BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 11


__ADS_3

Jam istirahat berbunyi, Biru tidak ikut dengan teman yang lainnya bermain di lapangan. Dia tengah sibuk memikirkan bagaimana caranya usaha cake yang sedang dia rintis itu semakin ramai. Tak hanya itu, lelaki nakal tersebut ingin membuka kedai lagi di tempat berbeda. Saat sedang melamun, sebuah pukulan dari belakang menghantam Biru. Setelah berbalik badan dengan punggung yang masih terasa sakit. Biru menatap tajam pada orang yang telah memukulnya.


Ternyata itu semua ulah Paris serta teman-temannya. Anak kelas sebelah masih belum puas dan kapok terus berurusan dengan si ketos. Tak lama perkelahian pun di mulai, Paris terkapar, dia terkena banyak pukulan. Teman-temannya juga babak belur atas ulah mereka sendiri yang berani melawan Biru. Noda merah menetes dari pinggir bibir si ketos.


Sampai bel masuk berbunyi, Andi, Echa, Arka dan Nadia belum melihat Biru kembali ke kelas. Mereka berempat khawatir karena keadaan Biru yang tidak baik sejak pagi hari. Guru telah memasuki ruang kelas siap untuk memberikan pelajaran, setelah 2 jam berlalu. Si Ketos itu masih belum menampakkan batang hidungnya.


“Kemana sih tuh anak,” gerutu Andi khawatir. Biasanya jika Biru ingin bolos pasti akan mengajak dirinya. Namun kali ini cowok yang selalu bersama itu tidak memberikan kabar sama sekali.


“Sabar Ndi, mungkin tuh anak bolos. Eh katanya dia mulai usaha ya? Dimana?” ucap Nadia.


“Di dekat sekolah SD Nirwana, niatnya nanti gue sama Ara mau sebar brosur buat bantu usaha dia. Tapi jangan bilang-bilang ya, soalnya tuh anak nggak mau ngerepotin gue.”


Arka dan Nadia mengangguk mengerti. Pada saat jam pulang akan berbunyi, Biru datang dengan wajah banyak memar. Echa langsung saja memegang luka itu tanpa disuruh. Andi mengernyitkan dahi melihat dua insan itu.


“Sedekat itu kah mereka sekarang? Apa jangan-jangan mereka berdua pacaran?” gumam Andi.


“Kamu kemana aja sih, Andi sama yang lain khawatir tahu,” ujar Echa sibuk melihat memar pada wajah tampan si ketos.


“Oh maaf, udah Ca gue bisa sendiri.”


“Nanti pas dirumah jangan lupa kamu kompres,” teriak Echa. Setelah Biru berkata seperti itu dia langsung cepat mengambil ranselnya. Pukul 13.00, Biru yang begadang karena membuat cake untuk besok berjualan, kini sudah siap pergi ke kedai. Baru saja sampai sudah terlihat banyak pelanggan yang sedang menunggu kedatangan Biru. Di antara banyaknya orang terdapat Sasa si murid baru. Gadis itu terus saja tersenyum membuat Biru risih. Ditambah dengan teman Sasa yang lain, dapat di dengar perbincangan mereka oleh Biru.

__ADS_1


“Gila, katanya isi sekolah lu yang sekarang banyak cogannya?”


Sasa menyimpan jari telunjuknya di bibir agar tidak terlalu berisik. Semua temannya mengangguk, lalu setelah itu mereka memesan cake dengan rasa strawberry. Biru melayani dengan baik dan ramah pada semua pelanggannya. Memberikan senyuman manis sampai membuat para gadis terpesona.


“Meleleh hati ini, jadi ingin pindah ke sekolah baru lu deh Sa. Tiap hari bisa lihat senyumanya, ahh.”


“Lebay lu, kek nggak pernah lihat cowok tampan nan manis aja,” ujar Sasa.


“Tapi gue akui sih dia tuh ganteng banget, tapi sayang kayaknya dia udah ada cewek, sekelas pula,” sambungnya.


“Sebelum jalur kuning melengkung gas terus Sa, gue dukung deh apalagi ganteng gitu.”


