
Mereka bertiga melototkan matanya, ada Echa dengan lelaki yang sama seperti gambar di mading. Penasaran siapa yang menyebar poto tersebut, Biru mengajak teman-temannya untuk mencari orang yang menurutnya mencurigakan. Tersangka pertama adalah Paris, mereka berempat masuk kekelas sebelah mencari keberadaan cowok itu. Namun, tidak ada Paris di sana.
Biru mengajak yang lain untuk mencari lagi. Namun, saat salah satu murid di sana mengatakan jika Paris tidak masuk sekolah karena pergi ke luar kota membuat si ketua osis menghentikan pencariannya. Nama Paris pun lolos dari tuduhan keempat murid tersebut. Kini Biru curiga dengan Heru, dimana laki-laki itu selalu saja berbuat masalah kepadanya.
“Lu yakin Heru? Bukannya kemarin Echa pergi sama si Sasa?” ucap Nadia.
“Nah iya, harusnya kita tanya tuh cewek dulu. Dia yang tahu kemana dirinya pergi sama Echa waktu kemarin.”
“Ya udah cari Sasa,” ujar Biru dengan wajah datar.
Kebetulan Sasa yang baru keluar dari dalam kantor berpapasan dengan Biru dan yang lain. Langsung saja si ketua osis menghentikan langkah gadis tersebut. “Lu yang ngirim poto ini ke gue?!” tanya Biru tanpa basa-basi.
Sasa mengerutkan kening melihat ke arah ponsel Biru. Lalu gadis itu menggelengkan kepalanya tanda bukan dirinya lah yang mengirim poto tersebut. Nadia yang sudah curiga sejak awal terus memperhatikan mimik wajah Sasa dengan serius.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu deh lu! Kemarin lu yang ngajak Echa pergi,” ujar Nadia.
“Iya emang gue yang ngajak Echa pergi. Tapi jam delapan malam kita udah pamitan kok pulang kerumah masing-masing.”
“Echa sampai jam sepuluh malam belum pulang!” seru Biru masih dengan wajah datarnya.
“Ya mana gue tahu. Bisa aja dia mampir dulu ke suatu tempat, kek yang di poto itu.”
Biru tidak menanggapi ucapan gadis didepannya. Dia mengajak yang lain untuk pergi saja meninggalkan Sasa yang masih berdiri. Kini giliran Heru yang akan mereka temui. Orang yang sangat Biru curigai. Terlihat dari kejauhan jika Heru tengah berbincang dengan murid lain. Setelah bicara mengenai poto yang tersebar, Biru meminta ketiga temannya untuk mengawasi Sasa dan Heru. Sebab, dia masih belum percaya akan jawaban dari kedua teman kelasnya itu.
Ibu Echa yang sedang menunggu putrinya selesai mandi pun sontak terkejut saat melihat poto anaknya tertidur bersama seorang pria. Poto itu di kirimkan oleh nomor yang tidak dia kenal, sama seperti Biru. Bu Tania diam saat anaknya menghampiri, sedangkan Echa segera mengajak sang ibu untuk mencari Nugraha. Melihat ibunya diam Echa mengerutkan kening heran. “Ibu kenapa ya?”
__ADS_1
“Ca duduk!” titah sang ibu.
“Iya bu, kenapa?”
“Jelasin maksud dari poto ini sama ibu. Ini alasan kamu nggak pulang kemarin malam?” ujar Bu Tania memperlihatkan handphonenya.
Echa tentu terkejut tak percaya saat melihat dirinya bersama seorang lelaki. Dia menyangkal itu, menjelaskan jika iya dirinya tidak pulang kerumah karena ketiduran di hotel, tapi dia tidak pernah tidur bersama laki-laki. Echa menyebut nama Sasa, gadis yang membawanya ke sana. Bu Tania masih terdiam, dia percaya tak percaya dengan penjelasan anaknya. Tahu ibunya masih curiga dan belum mempercayai ucapannya, Echa berniat menelpon Sasa untuk membenarkan.
Sayangnya handphone teman barunya tersebut tidak aktif. Echa menghela napasnya meminta sang ibu untuk percaya dan tidak berkata kepada sang ayah. Karena dia sangat takut jika ayahnya tahu akan poto tersebut. Pencarian Nugraha terus berlanjut walau ibu-anak itu saling diam.
