
Biru mempersilahkan keluarga Andi masuk kedalam. Lalu dia izin untuk memanggil ibu Echa, setelah menunggu beberapa saat, Biru pun kembali bersama yang lain. Nek Ijah langsung to the poin pada mereka menanyakan keberadaan Tita. Bu Tania duduk dan mulai menjelaskan semuanya bahwa Tita telah meninggal dunia saat melahirkan.
Mendengar cucunya melahirkan nek Ijah sontak saja terkejut. Tak percaya jika cucu satu-satunya itu melakukan hal terlarang dengan sang kekasih. Bu Tania menggendong Senja dan memberikan bayi itu pada si nenek. “Ini anaknya Tita.”
Air mata tak dapat di bendung lagi melihat bayi yang kini dia gendong. Wajah Senja sangat mirip sekali dengan wajah Tita. Mama Andi memeluk nek Ijah, begitupun dengan Oma. “Terima kasih telah menjaga anak cucu saya. Bisa tolong antarkan saya besok ke kuburan Tita?” ujar nek Ijah.
“Bisa Bu, besok saya antarkan ke kuburan cucunya.”
“Jadi Senja ikut sama nenek Tita Bu? Padahal Echa sudah sayang banget sama dia,” ucapnya cemberut.
“Kan masih ada Nugraha sayang.”
“Ah iya ada Nugraha.” Mama Andi melirik kearah Ara yang sedang menggendong anaknya. Lalu bertanya siapa bayi tersebut, mendapat jawaban jika itu anak Ara keluarga Andi terkejut kecuali anaknya yang sudah tahu semuanya. Lalu Oma pun menanyakan kemana suaminya dan mengapa Ara tinggal bersama keluarga Echa. Bukannya menjawab gadis itu malah terdiam. Biru tahu bagaimana perasaan adiknya yang ditanya seperti itu.
“Dasar Oma, udah mending kita balik aja nggak enak terlalu malam bertamu. Kayaknya mereka juga mau istirahat,” seru Andi.
Mama dan Oma pun bangkit dari duduknya. Berpamitan pada keluarga Echa. Senja dibawa pergi, mereka hanya bisa memandang kepergian si bayi manis tersebut. Setelah kepergian keluarga Andi, Echa mengajak Ara masuk ke kamar menidurkan Nugraha yang sudah terpejam. Sedangkan Biru pamit kerumah sebelah. Pukul 22.00, Biru masih belum memejamkan matanya, dirasa tidak dapat tidur dia memutuskan untuk membaca buku pemberian Andi waktu itu.
Belum sampai 15 menit dia sudah tertidur lelap. Membaca buku satu menit terasa satu jam, sedangkan scroll beranda sosmed tidak tahu waktu. Di tempat lain, Heru seperti biasa tengah bermain dengan perempuan. Saat sedang asik-asiknya tiba-tiba saja seorang lelaki dewasa datang dan langsung memukulnya. Ternyata perempuan yang bermain dengannya itu telah memiliki suami. Wajahnya penuh memar akibat pukulan itu, sang Mama yang melihat wajah anaknya seperti itu langsung bertanya. Bukannya menyuruh sang anak untuk berhenti dia malah meminta Heru untuk balas dendam pada si lelaki yang telah menghajarnya. Heru mengangguk paham, dia berniat akan membalas semua pukulan itu besok.
Keesokkan harinya, matahari tidak terlihat. Hanya ada awan hitam yang sepertinya akan turun hujan di pagi hari. Orang-orang yang bekerja dan sekolah sudah bersiap agar tidak kehujanan di jalan. Begitupun dengan Biru dan Echa, keduanya semakin dekat setelah saling menyatakan cinta.
__ADS_1
Setelah kepergian Biru, pak Baba dan istrinya datang. Dia meminta maaf kepada Ara karena telah berlaku kasar. Kedatangan mereka berdua sebenarnya ingin meminjam uang kepada Biru, akhir-akhir ini rumah pak Baba selalu di datangi oleh debkolektor.
“Biru nggak ada, dia pergi sekolah.”
“Tolong nanti kamu sampaikan sama Biru jika bibi ingin meminjam uang padanya,” ucapnya dengan wajah memelas.
