BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 26


__ADS_3

“Gue nggak akan biarin hubungan lu bertahan lama sama Biru,” ucap Sasa dalam hatinya.


Di pemakaman, nek Ijah menumpahkan air matanya. Dia benar-benar merasa bersalah telah mengizinkan cucunya itu pergi. Jika saja dia melarang maka kini Tita masih ada di sisinya. Ara melihat itu tak kuasa menahan tangisnya, memikirkan nasibnya jika tidak ada keluarga Echa maka akan seperti apa dia nanti. Tita yang tak berani pulang karena hamil membuatnya harus menderita seorang diri, sedangkan lelaki yang sudah menghamilinya malah pergi dengan wanita lain tanpa memperdulikan nasib wanita-wanita yang pernah dia dekati.


Rintik-rintik hujan mulai turun, Mama Andi memapah nek Ijah untuk segera pergi dan berteduh didalam mobil. Wanita tua itu begitu lemah, raut wajahnya seperti tidak bersemangat lagi. Terus menatap ke arah kuburan cucunya dengan air mata yang masih mengalir. Didalam mobil Mama Andi menenangkannya, menghibur nek Ijah agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena sekarang dia harus merawat anak dari sang cucu. Ditatap nya Senja, bayi itu tersenyum hangat pada si nenek.


Mobil dinyalakan, mereka pergi dari pemakaman. Sebelum pulang Mama Andi terlebih dahulu mengantarkan Bu Tania dan Ara kerumahnya. Hujan juga masih belum reda, air yang turun dari langit itu malah semakin deras. Oma yang berada dirumah seorang diri tanpa ditemani oleh Artnya sibuk menonton televisi. Matanya lambat laun mulai terpejam karena cuaca yang begitu dingin membuat Oma merasakan kantuk.


Mama Andi yang baru saja sampai melihat suasana rumah yang begitu sepi, dia berjalan mencari ibunya. “Ternyata di sini, dingin-dingin gini malah nyalain kipas.”


Kipas dia matikan, lalu menyelimuti ibunya. Setelah itu menyuruh nek Ijah untuk masuk ke kamar istirahat, urusan Senja dia yang akan mengasuhnya.


“Makasih nak, maaf jika saya merepotkan kalian. Besok saya akan kembali kerumah, Senja akan tinggal di sana bersama saya.”


“Apa nggak sebaiknya tinggal di sini saja? Biar saya yang bantu mengurus Senja,” tawar Mama Andi.


“Tidak, terimakasih. Saya sudah banyak merepotkan kalian.”


“Sudah Bu mending di sini saja temani saya,” seru Oma. Dia terbangun karena obrolan sang anak dengan nek Ijah.


Nek Ijah pun setuju untuk tinggal bersama keluarga Andi. Dia ingin bersujud terimakasih namun dihentikan, Mama Andi berkata jika dia sangat senang membantu orang lain, menerima nek Ijah dan Senja sebagai keluarga baru.

__ADS_1


Di sekolahan para murid sudah duduk rapi di tempatnya masing-masing. Heru datang bersama dengan pak Iman, lelaki itu ternyata satu kelas dengan Biru. Setelah memperkenalkan diri dia berjalan menuju kursinya, si ketua osis sangat ingin membuat Heru tersandung. Namun dia teringat akan janjinya kepada kepala sekolah dan dirinya sendiri untuk tidak berbuat nakal. Dalam hati Biru sangat berdengus kesal melihat tingkah Heru yang tidak merasa malu, dan bahkan dia duduk disampingnya.


“Bertemu lagi kita,” ujar Heru tersenyum miring. Biru tak menghiraukan ucapan lelaki brengsek tersebut, dia pokus kedepan mendengar perkataan pak Iman. Andi, Arka dan Nadia menyipitkan matanya melihat wajah Biru yang seakan-akan sedang menahan amarahnya. Bisikan-bisikan dari Heru tentang Ara membuat Biru ingin memukulnya. Untung saja Echa memegang tangannya sembari menggeleng. Gadis itu tahu apa yang membuat si ketua osis tak nyaman.


