BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 39


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, terlihat Biru yang tengah berdiam ditempat duduknya sembari mencorat-coret meja dengan pulpen. Dia teringat akan perkataan Bara di depan ruang guru waktu pagi. Pikirannya menjadi gundah, dia benar-benar takut kehilangan Echa. Sosok wanita yang telah membuatnya berubah, tak hanya itu sang kekasih juga telah memberikan rasa nyaman mengingatkan kepada sang Mama yang telah tiada.


Echa melirik pada Biru yang masih saja diam walau sudah dia ajak bicara. Apa si ketua osis benar-benar akan menuruti perintah Bara agar menjauhi sang pacar? Andi menggelengkan kepala pada Echa untuk tidak mengganggunya, dia yang akan bicara pada si sahabat. Sedangkan Bara hanya tersenyum tipis, lalu cowok itu mengajak Echa untuk pergi ke kantin.


Awalnya gadis itu ingin menolak karena merasa tidak enak akan perasaan Biru. Namun, Bara memaksa mengatakan bahwa dirinya sangat lapar dan butuh teman. Hanya Echa saja yang dirinya kenal di sekolah itu. Dengan terpaksa Echa pun menurut pergi bersama Bara, dia melihat kearah belakang dan nampak Biru yang tersenyum padanya. Arka, Nadia dan teman sekelas lainnya hanya bisa melihat pemandangan itu semua dengan pertanyaan penasaran dalam benak masing-masing.


“Wahai pangeran es ku! Janganlah engkau bersedih, air matamu sangat berarti bagi tanah ini, jangan engkau buang dengan begitu saja,” ucap Andi sembari memperagakan orang layaknya sedang berpuisi. Beberapa siswa tertawa melihat tingkahnya begitu juga dengan Nadia yang langsung melempar buku padanya.


“Woy, Ndi! Lu nggak cocok kayak gitu, stop deh,” ujar Nadia.


“Aelah! Gue lagi mencoba menghibur pangeran es kita Nad. Nggak lihat apa nih anak dari pagi tadi wajahnya kusam terus, gue jadi curiga jangan-jangan dia lagi datang bulan.”


“Wah-wah makin nggak waras nih anak,” Nadia berjalan mendekat kepada Andi. Lalu setelah dekat gadis tomboy itu mencekiknya gemas. “Tuh anak cowok mana ada pms! Arrggg pen gue mutilasi lu Ndi.”


“Kok lu emosi Nad?” tanya Andi.


“Abisnya lu makin ke sini makin kagak jelas aja, makan apasih?” jawabnya.


“Kebetulan nyokap seminggu ini masak batu rebus. Jadi gue makan itu,” ujar Andi diiringi tawa renyahnya. Nadia tambah prustasi memiliki sahabat seperti Andi. Namun dia juga senang akan sifat cowok tersebut, dia satu-satunya orang yang paling setia akan sahabat-sahabatnya yang lain.

__ADS_1


Biru sedikit tersenyum melihat ocehan kedua sahabatnya. Lalu Arka mendekat dan merangkul si ketua osis. 20 menit kemudian bel masuk kembali berbunyi. Datanglah Echa dan Bara yang baru selesai makan di kantin. Kebetulan guru yang mengajar tidak datang membuat para siswa bebas. Mereka semua ada yang bercanda, menulis serta bernyanyi bersama. Saat sedang asik-asiknya, tiba-tiba saja Heru berdiri di atas kursi membuat teman sekelas memperhatikannya.


“Hello guys! Minggu ini gue ulang tahun, moga lu semua datang okay. Di tunggu, jangan lupa juga bawa pasangan kalian masing-masing,” ucapnya.


“Siap,” seru teman-temannya.


Andi dan yang lain saling memandang, mereka berpikir apakah akan datang atau tidak ke acara Heru. Sedangkan Bara sangat antusias ingin datang, dia mengajak Echa sebagai pasangannya. Gadis itu menelan ludahnya melirik samping.


