BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 24


__ADS_3

Baru saja akan masuk untuk menghampiri Biru, langkahnya terhenti setelah adanya Sasa. Gadis itu mendekati si ketua osis dan memegangi pinggir bibirnya. Pemandangan itu menjadi pusat perhatian para murid lain, yang tadinya mereka menyangka Echa dan Biru kini pemikiran mereka berubah. Paris menginjak perut Arka membuat Nadia bangun dari duduknya. Gadis itu tak terima kekasihnya di perlakukan seperti itu dan dengan keras dia menampar pipi Paris.


Pada saat Paris akan membalas tamparan Nadia, sebuah tangan mencegahnya. “Cewek di lawan, lu cowok apa bukan?”


“Dan iya! Btw masalah lu sama gue apa ya?” sambung Biru menyunggingkan bibir.


“Gara-gara lu Echa nolak cinta gue!” jawab Paris dengan keras.


Murid-murid lainnya dibuat tak percaya lagi. Tak disangka Echa si gadis pendiam yang dulu selalu di ejek kini menjadi rebutan para lelaki di sekolah. Echa yang namanya disebut langsung membawa Paris pergi dari kelas. Dia tidak ingin orang-orang menyalahkan dirinya atas pertengkaran Paris dan Biru.


“Ca gue beneran suka sama lu,” ucap Paris.


“Stop Ris! Stop buat bilang suka dan cinta sama aku. Percuma semua itu nggak akan terbalaskan, karena aku suka sama cowok lain. Dan aku mohon untuk jangan berbuat masalah lagi di kelas aku.”


“Biru kan cowok yang lu suka? Dia itu cowok berandal nggak pantas buat lu Ca.”


“Bukannya kamu juga cowok berandal Ris? Walau begitu Biru lebih baik dari kamu, kalo memangnya aku suka sama Biru kenapa? Aku nggak tahu maksud kamu ngedeketin aku itu apa tapi yang jelas simpan perasaan kamu ke aku.”


Biru yang menyusul kepergian Echa dan Paris tak sengaja mendengar perkataan Echa. Wajahnya tersenyum saat tahu jika gadis yang dia sukai ternyata menyukainya balik. “Please ini gue nggak salah dengar kan?” gumamnya menepuk pipinya sendiri.


Biru pun kembali ke kelas dengan wajah bahagia. Membuat ketiga temannya merasa keheranan. Mereka bertiga saling pandang. “Napa tuh anak? Udah stres kah?”


“Entah? Tapi kayaknya iya sih. Aneh juga tadi mukanya nyeremin sekarang malah....”


“Gila tuh temen lu Nad,” seru Andi.

__ADS_1


“Itu temen lu ege.”


Arka menepuk pundak Biru membuat si ketos tersadar. Tak lama datanglah Echa menunduk karena merasa risih atas tatapan teman-teman kelasnya. Melihat kedatangan gadis yang dicintainya si ketos pun kembali senyum-senyum sendiri.


“Aaaaa, Echa suka sama gue...” teriak Biru. Murid-murid langsung memandang ke arahnya setelah mendengar teriakan itu. Sedangkan Echa dan Sasa melototkan matanya.


“Ca! Gue juga suka sama lu,” sambungnya menghadap Echa. Gadis itu menelan ludahnya tak percaya jika Biru akan berkata demikian. Andi dan Arka saling rangkul melihat kelakuan si ketua osis yang baru mengenal cinta. Mereka berdua berpikir sungguh sangat tidak romantis pengakuan perasaan tersebut.


“Benar-benar temen lu itu,” ucap Arka menggelengkan kepala.


Biru mendekati Echa dan kembali mengungkapkan perasaannya. Namun gadis di depannya itu masih saja terdiam, dia melihat kanan kiri semua teman memandang tajam ke arah dia dan si ketua osis. Anggukan pelan yang Echa lakukan membuat Biru melompat kesenangan. Para murid yang ada di sana baru pertama kalinya melihat tingkah Biru yang terlalu senang seperti itu. Sepertinya hati sang ketua osis berhasil Echa luluhkan entah dengan cara apa. Itu lah yang ada didalam benak para murid lain.