Tak lama kemudian datanglah Echa dan ibunya. Dua perempuan itu ingin melihat dagangan Biru, Sasa yang melihat itu langsung menunjukkan jarinya ke arah Echa memberitahu teman-temannya.


“Cantik juga ceweknya, eh itu sama Mak-nya guys. Wah kayaknya lu bakal susah deh ngedeketin tuh cowok. Orang mereka deket banget,” sahut yang lain.


“Apa sih yang nggak bisa Sasa dapetin. Kalian tunggu aja hasilnya, gue pasti bisa bikin Biru jatuh ke pelukan gue.”


Ditempat lain, Andi sedang terkepung oleh musuh geng motornya. Mereka ingin mengajak Biru bertanding malam ini, namun Andi tidak mau melakukan perintah anak-anak geng itu, dia tak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya. Karena dirinya tahu bagaimana sifat musuhnya.


Sampai dirumah, Oma kaget akan wajah cucunya. Dia memberikan banyak pertanyaan apa yang terjadi, tapi Andi malah terdiam tidak menjawab pertanyaan Omanya. Sore harinya, karena sang cucu yang belum menjawab pertanyaannya. Oma tidak berbicara sama sekali kepada sang cucu, dia sengaja melakukan itu agar Andi mau bercerita apa yang telah terjadi.

__ADS_1


Papa dan Mama Andi yang baru pulang kerja heran melihat ibu dan anaknya saling diam. Sang Papa mencairkan suasana dengan membuat lelucon, tapi sayangnya itu semua sia-sia.


“Ibu sama Andi kenapa?”


“Tanya sama anakmu,” jawab Oma. Mama Andi pun melirik pada anaknya, dia kaget saat tahu wajah Andi yang penuh memar. Terlihat raut wajahnya yang khawatir, dia terlalu sibuk akan pekerjaan.


“Kamu kenapa sayang? Berantem lagi hah?! Kan sudah Mama bilang jangan geng-geng—an lagi. Bandel banget jadi anak,” omelnya.


“Mama emangnya peduli sama Andi? Kalian tuh terlalu sibuk bekerja, hanya Oma yang peduli, Papa juga walau sedikit. Sedangkan Mama apa? Saat Andi butuh, ingin bercerita tentang masalah Andi, Mama malah pergi.”


Seketika butiran air mata keluar. Ternyata perkiraannya salah, Mamanya mengira jika Andi sangat bahagia, tapi nyatanya dia kesepian dan membutuhkan sosok ibu disampingnya. Papa dan Oma melihat perdebatan ibu juga anak itu hanya terdiam, memang benar apa yang Andi ucapkan jika Mamanya hanya mementingkan pekerjaan.


“Sudah Saras, lebih baik kamu ke kamar. Biar Andi Oma yang urus.”


Mama Andi pergi, di dalam kamar dia menangis di pelukan suaminya. Dan berkata ingin keluar dari perusahaan lalu mendidik dan menjaga putra semata wayangnya. Sang suami tidak bisa bisa memaksa keputusan istrinya, karena seharusnya dia lah yang harus mencari nafkah untuk keluarga. Diruang tamu, Oma mengusap lembut pundak Andi, marahnya sirna setelah kejadian tadi.


Malam harinya, Ara mendapatkan notif pesan dari Heru. Lelaki tidak bertanggungjawab itu meminta bertemu, beralasan ingin membahas soal kandungan Ara. Sepupu Biru pun menyetujuinya, dia pergi tanpa berpamitan kepada Echa sekeluarga. Sampai pukul 22.00 malam, Ara masih belum pulang kerumahnya. Membuat seisi rumah khawatir apalagi dengan keadaan mengandung. Biru yang mendapatkan kabar seperti itu langsung saja menyalakan motornya pergi mencari Ara yang tidak ada kabar.


“Lu kemana sih Ra? Udah enak diem dirumah malah kelayapan.”


“Gue nggak mau sesuatu terjadi sama lu, gue mohon balik Ra,” sambungnya.

__ADS_1


__ADS_2