Disekolah, Nadia terus mengawasi Sasa. Mulai gadis itu pergi ke kantin, perpustakaan bahkan toilet. Begitupun dengan Andi, dia sama seperti Nadia mengikuti kemana pun Heru pergi. Sedangkan Biru dan Arka disibukkan oleh urusan organisasi.
Di saat bersamaan, Heru dan Sasa bertemu di taman belakang. Andi juga Nadia saling pandang saat bertemu, mereka berdua bersembunyi melihat dua orang yang dicurigai tengah mengobrol.
“Woy Ndi, gue yakin tuh anak berdua yang bikin ulah,” ucap Nadia dengan mata pokus kedepan memperhatikan.
“Ndi! Lu nyium bau nggak?” tanya Nadia mengendus bau di sekitarnya.
“Bau apaan? Nggak tuh. Hidung lu kali bermasalah,” jawabnya.
“Serius ege, kek bau tahi hewan. Masa lu nggak nyium sih?” Nadia terus mencari sumber bau yang membuat hidungnya tak nyaman. Matanya melihat kebawah tertuju pada sepatu yang di pakai Andi.
Nadia memasang wajah datar saat sumber bau itu dari temannya. Dia meminta Andi untuk mencopot sepatunya dan melihat bawahnya. Setelah dilihat benar saja ada kotoran yang terinjak oleh sepatu Andi. Teman cowoknya melemparkan sepatu kebelakang sembari menutup hidung.
“Sialan lu Ndi, mana nginjek sepatu gue lagi,” omel Nadia.
__ADS_1
“Sorry Nad, mana gue tahu kalo sepatu mahal ini nginjek kotoran. Hehe, tapi kok gue nggak nyium baunya ya?”
“Parah lu! Mana tuh tahinya item banget lagi. Itu kotoran apaan sih? Lu habis darimana aja hah!”
“Ya gue daritadi ngikutin tuh curut,” jawabnya menunjuk kearah Heru. Keduanya kembali pokus memperhatikan Sasa dan Heru. Nadia sedikit mendengar kata Echa dalam percakapan mereka berdua.
Namun, karena masih kurang jelas, maka keduanya memutuskan untuk kembali pada Biru. Setelah bertemu dengan dua teman lainnya. Arka terlihat mengendus saat kedatangan Andi.
“Sepatu lu kemana?” tanya Biru. Arka melihat kearah bawah. Ternyata Andi hanya mengenakan sepatu sebelah, temannya itu pun baru menyadari jika tadi sepatunya dia lempar.
“Lah iya kok gue nggak nyadar, heh Nadia! Lu kenapa kagak bilang,” ucap Andi.
“Mana gue tahu, sana ambil sepatu lu.”
“Kok bisa sih si Andi sepatunya dilempar?” tanya Arka. Sang kekasih menjelaskan jika Andi menginjak kotoran yang sangat bau. Arka dan Biru yang daritadi merasakan bau pun melihat ke sepatu Nadia.
“Nih lihat aja sepatu gue diinjak sama dia,” adunya.
“Lu cepirit ya Ndi? Parah lu sana pergi ambil sepatunya.”
“Nih mulut! Enak aja gue cepirit, malu-maluin popularitas gue. Mana ada Andi cowok bersih ini berak di celana,” serunya sembari memukul pelan mulut Arka.
“SI PALING BERSIH!” ujar ketiga temannya lalu meninggalkan Andi dan menyuruh dia mengambil sepatunya untuk dibersihkan.
Andi pun kembali lagi ketempat sembunyinya. Di sana masih ada Sasa juga Heru yang sedang mengobrol sembari tertawa kecil. Baru saja memungut sepatunya tiba-tiba dia mendengar nama Echa lagi dalam perbincangan mereka. Karena penasaran Andi mencoba lebih dekat dan mendengarkan dengan seksama.
__ADS_1
Benar saja setelah dirinya mendekat, perbincangan keduanya terdengar, Andi mulai merogoh ponsel didalam saku dan merekam ucapan Sasa juga Heru.
“Dapat gue,” gumam Andi tersenyum.