
Setelah mendapatkan poto Heru, Biru pun pamit pada Ara. Di sekolah seperti biasa lelaki yang menjabat sebagai ketua osis itu menjadi pusat perhatian para murid. Penampilan yang seperti berandal membuat para siswi terpesona padanya. Baju yang tidak rapi, rambut sedikit acak, serta menggunakan motor keren andalannya.
Selain itu, dia juga sangat dingin pada orang lain kecuali teman dekatnya. Saat melangkahkan kakinya tiba-tiba seorang siswi terpeleset. Sontak saja Biru yang tepat berada di sampingnya langsung menangkap tubuh siswi tersebut sebelum benar-benar jatuh ke tanah. Mata keduanya saling bertatapan. Andi, Arka dan Nadia melihat semuanya dari kejauhan.
“Tuh curut sama siapa?” tanya Andi.
“Nggak tahu, samperin aja lah daripada penasaran,” ujar Nadia. Mereka bertiga pun menghampiri Biru, nampak wajah siswi yang di tolong si ketos itu memerah.
“Ah sorry,” ucap Biru menyadarkan tatapan keduanya.
“Iya nggak papa, btw thanks ya.”
“Hem,” jawabnya lalu pergi. Andi dan dua teman lainnya yang baru saja sampai ditempat merasa kesal karena telah ditinggal kembali oleh Biru.
Didalam kelas banyak murid-murid yang sedang bergosip. Mereka semua membicarakan kejadian waktu tadi, namun setelah kedatangan Biru semuanya berhenti berbincang. Belum sempat si ketos duduk, sebuah tas melayang ke arahnya. Tas tersebut milik Paris, “Gue tantang lu buat tanding basket, jam istirahat gue tunggu kedatangan lu di lapangan.”
Biru tak menghiraukan perkataan Paris. Dia sibuk dengan ponselnya, tak lama datang Andi bersama Arka juga Nadia dan di susul oleh Echa. Keempatnya heran mengapa ada Paris di kelasnya.
“Biru, ngapain tuh anak datang? Ngajak lu berantem?” tanya Andi penasaran.
“Kamu nanya?” ucap Biru.
Nadia memukul tengkuk leher Biru. “Orang serius nanya juga! Biru prik.”
“Kepo ah kalian, sana hus balik ke meja masing-masing.”
Tanpa mereka sadari Echa terus memperhatikan, dia merasa ingin bergabung dengan Biru dan yang lainnya. Namun dirinya tak berani, seorang Echa gadis pendiam di sekolah ingin gabung dengan Biru. Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, seorang guru datang bersama murid baru. Para cowok yang ada dikelas bersorak akan kedatangan seorang gadis cantik. Semuanya mulai bertanya-tanya yang tidak penting sama sekali untuk ditanyakan.
“Hai, gue Sasa. Murid pindahan dari SMA 2LA, salam kenal semoga bisa berteman baik.”
“Baiklah Sasa kamu boleh duduk dibelakang Biru.”
“Gue Biru,” ujarnya. Pelajaran pertama berjalan dengan sangat lancar, tidak ada murid yang berisik dan lainnya. Membuat suasana kelas menjadi kurang menarik, banyak murid-murid yang tidur saat guru menjelaskan materi. Sampai pelajaran kedua, para murid mulai merasa senang karena guru yang mengajar merupakan orang yang selalu menghibur murid-muridnya.
“Paaakk Imaaann i love youuuu,” teriak salah satu siswi.
__ADS_1
“Istri bapak dirumah Dinaaa, maaf cinta kamu saya tolak,” jawab Pak Iman. Membuat para murid tertawa dengan kelakuan keduanya.
“Kecewa saya Pak, tapi nggak papa kok jadi istri muda juga, ikhlas saya.”
“Gimana kalo sama Tono aja?” ujar sang guru.
“Tono siapa Pak? Kalo ganteng gas, nanti saya kerumah bapak ketemu sama Tono.”
“Dia ganteng, putih, suaranya merdu. Kalo denger pasti kamu bakal terngiang-ngiang terus.”
“Kenalin dong Pak, minta nomornya.”
“Aduh maaf Dina. Tono nggak punya handphone, masa kambing di kasih handphone sih, gimana dia pakainya coba?” Perkataan yang baru saja Pak Iman lontarkan membuat para murid tertawa.
