BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 41


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di kedai. Andi mendorong dua penculik itu ke hadapan Biru. Raut wajah si ketos begitu menyeramkan bagi teman-teman yang lain, tidak dengan Andi. Jelas saja jika Biru seperti itu, dia benar-benar lelah akan hidupnya. Hilangnya sang keponakan, ditinggalkan oleh cintanya, dan berbagai masalah lainnya yang selama ini dia tahan dan mencoba tegar.


Biru melangkah maju menghampiri si penculik, tanpa disangka cowok itu langsung menendang wajahnya, teman-teman yang lain menelan ludah. Sudah lama mereka tak melihat kemarahan Biru yang seperti itu. Andi melototkan matanya tak percaya, sisi kejam Biru kembali keluar tanpa diduga. Dia mencoba menahan Biru dengan sekuat tenaga agar tidak keterlaluan, namun sayang kekuatan si ketos lebih besar darinya.


Biru menggerutu mengeluarkan semua isi perasaannya. Galang memandang Andi, saat si ketos mengeluarkan kata Echa dan Bara kini sang sahabat tahu apa penyebab Biru menjadi seperti itu.


Dua penculik sudah babak belur dihajar Biru tanpa ampun. Kali ini Andi berhasil menjauhkan si ketos dari si penculik. Lalu meminta Galang untuk mengikat mereka berdua.


“Lu ada masalah apa? Gimana kalau mereka berdua mati, lu mau masuk penjara dan nggak nemuin informasi tentang Nugraha?” ujar Andi sedikit tegas.


Biru menghela napasnya kasar, dia berteriak sekencang mungkin.


“Echa sedang dilamar oleh Bara,” ucapnya singkat.


“Itu masalahnya? Gue tahu gimana perasaan lu, tapi jangan kayak gini. Ingat Ara, dia udah nggak ada siapa-siapa lagi selain lu, kakaknya. Gimana kalau para penculik ini mati ditangan lu? Dan mungkin Echa bukan jodoh lu, kendalikan amarah jangan sampai kayak tadi. Gue paham, dan gue menyesal kenapa dulu dukung hubungan lu sama Echa. Kek gini kan jadinya.” Andi menghela napas setelah berbicara panjang. Dia berharap Biru mau mendengarkan semua yang telah dia ucapkan.


“Sorry.”


“Gue maklumi, jangan karena cewek lu jadi hilang kendali. Ya udah mending lu istirahat di dalam biar mereka berdua kita yang jaga di sini. Besok baru tanya keberadaan Nugraha sama mereka.”

__ADS_1


Biru mengangguk, dia mendengarkan ucapan Andi. Apa yang sahabatnya bilang memang benar, tidak ada artinya menangisi perempuan yang sudah tak menganggapnya lagi. Jika Echa benar-benar cinta padanya mungkin dia akan mencoba menolak lamaran itu. Mempertahankan hubungannya dengan Biru, namun nyatanya gadis itu malah setuju. Biru sedikit menyesal telah mengenal yang namanya cinta, seharusnya dia tetap menjadi Biru yang dulu.


Keesokkan harinya, Andi dan Biru tidak pergi ke sekolah. Mereka berdua masih berada di kedai menunggu si penculik sadarkan diri. Pada pukul 08.15, dua orang itu pun sadar dan merasa bingung di mana dirinya berada. Biru berjalan menghampiri, mengancam si penculik dengan bensin yang dia pegang.


“Baik, kita bakal antar kalian ke tempat bos kita,” ujarnya ketakutan.


Setelah menunggu hari agak siang, mereka berdua pergi ke rumah yang ditunjukkan oleh si penculik. Betapa terkejutnya Biru saat tahu rumah itu milik paman dan bibinya. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu, terdapat Pak Baba yang tengah rebahan di sofa. Ingin rasanya Biru memukul laki-laki tua itu, namun tidak jadi karena dia masih keluarganya.