“Mau tuker tempat sama aku?” bisik Echa.


“Nggak usah Ca, aku nggak papa kok.”


Heru melirik kearah Echa. Tatapannya seperti lelaki cabul, dia tersenyum lalu kembali menatap kedepan. Sasa yang sadar akan hal itu langsung menyunggingkan bibirnya, dia seperti mempunyai sebuah rencana untuk menghancurkan hubungan antara Echa dan di ketua osis.


Pukul 09.00, Mama Andi, Arka dan Nadia datang kesekolah. Di temani anak-anaknya mereka semua menuju ruangan guru. Di sana sudah ada beberapa guru yang sedang beristirahat.


“Mah jangan gitu dong,” ujar Arka dan Andi bersamaan.


“Maafin Nadia, janji deh nggak nakal lagi. Hehe jangan ambil semua fasilitas Nadia ya,” ucapnya memohon. Sebenarnya bukan kali pertama kedua orangtuanya Nadia dan Arka datang kesekolah. Kecuali Mama Andi yang baru pertama kali, biasanya sang asisten yang datang untuk mengatasi masalah anaknya.


Di jam istirahat pertama, Biru pergi ke taman belakang sekolah dengan Echa. Tidak ada yang mengganggu mereka berdua, termasuk ketiga temannya dan Paris. Biru bersandar di pundak Echa sembari menceritakan semua masalah yang sedang dia alami. Gadis itu mengelus lembut rambut sang kekasih memberikan semangat untuk tidak menyerah dalam menghadapi masalah apapun. Echa yang lemah lembut dan penyayang itu membuat Biru nyaman berada di sisinya. Dalam hidupnya hanya Echa dan Mamanya saja wanita yang selalu mensupport apa yang akan dia lakukan.


“Ca, kamu nggak akan menyesal punya pacar kayak aku?” tanya Biru.


“Nggak! Aku malah beruntung banget jadi pacar kamu. Di luar sana ada banyak perempuan yang mengantri tapi kamu memilih aku.”

__ADS_1


“Kamu baik Biru,” sambungnya.


“Aku nggak sebaik apa yang kamu kira Ca. Semenjak kenal dan dekat sama kamu semua kehidupan aku berubah. Makasih ya Ca,” sahut Biru.


“Semua itu bukan karena aku. Tapi kamu sendiri,” jawab Echa.


Dua pasang mata sedang memandang ke arah pasangan itu. Heru dan Sasa memperhatikan si ketos dan Echa dari tempat berbeda. Saat akan pergi keduanya tak sengaja bertabrakan. Sasa langsung mengulurkan tangannya kepada Heru guna mengajak lelaki itu berkenalan dengannya. Tanpa menunggu lama Heru menyambut jabatan tangan itu, dia tersenyum dan keduanya pergi ke tempat lain untuk membicarakan sesuatu.


“Ca, makasih.”


“Iya Biru. Makasih terus ish, oh iya aku sampai lupa. Harusnya sekarang aku mulai menulis tapi ya udah deh bisa nanti malam.”


“Sejak kapan suka nulis?” tanya Biru. Dia begitu heran saat melihat Echa. Gadis tersebut selalu sibuk dengan laptopnya mau itu dirumah ataupun di sekolah.


“Sejak SMP sih aku suka nulis. Waktuku banyak terbuang sia-sia, jadi aku memutuskan untuk menulis saja. Selain itu juga untuk menyalurkan hobi aku,” jawabnya.


“Sudah berapa buku yang terbit? Dan kenapa nggak bilang sama Tante Tania? Pasti dia bangga saat tahu anaknya seorang penulis.”


“A-aku masih belum berani buat bilang ke ibu.”


“Kenapa? Tante Tania pasti mendukung apa yang anaknya sukai selagi itu positif. Menurutku kamu hebat Ca dan juga beruntung memiliki orang tua seperti Om Rangga dan Tante Tania.”

__ADS_1


__ADS_2