
Heru tertawa sangat puas. Terlihat raut wajah Biru yang sudah memerah karena kesal. Dia tak segan menendang wajah Heru dengan keras, sembari terus memaki semua perbuatan yang telah cowok brengsek itu lakukan selama ini. Merusak masa depan para perempuan juga membuat Andi meninggal dunia. Bukannya merasakan sakit, dia malah meminta terus untuk ditendang dan dipukul oleh Biru. Sedangkan wanita yang berada disampingnya terlihat ketakutan dengan perbuatan Biru.
“LU CEWEK! BODOH BANGET SIH MAU AJA DI BUAT MAINAN SAMA COWOK GILA KAYAK DIA!!” omel Biru.
“MATI LU BRENGSEK!!”
“Hahaha, dengan lu kayak gini maka lu juga sama kayak gue. Harusnya si Ara aja yang gue bunuh, biar lu gila karena kehilangan adik tersayang lu itu.”
Saat Biru akan kembali menendang, tiba-tiba saja Nadia dan Arka datang menghentikan aksinya. Pasangan kekasih itu tidak ingin Heru sampai mati, karena jika itu terjadi Biru yang akan tertangkap. Nadia memeluk sahabatnya dari belakang, dia menangis. “Bi, cukup! Gue sama Arka nggak mau kehilangan satu sahabat lagi.”
“Lepas Nad. Gue nggak terima manusia gila ini masih hidup enak dan bermain wanita. Dia harus dikasih hukuman biar sadar!”
“Nggak! Sebelum lu berhenti mukul dia gue nggak bakal lepasin lu. Please, Bi! Kita berdua udah cukup kehilangan Andi, lu lupa apa yang Andi bilang terakhir kali ke lu? Dia minta buat lu jagain Senja sampai dewasa. Kalo misalkan dia mati dan lu masuk penjara pasti Andi sedih, jadi stop! Gue mohon.”
“Lagipula lu masih punya Ara. Dia nggak punya siapa-siapa lagi selain lu! Masih ada masa depan dan mimpi yang harus lu kejar, manusia kayak Heru cukup masukkan kedalam jeruji penjara aja cukup. Kalo misalkan dibunuh maka sikap lu nggak jauh beda sama dia,” sambungnya.
Biru terdiam akan ucapan Nadia. Benar, dia mempunyai adik yang harus dijaga. Masa depan yang harus dikejar, serta impian sang sahabat yang harus dia laksanakan. Nadia mengangguk mengajak Biru pergi dari tempat tersebut. Heru dibiarkan begitu saja dengan keadaan terluka akibat pukulan keras dari Biru serta Galang. Sedangkan wanita yang bersamanya telah dibebaskan terlebih dahulu oleh mereka semua. Sebelum pergi, Biru mengingatkan wanita tersebut untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi.
“Kita biarin aja tuh cowok di sana? Kalo kabur gimana?” ujar Arka.
“Nggak bakal bisa kabur,” jawab Galang. Dia yakin jika Heru tidak dapat melarikan diri dari tempat yang telah dia pilih. Biru juga akan datang ke sana untuk memberikan pelajaran pada cowok brengsek itu tapi tidak dengan membuatnya mati. Nadia setuju akan apa yang akan sahabatnya lakukan, satu hal yang Nadia peringatkan pada Biru yaitu tadi, tidak membuat Heru mati.
Padahal Biru bisa saja membunuh cowok itu, namun perkataan Nadia membuatnya sadar.
Sasa yang tidak mendapatkan kabar dari temannya yang tak lain Heru pun merasa cemas. Dirinya sudah beberapa kali menelpon namun tidak pernah tersambung. Sasa berpikiran jika saja Heru telah mati atau kabur dari kejaran Biru dan gengnya. Gadis itu benar-benar merasa takut, sebab dia terlibat akan kematian Andi. Keesokkan harinya benar saja ada mobil polisi yang mendatangi rumahnya. Semua keluarga merasa bingung mengapa para polisi itu mencari Sasa. Namun, setelah mendengar jika putrinya terlibat kasus pembunuhan berencana mereka semua shok. Tidak percaya dengan apa yang didengar.
“Urus anak saja kamu tidak becus! Bagaimana bisa seorang gadis terlibat dalam kasus pembunuhan?!” ucap Papa Sasa pada istrinya.
__ADS_1
“Itu semua didikan dari ibu kamu! Dia yang selalu melindungi Sasa saat terlibat suatu masalah. Bahkan anakmu itu hampir saja dikeluarkan dari sekolah karena tingkahnya yang seperti pelacur! Jangan salahkan aku, salahkan ibumu!”
“Apa-apaan kamu! Harusnya kalian berterimakasih padaku karena telah menyelamatkan anak kalian dari pengeluaran sekolah, bukan malah menyalahkan, dasar menantu tidak tahu diri!” seru nenek Sasa.