“Iya, tapi aku nggak tahu apa Biru mau meminjamkan uangnya pada kalian.”
“Kami mohon sekali, apa kamu tidak kasian pada kita berdua? Selama ini hidup kamu kami yang tanggung, jadi bujuk kakak kamu agar mau meminjamkan uangnya.”
“Akan ku usahakan,” jawab Ara datar. Pak Baba dan istrinya pergi. Lalu keluar ibu Echa, dia bertanya dengan siapa Ara berbicara. Tapi gadis itu tidak bilang jika sedang berbicara dengan paman dan bibinya, dia berkata jika berbicara dengan tetangga.
“Baiklah, kamu sana mandi. Biar Nugraha Tante yang urus.”
Pagi ini Ara dan ibu Echa akan mengantar nek Ijah ke kuburan Tita. Beberapa menit kemudian Ara keluar menghampiri Bu Tania dan tak lama sebuah mobil putih datang, itu adalah Mama Andi dan nek Ijah. Mereka berempat langsung berangkat karena cuaca yang mendung.
Di sekolah, Biru dan Arka sedang rapat bersama para anggota. Mereka sudah mempersiapkan semuanya untuk acara nanti. Pak Iman datang dia diperintahkan untuk memanggil Biru dan ketiga teman lainnya yang mendapatkan surat panggilan kemarin. Arka dan Nadia menepuk jidatnya lupa memberitahu kedua orangtuanya. Berbeda dengan Biru, biasanya sang bibi yang akan datang jika dia terkena masalah. Namun karena hubungannya yang sudah tak baik maka tidak ada lagi orang dewasa yang mengurus masalah di sekolah.
Biru pergi seorang diri ke kantor, sedangkan Arka dan Nadia menelpon orangtuanya.
“Ndi, nyokap lu udah dikasih tahu belum buat datang ke sekolah? Tadi pak Iman nyuruh gue buat ngasih tahu lu,” ucap teman sekelasnya.
__ADS_1
“Udah santai aja, nyokap gue nanti siang datang sekarang ada urusan dulu.”
“Ya udah kalo gitu,” ucapnya.
Sampailah Biru di ruangan kepala sekolah. Dia langsung dipersilahkan duduk, dan mulai menceramahi nya.
“Nak Biru bapak mohon untuk jangan berbuat nakal lagi disekolah. Walau bapak baru berada di sini menggantikan paman kamu, banyak para guru yang mengeluh pada saya soal nak Biru dan ketiga teman lainnya.”
Biru menundukkan kepala meminta maaf atas kenakalannya selama ini. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, sebelumnya pun dia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan berubah demi Ara dan kehidupannya. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut muridnya, si kepala sekolah merasa senang. Dia membolehkan Biru pergi kembali ke kelas.
Dijalan koridor, dia tak sengaja bertemu dengan Heru. Lelaki itu ternyata akan bersekolah di tempat yang sama dengan Biru. Mereka berpapasan, mata tajam dari si ketua osis menatap ke arah lelaki yang telah merusak masa depan adiknya. Senyuman kecil terlihat jelas dari wajah Heru, dia seperti menantang lelaki di depannya.
“Ayo Heru,” ajak Mamanya.
Kakinya kembali melangkah. Saat didalam kelas terlihat sahabatnya sedang bercanda ria sebelum bel masuk berbunyi. Biru teringat akan Ara, gadis itu seharusnya seperti teman-teman di depannya. Namun sayang hal buruk terjadi pada adiknya. Andi memanggil Biru yang tengah terdiam di depan pintu seketika dia tersadar dari lamunannya. Echa yang setiap harinya hanya diam kini sedikit berubah, dia begitu ceria.
“Kamu kenapa?”
“Nggak papa,” jawab Biru memberikan senyum.
“Sakit? Ke UKS aja, minta Andi atau Arka anterin.”
__ADS_1
“Aku nggak papa Ca, tenang aja nggak usah khawatir,” seru Biru mencubit kedua pipi kekasihnya dengan gemas. Mata-mata tajam dari para siswi termasuk Sasa menatap kearah pasangan tersebut.