BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 16


__ADS_3

...Happy reading all...


••


••


Ibu Echa melirik ke arah Ara. Gadis itu terdiam di saat Echa berkata seperti itu. Dia tahu bagaimana perasaan yang Ara rasakan, berhubungan dengan lelaki yang tidak bertanggungjawab.


Di tempat lain, Andi sedang membereskan dagangan Biru. Orang-orang semakin ramai berdatangan karena ingin melihat si penjual. Karena Biru tidak ada beberapa pelanggan sedikit kecewa tapi tergantikan oleh adanya Andi dan Arka. Dua lelaki tersebut tidak kalah tampan dari si ketos, banyak juga yang menyukai mereka berdua.


Nadia melihat Arka di goda oleh gadis lain langsung memasang wajah kesal. “Apaan sih caper banget tuh cewek.”


Andi tak sengaja melihat raut wajah Nadia yang kesal. Dia tersenyum jahil dan menghampiri Arka yang tengah sibuk. Andi berbisik menceritakan sikap Nadia yang seperti menahan api cemburu.


Di sisi lain Biru sedang mengikuti sebuah balapan liar, hadiah yang diberikan begitu besar. Dia berangkat ke tempat balapan bersama anak-anak geng motornya tanpa Andi.


Banyak para pemuda yang mengikuti balapan tersebut dan tak sedikit dari mereka yang mengetahui siapa Biru. Rival gengnya pun turut ikut akan lomba itu, mereka menyunggingkan senyum. Setelah kemarin-kemarin memukul Andi kini mereka berniat mencelakai Biru.


Balapan segera dimulai, semua yang ikut telah bersiap dengan motornya masing-masing. Seorang wanita menghitung angka mundur dan melemparkan sebuah kain ke atas. Di perjalanan salah satu anak buah dari rival Biru sengaja menabur beberapa paku. Untungnya Biru dapat melihat paku-paku yang berserakan tersebut. Dia menghindar lalu mempercepat motornya mengejar sang lawan. Tidak sampai 30 menit akhirnya Biru memenangkan balapan itu. Orang yang telah menabur paku kini terkena omel ketuanya karena telah gagal mencelakai Biru.


“Makanya sportif dong! Curang nggak akan pernah buat lu menang,” ucap Biru lalu melajukan motornya pergi. Sang musuh semakin kesal mendengar perkataan itu, dia meminta semua anak buahnya untuk mengejar Biru lalu menghajarnya.


Terjadilah kejar-kejaran di jalan membuat orang-orang merasa terganggu. Biru yang tidak ingin ada masalah dengan para warga memilih jalan rahasia. Menghilang dari kejaran rivalnya.


“Ughh! Gila si Galang, segitunya nggak terima kekalahan. Astaga gue lupa lagi ninggalin anak-anak yang lain.”


“Moga aja mereka bisa lolos, gue harus cepat balik ke kedai,” sambungnya.


Tak lama kemudian dia sampai di kedai miliknya. Melihat ketiga sahabatnya tengah sibuk. “Nad,” panggilnya.

__ADS_1


“Hem!”


“Lah tumben, why you?”


“Ish gue kesel Biru,” jawabnya sembari memukul meja pakai sendok.


“Sorry Nad, kalo lu mau balik silahkan biar gue yang urus nih kedai. Ajak Andi sama Arka juga, sekali lagi sorry ya udah ngerepotin.”


“Eh...eh. Gue bukan marah karena lu suruh jaga kedai, tapi gue kesel ngelihat tuh cewek deketin Arka,” ujarnya cemberut. Nadia tidak masalah menjaga kedai milik Biru.


“Oh gue kira lu marah karena jaga kedai gue Nad, santai aja si Arka nggak bakal tergoda. Tuh anak setia.”


“Setia kalo kata Emaknya,” sambung Biru tertawa.


Nadia melempar sendok yang dia pegang dan tak sengaja sendok tersebut mengenai seorang cowok. Sontak saja dia langsung meminta maaf dan si cowok menanggapi dengan sebuah senyuman. Kini Arka yang memasang wajah kesal melihat sang kekasih bersama cowok lain.


