
Setelah bertemu dengan Biru dan Echa. Mereka semua mencari tempat untuk berteduh karena tak lama dari itu hujan pun benar-benar turun.
Para remaja tersebut tengah berkumpul disebuah warung, cuaca yang dingin membuat semuanya memesan semangkok mie rebus dengan toping telur dan sayur. Setengah jam mereka berada di sana, akan tetapi hujan belum juga reda. Malah ditambah dengan adanya guntur yang sangat keras membuat Senja menangis.
Ara menenangkan anak kecil yang sedang dia pangku itu, dan Andi menyuapi mie ke mulut Ara yang tengah sibuk dengan adik angkatnya. Pemandangan itu menjadi tontonan bagi Biru dan yang lain. Mereka bahkan menganga dibuatnya karena tak percaya.
Biru berdehem menegur Andi tapi Echa mencubitnya. Sang kekasih melarang Biru untuk mengganggu mereka berdua.
“Wah...wah, ada apa ini? Si Ara kan bisa makan sendiri, kenapa harus lu suapin, Ndi?” ujar Nadia sembari senyum. Andi tak menggubris perkataan dari temannya. Dia tetap saja sibuk menyuapi Ara sampai mie di mangkoknya habis.
Setelah selesai dia melihat kearah teman-temannya, mata Biru memandangnya dengan lekat.
“Lu kenapa, Biru?” tanya Andi menelan ludah. Tatapan itu seperti akan menerkamnya saja.
“Heh! Lu suka kan sama adik gue? Ngaku lu, Ndi. Tenang gue restuin kok, itupun kalo si Ara nya mau,” ucap Biru. Mata Andi langsung berbinar mendengar ucapan sahabatnya yang telah mau merestui hubungannya dengan Ara, dia pun melirik ke arah gadis yang berada disampingnya.
Tahu Andi meliriknya Ara langsung berdiri membawa mangkok yang telah habis.
“Sabar aja, Ndi. Tuh anak biasa masih malu-malu,” ucap Biru.
“Masih banyak waktu buat kamu dapatkan hatinya Ara, Ndi. Kita dukung kok,” sahut Echa.
Merasa semua temannya mendukung termasuk kakak calon pacarnya. Andi semakin semangat untuk mendapatkan hati Ara dengan caranya sendiri. Dia tidak akan meminta bantuan dari teman-temannya. Masalah diterima atau ditolak itu sudah keputusan Ara.
••
__ADS_1
••
Beberapa hari berlalu, Andi jadi semakin rajin bermain kerumah Echa hanya untuk melihat wajah cantik Ara. Entah mengapa dirinya itu selalu terbayang-bayang akan gadis yang di pujanya.
Sore itu, Ara sedang bermain bersama Senja. Seseorang yang tak dia harapkan datang dan masuk pekarangan rumah Echa begitu saja, ya. Itu adalah Heru, wajahnya tersenyum memandang Ara.
“Namanya siapa Ra?” tanyanya membuka obrolan. Ara terdiam tak menggubris perkataan sang mantan. Heru menahan diri karena ucapannya yang tak dianggap.
“Gue minta maaf Ra, kalo lu mau minta gue buat tanggung jawab siap kok. Nyokap juga pasti mau ngerestuin hubungan kita lagi. Lalu kita bertiga hidup bareng.”
“Ck! Semudah itu kah gue maafin lu? Sorry Heru, mau sekeras apapun lu deketin gue lagi. Gue nggak akan mau balikan sama cowok brengsek,” ujarnya dengan tegas.
“Emangnya lu mau kalo anak ini nggak punya ayah? Dan emangnya ada cowok yang mau sama lu? Apalagi udah punya anak satu, cuman gue Ra yang mau sama lu. Jadi tinggal nunggu apalagi?”
“Kalo pun cuman lu doang cowok di dunia ini! Gue nggak bakal mau, nggak sudi punya suami yang nggak bertanggungjawab!!” Ara menghela napasnya, mencoba berdiri untuk pergi menghindar. Namun, Heru segera menahan tangannya. Pegangan itu sangat erat sampai membuat Ara kesakitan. Sepertinya Heru kesal akan ucapan dari sang mantan.
