hatinya Ara merasa sedih karena bayinya tidak memiliki sosok ayah. Dia sudah berusaha menelpon Heru memberitahu jika anaknya itu telah lahir, namun seperti kejadian waktu itu. Heru tidak mau mengakuinya.


Istri pak Baba yang mendengar ucapan para ibu-ibu tentang cucu Bu Tania yang telah lahir langsung lapor pada suaminya. Dia tahu jika yang di maksud adalah Ara anaknya. Mendengar berita itu pasangan suami istri tersebut bergegas menuju rumah sakit tempat Ara melahirkan. Mereka akan berusaha membujuk kembali anaknya agar mau ikut pulang. Sesampainya di sana, terlihat keluarga Echa tengah berkumpul menemani Ara, keduanya berjalan dengan raut wajah dan air mata buayanya.


“Cucuku sudah lahir,” ujarnya. Orang-orang yang berada didalam kaget akan kedatangan orang tua Ara. Saat ibunya akan menyentuh si bayi, Ara menepis tangan itu. “Jangan pegang anak Ara.”


“Ini kan cucu ayah sama ibu nak. Kenapa tidak boleh menyentuhnya?” seru pak Baba.

__ADS_1


“Mau sampai kapan pun atau kalian bersujud pun aku nggak akan pulang kerumah bersama kalian. Pasti ayah dan ibu sedang merencanakan sesuatu, aku sudah tidak percaya dengan kalian lagi.”


Pak Baba sudah lelah berpura-pura baik di depan anaknya. Dia melepaskan amarahnya mengomel kepada Ara bahkan berkata tidak ingin mempunyai cucu haram. Hal itu membuat seisi ruangan terkejut akan perkataannya. Mereka tak menyangka pak Baba akan berkata demikian. Tidak memperdulikan perasaan putrinya. Sebagai orang tua mau bagaimana pun kondisi sang anak dia harus terus mendukungnya bukan malah mencaci serta berkata kasar.


“Jangan belagu kamu! Memangnya bisa apa kamu tanpa kita? Semua kebutuhan kamu dari dulu kita yang urus, jika tidak ada kita mungkin kamu sudah menjadi gembel di luaran sana.”


“Maksud ibu apa?” tanya Ara.


“Ck! Kamu itu hanya anak angkat kita. Sudah untung kita berdua mau merawat kamu,” jawab istri pak Baba. Ternyata selama ini Ara bukanlah anak mereka berdua. Biru tak percaya saat mendengar pengakuan dari bibinya. Ara terdiam tak bisa berkata-kata, semuanya telah terbongkar.


“Jadi dimana orang tuaku sekarang?” tanyanya dengan mata kedepan tanpa melirik pak Baba dan istrinya.


“Orang tuamu sudah mati, dan satu lagi yang kita tutupi dari kamu juga Biru. Sebenarnya kalian berdua adik kakak,” jawabnya menatap Biru.


Istri pak Baba menceritakan kejadian masa lalu. Sedangkan suaminya hanya diam, rahasia yang telah lama di simpan kini harus terbongkar hanya karena menginginkan bayi Ara. Mereka berdua sungguh tidak bisa menahan amarah saat anaknya itu menolak terus menerus ajakannya. Pernyataan itu membuat Biru dan Ara bergeming, masih tidak percaya dengan ucapannya. Keluarga Echa dan Andi hanya menyimak tidak ikut campur dalam urusan keluarga Biru.


“J—jadi bayi Mama yang hilang itu kalian penculiknya?” ucap Biru terbata-bata.


“Jangan asal menuduh kamu! Bukan kita berdua yang mengambil, melainkan Papa kamu yang membuangnya. Dulu kita sangat menginginkan seorang anak namun tidak bisa. Kebetulan juga suami saya melihat Papa kamu membawa dia pergi lalu disimpan dekat tempat sampah. Dia membawanya pulang, takut ketahuan maka kita berdua memutuskan untuk pergi dan tinggal di luar kota.”


“Setelah Ara beranjak 5 tahun kita kembali lagi,” sambungnya membuat semua orang terdiam.

__ADS_1


__ADS_2