“Di mana Nugraha?” tanya Biru tegas.


“Apa maksud kamu?” ucap Pak Baba. Mendengar keributan di depan, istrinya langsung melihat. Langkah dia terhenti setelah melihat Biru.


“Manusia macam apa kalian berdua, menjual bayi apalagi itu masih keluarga sendiri!” omel Biru.


“Sekarang di mana Nugraha yang kalian jual?” sambungnya.


“Nugraha sudah dibawa ke luar negeri oleh keluarga angkatnya.”


“Kami minta maaf, Biru. Sebenarnya kembalinya kami ke sini untuk menebus semua kesalahan bibi dan paman pada kamu dengan mengembalikan anak Ara. Namun, setelah kita pergi ke rumah pembeli Nugraha, mereka semua sudah tidak ada. Bibi benar-benar minta maaf, kamu mau kan memaafkan kami berdua?” ucap istri Pak Baba dengan aktingnya yang mengeluarkan air mata agar si keponakan mau memaafkan kesalahannya.

__ADS_1


Entah sudah berapa kali cowok itu menghela napasnya dengan kasar. Dia sungguh tak habis pikir akan paman dan bibinya. Bisa-bisanya mereka menjual bayi kecil yang notabenenya masih keluarga sendiri. Kehidupan Biru di tahun ini lebih melelahkan dan menyakitkan dibandingkan tahun kemarin. Belum lagi dia harus menghadapi ujian akhir, mengurus usahanya, mencari lebih lanjut Nugraha, dan menghadapi kandasnya cintanya. Itu semua membuat Biru benar-benar frustrasi.


Dia berandai orang tuanya masih ada mungkin masalah yang dia hadapi tidak akan serumit ini. Dengan langkah gontai karena lelah, dia pergi meninggalkan rumah sang paman.


Setelah kepergian Biru, pasangan suami istri tersebut tersenyum miring. Di sebuah danau, Andi kembali menenangkan sahabatnya, dia ikut merasakan betapa perihnya hidup Biru, persahabatan yang cukup lama itu membuat Andi merasakan semua yang temannya rasakan.


“Gue harus bagaimana mengatakan ke Ara, Ndi? Sekarang anak dia benar-benar pergi,” ujarnya dengan nada lesu.


“Bilang saja yang sebenarnya, gue yakin orang tua angkat Nugraha orang yang baik. Mereka pasti bakal menjaga anaknya Ara dengan penuh kasih sayang layaknya anak kandung mereka sendiri.”


“Kenapa hidup gue seperti ini sih, Ndi? Salah apa gue sama Tuhan? Kenapa Dia beri gue masalah yang tidak ada habisnya?”


"Jangan bilang seperti itu. Tuhan memberikan banyak cobaan padamu karena Dia menyayangimu. Dia tahu bahwa kamu adalah seorang cowok yang kuat dan tegar sehingga pasti dapat menghadapi semua masalah ini," jawabnya sambil menepuk-nepuk pundak Biru.


"Terkadang, aku merasa iri dengan kehidupan anak-anak lain," keluh Biru.


"Mungkin kamu melihat kehidupan mereka terlihat baik, tetapi kamu tidak tahu masalah apa yang sedang mereka hadapi. Terkadang mereka tersenyum di depan banyak orang, tapi sebenarnya mereka sedang tidak baik saat sendirian. Kita sebagai manusia pasti memiliki masalah masing-masing. Jadi, jangan terus-terusan mengeluh. Kamu masih memiliki aku, Arka, Nadia, Ara, dan anak-anak lain yang menyayangi dan peduli padamu."


Biru merasa sangat beruntung memiliki seorang sahabat seperti Andi. Cowok itu selalu peka akan masalah yang dialami oleh sahabat-sahabatnya. Si ketos memeluk Andi dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


"Andaikata Arka atau Nadia bertanya tentang kita yang tidak masuk sekolah," ujar Andi sambil memandang danau di depannya.


__ADS_2