BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 45


__ADS_3

Dua jam mereka menunggu akhirnya dokter keluar. Dengan nada pelan sang dokter mengatakan jika Andi telah meninggal dunia. Semua terdiam, Ara dan Mama Andi jatuh pingsan, Biru bersama Arka masuk kedalam melihat sang sahabat. Nampak wajah sahabatnya sudah sangat pucat, mereka berdua memeluk jenazah Andi. Keduanya tak dapat membendung air matanya, begitu juga dengan Papanya Andi.


Pukul 07.00 pagi, jenazah Andi dibawa kerumah. Oma pingsan setelah mobil memasuki area pekarangan. Para warga, keluarga Echa dan guru-guru sudah berada di sana. Biru, Arka dan Nadia belum tidur seharian, matanya terlihat sangat lelah dan sembab karena menangisi kepergian sang sahabat. Papa Andi menyuruh ketiga anak remaja tersebut untuk istirahat, namun Biru dan yang lain menolak. Dia ingin mengantarkan jenazah sang sahabat untuk yang terakhir kalinya.


Dilihatnya Senja yang sedang di gendong oleh pengasuh. Biru teringat akan pesan Andi di malam kemarin. Cowok itu memintanya untuk menggantikan tugasnya menjaga Senja sampai gadis kecil tersebut tumbuh dewasa. Dia menghampiri si pengasuh lalu mengambil Senja dari gendongannya.


“Mulai sekarang kak Biru yang akan menjaga kamu, Senja. Sebagai gantinya kak Andi,” ungkap Biru pelan pada gadis kecil itu.


Senja menatap Biru sebentar. Lalu pandangannya teralih kearah orang-orang yang tengah mengaji. Tak lama gadis itu ikut menangis saat melihat Mama Andi. Karena takut mengganggu, maka Ara berinisiatif untuk mengajak pergi Senja bersama Nadia.


Beberapa saat kemudian teman-teman geng motornya datang untuk melihat Andi yang terakhir kalinya. Hari semakin siang, jenazah siap untuk dimakamkan. Dari kerumunan itu Biru tak sengaja melihat keberadaan Heru dan Sasa dari balik pohon.


Nampak dua manusia licik nan jahat itu tersenyum, awalnya Biru ingin pergi menghampiri keduanya. Namun, dia dicegah oleh Galang, cowok itu menggelengkan kepalanya. Karena tak ingin membuat kegaduhan juga maka Biru menurut pada temannya tersebut. Dalam hatinya dia seperti sedang mengomel, menggerutu, dan mengutuk kedua orang itu jika kematian Andi berhubungan dengan mereka. Biru tidak terima akan kelakuan Heru dan Sasa, mereka telah melakukan kejahatan kriminal sampai membuat seseorang meninggal dunia.


Para warga dan guru-guru yang datang sudah membubarkan diri masing-masing. Kini di pemakaman tinggal keluarga Andi, Biru dan gengnya. Setelah cukup lama Papa Andi mengajak semuanya untuk pulang. Biru melihat lagi kearah pohon dimana Heru dan Sasa berada, namum keduanya sudah tidak ada di sana.

__ADS_1


“Malam ini kita bantu Papa Andi buat pengajian,” ujar Biru pada anak-anak lain.


“Siap, oh iya Biru. Tadi gue kayak lihat Heru sama Sasa pas di pemakaman,” jawab Arka.


“Gue juga lihat. Curiga kalo kematian Andi ada hubungannya sama mereka berdua. Kalo itu benar gue bakal balas dendam, sahabat terbaik kita mati begitu aja.”


“Sabar Bi, kita masih keadaan berduka. Masalah balas dendam kita bicarain setelah semuanya selesai,” sahut Nadia. Gadis itu mencoba menenangkan Biru yang sepertinya sangat marah.


Si ketos menghela napasnya berat, dia kehilangan seseorang yang sangat berharga. Andi merupakan teman terbaiknya, teman yang selalu ada di saat semua teman-temannya kesusahan. Lelaki humoris, pengertian dan selalu setia kawan. Biru tidak menyangka jika orang baik seperti Andi akan pergi dengan cepat. Meninggalkan dirinya, keluarga bahkan masa depan dan mimpi-mimpinya yang belum tercapai.


