
Di keesokan paginya. Ayah, Biru dan Echa pergi, mereka bertiga berangkat bersama menggunakan mobil. Setelah sampai di sekolah, seperti biasanya banyak para siswi juga siswa yang memperhatikan kedatangan si ketos dengan si gadis pendiam. Paris yang melihat Echa datang langsung menghampirinya dan menarik tangan. Dia sudah percaya bahwa hari ini Echa akan menerima cintanya. Tapi sayang gadis itu telah mencari tahu sendiri dan bertanya langsung pada ayahnya siapa perempuan yang di bonceng itu. Jadi Echa tak perlu lagi menunggu jawaban dari Paris dan juga menjadi kekasihnya.
Hati Echa terus memilih Biru, walau dia sadar tidak mudah untuk mendapatkan hatinya. Banyak saingan di luaran sana yang menginginkan menjadi pacar Biru. Echa hanya sadar diri saja, wanita biasa dan tak pandai berpenampilan menarik pasti akan kalah dengan wanita yang pandai merawat wajah.
Biru berjalan terlebih dulu meninggalkan Echa dan Paris yang tengah berbincang. Sebenarnya dia merasa penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Kemarin dirinya tak masuk sekolah, di lihatnya meja sudah banyak hadiah pemberian adik kelas serta teman sebaya yang menyukai dirinya. Biru menghela napasnya, dia sudah bosan melihat hadiah-hadiah itu. Padahal dulu sudah dia peringatkan orang-orang itu untuk tidak melakukannya dan seperti biasanya semua hadiah itu Andi dan teman Biru yang ambil.
“Lumayan juga nih, kebetulan gue belum sarapan. Btw kenapa lu nggak mau Biru?” ujar salah satu temannya.
“Dia mah gitu dikasih gratis nggak mau,” sahut Andi sibuk membuka bungkus coklat.
“Eh btw si Arka sama Nadia kemana? Tumben amat tuh anak berdua belum datang. Biasanya mereka paling rajin,” sambung Andi.
“Iya juga, nggak biasanya tuh anak telat. Coba lu telpon Ndi kok gue khawatir ya,” ucap Biru.
Andi pun menelpon Arka namun telponnya tak kunjung diangkat. Sudah tiga kali akan tetapi tetap sama, baru saja akan menaruh handphonenya suara dering terdengar.
Andi mengangkat telponnya napas Arka seperti menggebu-gebu didengarnya. Dia pun bertanya apa yang sedang Arka lakukan sampai suara napasnya terdengar keras. Di balik telpon Arka menjelaskan jika Nadia baru saja dibawa oleh orang tak mereka kenal menggunakan mobil. Mendengar itu Andi langsung memberikan handphonenya pada Biru.
“Lu dimana?” tanya Biru khawatir. Setelah mendapat alamat dari Arka, Biru mengangguk mengajak Andi untuk pergi dari sekolah. Belum sempat mereka keluar kelas, tiba-tiba saja guru datang.
“Mau kemana kalian?” tanya si guru.
__ADS_1
“Izin pak, kita berdua ada urusan penting. Nyawa taruhannya,” jawab Andi menyusul langkah Biru yang sudah pergi duluan.
“Hey! Andi, Biru kembali cepat!” teriak si guru.
“Urgent pak..., terserah bapak nanti mau hukum kita gimana juga. Sekarang izin dulu ya,” jawab Andi berteriak.
Si guru hanya menatap kepergian kedua murid nakalnya. Dia menggelengkan kepala lalu masuk kembali kedalam dan memulai pelajaran. Echa sebenarnya penasaran apa yang terjadi sampai dua sahabat itu pergi buru-buru meninggalkan sekolah. Sasa memperhatikan wajah Echa, dia diam-diam duduk disampingnya. Echa terkejut mendapati Sasa di samping tapi dia diam tak berbicara.
“Apa istimewanya dia sih, perasaan penampilannya biasa aja. Lebih menarik juga gue daripada dia,” gumam Sasa.