Sasa yang mendengar pertengkaran keluarganya hanya diam. Kini gadis itu benar-benar merasa bersalah. Dia telah melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan. Dia berjalan ke depan sana, tatapan sang Mama dan Papa begitu tajam padanya. Lalu setelah itu polisi membawa gadis tersebut yang tengah mengenakan seragam sekolah.
Di sekolah. Para murid mengucapkan belasungkawa pada Biru dan kedua temannya atas meninggalnya Andi. Mereka turut sedih, sikap Andi yang humoris dan gampang berteman itu membuat semuanya merasa kehilangan. Biru berterimakasih pada mereka. Tak lama salah seorang siswa datang dengan terburu-buru, dia memperlihatkan sebuah video.
Ternyata video itu tentang Sasa yang tertangkap polisi. Biru, Nadia dan Arka hanya bersikap biasa saja. Mereka tidak terlalu peduli akan berita tersebut sebab mereka lah yang telah melaporkan.
Echa yang penasaran mengambil ponselnya, lalu setelah itu melirik pada mantan kekasih. “Bi, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, apa boleh?”
“Ngomong aja Ca,” jawab Biru.
“Nggak di sini. Boleh di belakang?”
“Cowok kamu datang, kayaknya nanti aja Ca ngobrolnya.”
“Tapi, Bi.”
“Nggak enak Ca. Kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
Biru kembali lagi menuju kelas, Nadia yang melihat sahabatnya kembali dengan cepat langsung bertanya apa saja yang dibicarakan oleh Echa. Biru menggeleng, dia mengatakan jika dirinya tidak jadi mengobrol sebab ada Bara yang menghentikan. Nadia sedikit kesal, dia benar-benar tidak suka akan adanya Bara yang hadir dalam hubungan Biru dan Echa. Laki-laki itu telah merusak kebahagiaan sahabatnya.
Biru yang tak ingin membahas itu pun langsung mengalihkan Nadia ke pembicaraan lain. Dia mulai bicara tentang ujian yang akan mereka hadapi. “Ka, lu udah nemu universitas yang bagus?”
“Itu mah urusan bokap. Dia yang urus semuanya, gue sih tinggal belajar aja dan nurut.”
__ADS_1
“Gue mau punya usaha kayak lu, Bi. Enak ya masih muda udah punya usaha sendiri, sukses besar lagi. Minggu lalu bokap minta gue buat belajar sama lu, dia katanya bangga,” sambung Arka.
“Makasih bilangin ke bokap lu.”
“Kenapa lu nggak kuliah aja Bi bareng kita berdua. Lagipula usaha cake lu udah ada yang handle, Ara sama Galang pasti mau bantuin dan jaga kedai lu. Gue yakin! Di saat sekolah aja lu masih bisa buat atur waktu untuk jualan,” sahut Nadia. Biru mengangguk-angguk kepalanya. Memikirkan perkataan Nadia.
Arka mengacak rambut sang kekasih, akhir-akhir ini gadis itu selalu memberikan saran yang bagus untuk Biru. Dia memuji Nadia, mencubit hidungnya dengan gemas. Si ketos yang berada di sana merasa seperti nyamuk, dia tersenyum senang melihat hubungan Arka dan Nadia yang langgeng.
Sore harinya. Biru meminta Galang datang kerumah, dia ingin cowok itu membatunya mengurus kedai bersama Ara. Beberapa saat kemudian Galang hadir, dia melirik sebentar ke arah Ara. Nampak raut wajah gadis itu masih terlibat sedih.
Ditengah perbincangan terdengar suara mobil dari luar. Bara datang menjemput Echa dan kedua orangtuanya. Ternyata mereka semua akan melakukan makan malam bersama di rumah Bara.
“Kak Biru, kayaknya hari ini gue yang akan masak buat makan malam. Kalo gitu gue ke minimarket dulu buat beli beberapa makanan instan.”
“Gue temenin ya Ra,” seru Galang.
“Nggak usah Lang. Gue bisa sendiri kok, lagipula deket.”
Setelah kepergian Ara, Biru kembali melanjutkan obrolannya dengan Galang. Si ketos tahu jika mantan rivalnya itu masih menyimpan rasa pada adiknya. Pukul 18.00, Ara masih belum juga pulang kerumah. Sang kakak sedikit khawatir karena cukup lama adiknya itu pergi. Jika dia membeli makanan instan sudah pasti tidak akan lama.
Baru saja berdiri dari duduk pintu depan terbuka. Itu adalah Ara, gadis tersebut tersenyum sembari membawa beberapa bahan makanan.
“Kak, tadi aku lihat ada kak Andi di sana,” ucapnya. Biru dan Galang terdiam.
“Ra, Andi udah nggak ada. Mungkin lu salah lihat atau yang lu lihat itu orang lain.”
“Apaan sih kak, orang gue seriusan lihat Andi di sana. Dia tadi senyum ke gue, ganteng banget.”
__ADS_1
Sang kakak menelan ludahnya. Adiknya itu telah berhalusinasi.