“Om salah, Andi cerita sama aku kalo dia bangga punya Papa kayak Om. Walau sibuk akan pekerjaan tapi Om selalu menyempatkan diri mendengarkan ceritanya. Andi juga mengerti, Om sibuk itu pun untuk kepentingannya. Buat masa depannya,” ujar Biru mengelus lembut punggung Papa sang sahabat.


“Makasih nak Biru, kamu memang sahabat Andi yang paling baik. Pantas saja Mamanya dan Oma sangat suka sama kamu, sekarang kita hanya punya Senja. Adik kesayangan Andi, Om akan lebih menyempatkan diri bermain dengan gadis kecil itu.”


Obrolan mereka berlangsung sampai larut malam. Ara yang di antarkan oleh Galang pulang kerumah, sedangkan Biru menemani Oma yang tidak dapat tidur. Di perjalanan Ara memeluk Galang dengan sangat erat, dia mengingat terakhir kalinya bersama Andi. Gadis itu terus menangis disepanjang jalan. Sesampainya di rumah, Ara turun dari motor, saat akan melangkahkan kakinya Galang menahan tangan gadis itu.

__ADS_1


“Jangan nangis lagi, Ra. Andi nggak bakal suka kalo lu terus-menerus nangis kayak gini. Dia pasti nggak mau lu terus larut dalam kesedihan,” ucapnya sembari menghapus air mata Ara.


Ara tak mengucapkan sepatah katapun. Dia tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah.


Galang melajukan motornya pelan, dia melihat mobil berwarna hitam tengah terparkir di dekat rumah Echa. Dirinya juga melihat keberadaan Heru dengan seorang perempuan didalamnya sedang bersenderan mesra. Galang turun dari motor, entah apa yang akan dilakukannya pada mobil tersebut.


Disisi lain, Arka, Nadia dan Biru melihat ponsel masing-masing. Mereka membuka galeri, nampak poto kebersamaan mereka yang tengah tersenyum bahagia. Masih tidak menyangka jika Andi akan pergi begitu cepat. Sebuah notif muncul dari handphone Biru, nomor yang tidak dia kenal memperlihatkan poto depan rumah Echa. Sontak saja Biru langsung berdiri membuat Papa Andi dan teman-teman lain merasa heran.


“Nyawa dibayar nyawa, gue nggak bakal biarin hidup lu enak begitu aja!


Biru bergumam, lalu dia pamit pada semuanya untuk mengecek rumah. Kiriman dari orang yang tak dikenal membuat Biru khawatir akan keadaan Ara dan keluarga Echa. Sesampainya di sana dia tidak melihat orang mencurigakan.


“Kemana tuh orang? Awas aja ketemu gue, mati lu!” gerutu Biru.


Beberapa saat kemudian sebuah notif kembali muncul. Kini Galang yang mengirimkan sebuah poto Heru bersama seorang wanita. Dalam pesan tersebut Galang berkata jika dirinya tengah memaksa Heru untuk mengaku jika dia lah dalang akan kematian Andi. Mendapatkan sebuah pesan seperti itu Biru langsung menuju lokasi Galang berada. Tak butuh waktu lama dia telah sampai di sebuah bangunan tua terbengkalai. Terlihat Heru dan wanita tak dikenal tengah terikat dan terbungkam.

__ADS_1


Biru berjalan menghampiri dengan wajah datarnya. Dia menatap tajam Heru, lalu mulai bertanya-tanya. Tanpa di duga, cowok brengsek itu mengakui kejahatannya. Dia telah menyuruh orang untuk menabrak Ara, namun yang kena malah Andi. Heru melakukan itu karena dia dendam pada Ara dan benci dengan gengnya Biru. Bahkan di saat orang suruhannya salah sasaran, Heru tidak mempermasalahkan hal itu, dia justru senang karena orang yang akan membuat Ara bahagia telah tiada.


__ADS_2