2 jam kemudian pelajar pertama selesai. Kini datanglah guru selanjutnya untuk mengajar, dia bertanya kepada Echa kemana Biru, Andi, Arka dan Nadia karena tempatnya yang kosong. Echa yang tak tahu keempat orang itu pun menggelengkan kepala. Didalam kantor, guru pertama yang mengajar sedang berbincang dengan guru lainnya. Dia menceritakan tentang Biru dan ketiga temannya yang sangat suka sekali bolos pelajaran.
Guru lain yang sudah terbiasa mendengar ocehan tersebut tentang si ketua osis serta antek-anteknya hanya manggut-manggut saja. Mereka seperti pasrah menghadapi keempat muridnya yang nakal itu. Walau sudah di peringati juga di hukum namun tetap saja mereka masih melakukan hal yang sama.
“Iya juga. Tapi tetap saja, jika mereka keseringan bolos dan kita membiarkan begitu saja pasti murid-murid lain akan seperti itu,” sahut guru lainnya.
“Nanti kita bicarakan saja pada pak kepala sekolah atau bikin surat panggilan buat orang tuanya.”
“Baik.”
Di sebuah rumah tanpa penghuni terdapat beberapa pria sedang berdiri. Memakai setelan hitam layaknya pengawal, didalam rumah itu ternyata ada Nadia yang tengah telentang di sebuah meja panjang. Mata tertutup, tangan terikat serta mulut di bekap membuat gadis itu tak dapat berbuat apa-apa. Nadia begitu ketakutan apalagi saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Suara seorang pria yang dia mintai tolong kemarin malam.
__ADS_1
“Dia cantik dan badannya bagus bos, kira-kira bakal laku berapa?”
“Sudah pasti mahal,” jawabnya.
“Tapi bos kelihatannya dia gadis tomboy terlihat dari penampilannya.”
“Tidak peduli dia gadis tomboy atau bukan, yang penting dia laku saja. Kalian jaga terus diluar jika tuan besar sudah datang maka beritahu saya.” Dua orang itu pun menurut pergi keluar, tanpa mereka sadari dari balik pohon ada seseorang yang tengah mengintip. Ternyata itu adalah Arka, dia belum berani jika tidak ada Biru dan Andi. Beberapa saat kemudian kedua temannya datang mengikut Arka yang sedang bersembunyi. Mereka bertiga memperhatikan sekitaran dan memikirkan rencana.
“Kok bisa sih Ka si Nadia dibawa orang?” tanya Andi.
“Gue juga nggak tahu Ndi.”
“Ya udah nggak usah banyak bicara, mending cepetan kita bawa Nadia pergi,” seru Biru.
Biru, Andi dan Arka berjalan pelan. Mereka lewat samping agar tidak di ketahui oleh orang-orang yang sedang berjaga. Namun sayangnya tanpa sengaja Andi menginjak sebuah botol aqua. “Ck! Lu jalan yang benar dong Ndi. Nanti ketahuan berabe, emangnya lu mau berantem sama mereka?” omel Arka.
“Ya sorry Ka, nih aqua juga kenapa ada di sini. Buang sampah kok sembarangan,” ujarnya menggerutu.
Biru menjitak kepala Andi yang menyalahkan aqua, padahal dia sendiri yang salah. Untungnya suara injakan itu tidak terdengar oleh orang-orang yang berjaga, mereka melanjutkan langkahnya dan sampai di jendela samping. Nampak di dalam sana Nadia yang sedang berusaha membuka ikatan pada tangannya. Arka mengepalkan tangannya kesal karena orang-orang tersebut memperlakukan kekasihnya seperti itu.
“Sabar Ka, kita harus pikirin rencana dulu. Lu mau babak beluk hah! Lihat mereka nggak sedikit, kalo misalkan lu gegabah maka habis kita,” tahan Biru.
__ADS_1
“Kasian Nadia Biru, gue nggak tega. Lagipula buat apasih mereka semua nyulik pacar gue?” ucap Arka.