Mereka sedikit merasa iri karena Echa lah gadis yang beruntung mendapatkan Biru, lelaki incaran banyak para wanita di sekolah. Pukul 16.00, waktu belajar telah usai. Murid-murid lain mulai meninggalkan kelas membawa ranselnya. Di sepanjang lorong Andi, Arka dan Nadia melihat raut wajah Biru yang terus menerus tersenyum sendiri. Mereka bertiga merasa ngeri dan merinding melihatnya.


“Percaya. Lihat aja tingkahnya kek orang nggak waras senyum-senyum sendiri. Tapi nggak papa lah biar tuh anak nggak marah-marah terus. Seenggaknya kalo udah ada pacar kelakuan nggak baiknya berkurang,” sahut Nadia.


“Halah! Si Arka punya pacar tetap aja kelakuannya nakal. Gimana nggak nakal sih orang ceweknya aja ngikutin kelakuan kita, hahaha,” ucap Andi tertawa.


••


••


••


Sesampainya dirumah, Biru melihat adiknya yang tengah mengurus Nugraha. Dia menghampiri lalu mencubit gemas pipi si bayi dengan pelan. Baru sekali cubitan Nugraha tiba-tiba saja menangis membuat Ara memukul tangan kakaknya. Biru berdengus kesal setiap kali dirinya menyentuh pipi Nugraha selalu saja dia menangis. Berbeda dengan Andi, bayi itu selalu tersenyum.

__ADS_1


“Sabar..., sabar. Nih anak nggak bisa bedain mana pangeran sama makhluk halus.”


“Apa lu bilang? Makhluk halus?” tanya Andi.


“Berjanda Ndi, gue berjanda aja. hahaha, dah lah pulang sana lu.”


“Caaa si Biru demen sama jandaaa,” teriak Andi kepada Echa yang berada didalam rumah. Seketika Andi langsung berlari menuju motor setelah tahu Biru akan melemparkan sepatunya.


Setelah kepergian Andi, Biru duduk disamping Ara tanpa mengganti seragamnya dahulu. Lalu Ara menceritakan jika dia dan ibu Echa baru saja mendapatkan sebuah selebaran, dimana di sana terdapat nama Tita ibu dari Senja. Obrolan keduanya terlihat sangat serius, Ara meminta Biru untuk mengurus Heru. Dia benar-benar sangat membencinya dan tidak ingin ada korban lagi setelah dirinya dan Tita. Cukup mereka berdua saja yang telah Heru campakkan. Biru mengangguk mengerti atas ucapan Ara. Setelah libur sekolah nanti dia akan mengurus Heru si lelaki brengsek.


“Lu tenang aja Ra, tuh cowok biar gue yang urus nanti. Ngomong-ngomong udah di telpon kah orang yang ngasih selebaran itu?”


“Udah di telpon sama Tante Tania, katanya mereka nanti malam akan ke sini.”


“Jadi setelah itu Senja bakal di bawa dong sama keluarganya?”


“Mungkin, tapi nggak tahu juga soalnya Tante Tania sama Echa udah ngerasa bahagia banget sama Senja.”


“Ya udah gue ke rumah dulu, gerah nih mau mandi.” Biru menyodorkan ketiaknya kepada Ara membuat adiknya merasakan bau. Kakaknya hanya tertawa, baru kali ini mereka berdua bercanda bersama setelah sekian lama.


Tak lama setelah kepergian Biru, Echa dan ibunya keluar. Mengajak Ara masuk kedalam karena hari yang mulai gelap. Pukul 19.15, mereka sedang makan malam bersama, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Biru bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu, setelah dibuka ternyata yang datang Andi, Mamanya dan Oma.


“Eh Ndi, Tante, Oma,” ucapnya mencium punggung tangan tiga wanita didepannya.


“Lu nggak mau cium tangan gue Biru?” tanya Andi menyodorkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2