“Mamam tuh kambing,” ledek Andi.
Setelah puas bercanda dengan sang guru mereka semua memulai pelajaran. Tak terasa bel istirahat terdengar, orang-orang yang sudah menunggu suara itu langsung berkeluaran. Kecuali Echa, gadis itu malah mengeluarkan laptopnya lalu mulai mengetik novel. Di sisi lain, Paris dan teman-temannya sedang menunggu kedatangan Biru. Dia tak sabar ingin mengalahkan si ketua osis serta mempermalukannya.
Arka, Andi dan Nadia baru saja keluar dari kantin. Mereka melihat Biru yang sedang berkumpul dengan Paris di lapangan.
“Kayaknya mereka mau tanding basket deh, tapi kok si Biru sendirian?”
“Ikutan ah kali aja seru,” ujar Andi.
“Deal!” ucap Biru dan Paris sembari jabatan tangan. Pertandingan dimulai, suara teriakan membuat suasana lapangan menjadi ramai. Biru sedikit kewalahan karena dirinya hanya seorang diri. Untung saja Andi dan Arka cepat datang dan membantunya. Membuat pertandingan menjadi pas dengan jumlah pemain tiga orang.
Keringat terus mengguyur badan Biru, bajunya mulai basah lalu si ketos itu mengibaskan rambutnya membuat para siswi teriak akan ketampanan Biru. Paris berdecih mendengar nama Biru yang terus-menerus di sebut, dengan sengaja dia mendorong Biru sampai terjatuh.
“Biru lu nggak papa?” tanya Arka sembari membantu Biru bangun.
“Santai,” jawabnya.
“Sialan, mainnya kek gitu. Gue bales ah,” ujar Andi.
“Nggak usah Ndi, kita lihat aja siapa pemenangnya,” ucap Biru mencegah.
__ADS_1
30 menit sudah berlalu, pertandingan pun telah usai. Biru dan temannya memenangkan pertandingan tersebut. Paris memarahi kedua temannya, dia tak terima akan kekalahan.
“Sesuai janji, jangan jadi pengecut!” bisik Biru.
Paris kesal lalu menendang bola basket. Bola tersebut tak sengaja mengenai Sasa yang sedang duduk santai. Andi mengajak Biru untuk melihat keadaan Sasa, terlihat dahi gadis cantik itu merah. “Lu nggak papa?” tanya Andi.
“Gue nggak papa kok,” jawabnya. Matanya sibuk melirik Biru yang sedang berdiri menghadap jendela kelasnya. Ternyata dia sedang memperhatikan Echa yang duduk dikelas seorang diri.
“Ya udah kalo nggak papa, kita pamit ya.”
“Iya.”
Dari kejauhan Nadia berlari kecil, Arka terlihat heran dengan tingkah gadis tersebut. Biru yang di ajak Andi menolak untuk ikut, dia memutuskan pergi ke kelas. Penasaran dengan apa yang sedang Echa lakukan di sana seorang diri.
“Ekhem!”
“Ekhem, hem.”
Echa tak mendengar suara Biru, dia terus pokus akan laptopnya. Biru yang semakin penasaran pun langsung duduk di samping Echa.
“Serius banget,” ujarnya membuat Echa terkejut.
“Astaga Biru ngagetin aja ish.”
“Chaniaaa, chania a nya tiga. Bentar deh keknya gue pernah lihat nama itu, tapi dimana ya?”
Echa langsung menutup laptopnya, dia tak ingin jika Biru tahu akan hobinya. Lalu Biru mengeluarkan buku yang semalam Andi berikan padanya. “Nah ini, lu penulis Ca? Dan ini karya lu?”
“Eh, anu. Bukan kok mana ada aku penulis.”
“Nggak usah bohong lu, buktinya tadi? Ngapain coba sibuk sama laptop?”
“Hem iya, jangan bilang sama siapa-siapa ya. Aku mohon,” ujarnya.
Biru mendengarkan penjelasan Echa tentang dirinya yang tak ingin ada orang tahu bahwa dia seorang penulis. Echa takut orang-orang akan mengejeknya. Andi yang melihat keakraban sang sahabat dengan Echa mengintip dari balik jendela. Namun dia ketahuan gara-gara Nadia dan Arka yang terlalu berisik.
__ADS_1