“Aku bingung mau datang apa nggak, Bar. Takut nggak di izinin sama ibu, apalagi acaranya Heru malam.”


“Masalah Tante Tania biar gue yang urus. Pasti dia bakal izinin kok kalo lu perginya bareng gue,” ucapnya.


Dalam hati Biru berbicara dengan yakin. Dia tidak peduli akan perkataan Bara saat di depan ruang guru. Dirinya benar-benar sangat mencintai gadis itu.


Pukul 15.15, seluruh murid tengah bersiap untuk pulang. Mereka sibuk membereskan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam tas. Setelah selesai, Echa yang sudah berdiri akan pergi keluar tangannya digandeng oleh dua cowok tampan, yaitu Biru dan Bara.


“Pulang bareng,” ujar keduanya.


Andi, Arka, Nadia, Heru dan Sasa yang tepat di belakang ketiga orang itu langsung berseru wuuhh dengan kompak. Kelima orang itu saling pandang satu sama lain. Dan setelahnya Andi the geng menjauh dari dua manusia licik tersebut.

__ADS_1


“Ngapain lu ikut-ikutan aja,” tegur Andi.


“Dih,” seru Sasa menyunggingkan bibir.


“Stop Ndi! Lu nggak bakal kelar kalo harus ngehadapi dua orang gila ini. Mending cabut, si Biru udah duluan,” ujar Arka. Di parkiran Biru kembali mengajak Echa untuk pulang bersamanya karena rumah mereka yang berdekatan. Sedangkan Bara harus berputar balik jika mengantarkan Echa. Dengan begitu gadis itu pun mengangguk meminta Bara pulang duluan saja.


Setelah kepergian teman kecilnya, dia memandang si ketos. Tatapannya seperti ingin mengatakan sesuatu, namun dia tidak berbicara.


Echa naik dan Biru mulai melajukan motornya. Diikuti ketiga temannya, mereka terlebih dahulu mengantarkan Echa lalu lanjut pergi ke kedai Biru. Rencana keempat sahabat itu akan berkumpul dengan geng Galang setelah tahun lamanya tak bertemu. Kini sudah tidak ada lagi musuh diantara kedua geng tersebut.


Ditempat lain, Langit tengah bermain dengan Senja ditemani Ara. Jika Andi pergi sekolah maka adik Biru tersebut yang akan menjemput Senja kerumah sahabat kakaknya. Kedatangan Ara selalu disambut baik oleh keluarga Andi.


Suatu ketika, di saat Ara sedang membeli minuman. Dia tidak sengaja melihat dua orang laki-laki yang dahulu menculik anaknya. Sontak saja Ara memberikan dua botol air mineral itu pada Bu Miya untuk mengejar orang-orang tersebut.


Tanpa ba-bi-bu lagi Ara langsung saja memelintir tangan salah satu lelaki itu. “Dimana anak gue!” tanya Ara.


“Maksud lu apa?” jawabnya tanpa melihat siapa orang yang telah memelintir tangannya. Setelah berbalik badan dua laki-laki itu menelan ludahnya, sepertinya mereka ingat akan sosok Ara.


Belum sempat Ara kembali bertanya dua orang tersebut keburu melarikan diri dengan mendorongnya sampai jatuh. Bu Miya yang melihat itu sontak saja membantu Ara bangun dan bertanya siapa laki-laki tadi. Namun, gadis itu terdiam dia.

__ADS_1


Dia tak menyangka bertemu dengan dua penculik anaknya. Mungkin setelah ini ambisinya akan pencarian Nugraha kembali lagi. Dia benar-benar berharap jika putranya itu baik-baik saja. Ara pamit pada Bu Miya untuk membawa Senja pulang lebih awal. Tujuannya akan melapor kepada Biru jika baru saja dirinya bertemu dengan penculik Nugraha. Pasti kakaknya akan membantunya lagi mencari.


__ADS_2