“Gue! Gue yang bakal jagain dia layaknya seorang ratu,” ucap seseorang dari belakang. Ara terkejut ternyata Andi dan Biru yang datang. Heru membalikkan badannya menatap Andi dengan tajam.
“Cewek murahan kayak dia lu mau? Bangun bro! Nggak guna suka sama tuh cewek, apalagi udah beranak satu,” ujar Heru meremehkan. Biru yang mendengar itu mengepalkan tangannya karena geram. Dia tak terima adik perempuan satu-satunya diremehkan seperti itu oleh cowok brengsek. Benar saja tak lama Biru pun meninju wajah mantan adiknya dengan sangat keras.
“Pergi lu sana! Dan ingat, jangan pernah temuin adik gue lagi!” Biru benar-benar kesal pada lelaki itu. Sedangkan Andi menghampiri Ara yang tengah berdiri, dia mengusap air mata sang pujaan dengan lembut. Hatinya merasa ikut sakit disaat wanita yang dia cintai dihina oleh cowok gila seperti Heru.
Ara menepis tangannya, gadis itu langsung masuk kedalam rumah tanpa berbicara apapun. Setelah Heru pergi, datanglah Echa dengan ibunya.
“Kumpul-kumpul gini ada apa?” tanya Bu Tania.
__ADS_1
“Nggak ada apa-apa kok Tante. Ya sudah saya sama Andi masuk dulu,” jawab Biru.
“Mari Tante,” sambung Andi. Awalnya dia kesana karena akan menjemput Senja yang dititipkan pada Ara. Namun, karena kejadian tadi dan sang adik dibawa kedalam maka Andi bermain sebentar.
Dipinggir jalan, Heru berjalan sembari mengoceh sendiri. Dia memaki Biru dan Andi yang telah mengacaukan niatnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata Sasa lah yang menghubungi.
Dari raut wajah yang tadinya kesal kini berubah menjadi senang. Entah apa yang Sasa katakan sampai membuat Heru berbinar.
Tak butuh waktu lama dia sampai ditempat yang telah Sasa kirimkan. Di sana banyak sekali para wanita yang berkumpul. Mereka semua menghampiri Heru yang baru saja datang.
“Gimana, Ru? Lu senang nggak gue bawain banyak cewek kayak gini?” ujar Sasa.
“Wih lu temen terbaik gue, Sa. Jelas senang dong. Cuman cewek-cewek kayak gini yang bikin gue seneng.”
“Dasar buaya lu! Ya udah ini hadiah dari gue karena berhasil manfaatin om-om. Gue dapat banyak,” ucapnya memamerkan uang yang begitu banyak.
“Gila lu, Sa.”
“Sama-sama gila jangan bilang gila. Dah lah bye gue mau cari lagi.” Sasa pergi meninggalkan Heru dengan beberapa wanita.
Pukul 19.00 keluarga Echa tengah makan malam bersama, di sana seperti biasa sudah ada Biru. Saat sedang asik-asiknya menyantap makanan. Seseorang mengetuk pintu depan. Awalnya Bu Tania yang akan membukakan, namun Biru izin agar dia saja yang pergi kedepan melihat siapa yang datang. Setelah berada didepan, dia mengintip lewat jendela, terlihatlah seorang lelaki muda tampan seumuran dengannya.
“Siapa nih cowok?” tanya Biru sembari mengernyitkan dahi. Pintu dibuka, Biru bertanya siapa lelaki itu dan ada urusan apa datang kerumah Bu Tania.
“Tante Tania dan Pak Rangga nya ada?”
__ADS_1
“Ada, bentar gue panggil dulu.” Biru berjalan kembalu menuju meja makan untuk memberitahu orang tua Echa jika di luar ada seorang lelaki yang mencarinya. Dalam hati dia sangat penasaran sosok lelaki tersebut.
“Siapa ya? Apa jangan-jangan....,” pikir Biru.