“EKHEM!” Nadia melirik ke arah Arka. Dia tahu jika cowok itu sedang menegurnya.


“Ara sebentar lagi kamu lahiran, berarti dirumah kita bakal ada dua orang bayi. Woahh! Pasti bakal rame, apalagi kalo mereka sudah besar,” ucap Echa.


Ara hanya tersenyum dia tak tahu harus bagaimana. Bayi yang bersamanya merupakan anak Heru, apa jadinya jika Biru tahu bahwa lelaki yang tidak bertanggungjawab itu melakukan hal sama kepada orang lain? Sampai anak dari si perempuan ikut pulang bersamanya kerumah Echa.


Mungkin setelah melahirkan Ara akan pergi dari sana. Terus menyusahkan orang lain merupakan beban baginya, tidak enak dan merasa malu.


Ara ingin hidup berdua bersama sang anak. Tapi apakah Biru mengizinkannya? Sebagai keluarga dia tidak akan membiarkan sepupunya hidup tanpa arah dengan anaknya.


“Tante, Ara boleh ngomong nggak?” tanyanya serius.


“Bicara aja, kenapa harus izin dulu? Sekarang kamu itu sudah Tante anggap seperti anak sendiri, jangan sungkan kalo butuh apa-apa. Echa dan Om juga tidak keberatan justru mereka akan senang bertambah dua keluarga.” Ara lagi-lagi di buat menangis. Sungguh mulia dan baik keluarga Echa. Orang sepertinya yang tidak dikenal di anggap keluarga oleh mereka.

__ADS_1


Istri pak Baba sedang memikirkan cara untuk membawa anaknya pergi dari rumah Echa. “Apa si Ara sudah melahirkan?” tanya pak Baba tiba-tiba membuat istrinya terdiam. Tidak menyangka suaminya itu menanyakan kabar sang anak yang telah dia usir.


“Kenapa memangnya Yah?” tanya sang istri penasaran.


“Kita sudah kehabisan uang Bu, kebetulan juga teman ayah istrinya ingin memiliki anak, gimana kalo kita jual saja bayi si Ara itu?”


“Ara nggak akan mau memberikan bayinya pada orang lain. Dia pasti akan merawat bayi itu sampai besar,” seru si istri.


“Memangnya dia bisa merawat seorang bayi? Hidupnya saja manja, merawat diri juga tidak bisa, bagaimana mungkin dia sanggup merawat anak haram itu!”


Perkataan suaminya memang benar jika Ara anak yang manja. Apa-apa harus orang yang melakukan seperti tugas sekolah Biru yang mengerjakan. Bagaiman bisa dia merawat seorang bayi? Si istri tersenyum dan setuju dengan ucapan suaminya. Mereka akan menjual bayi Ara setelah di lahirkan. Kini keduanya menyusun rencana untuk mengajak sang anak pulang kerumah.


......................


Hari semakin gelap, keempat sahabat itu sedang bersiap pulang. Setelah semua beres mereka menyalakan motornya.


“Gue duluan ya,” ucap Arka. Dia harus segera mengantarkan Nadia pulang karena sudah janji pada Papanya untuk tidak pulang terlalu malam.


“Oke Ka, hati-hati lu berdua,” seru Biru melambaikan tangan.


“Lu mau pulang apa gimana Ndi?” sambungnya melirik Andi.


“Gue nginep sama lu aja. Oma lagi ada di luar kota, gue sendirian dirumah.”


“Nyokap-bokap?”


“Sama, rumah sepi nggak ada orang kecuali asisten sama satpam. Dah lah yok balik nggak sabar lihat Echa nih,” ucap Andi. Seketika Biru menjitak kepala sang sahabat.


“Awas aja lu suka sama Echa, gue tampol!”

__ADS_1


“Hahaha santai mas bro. Gue nggak akan rebut gebetan sahabat gue sendiri. Masih banyak cewek yang antri mau sama gue,” jawabnya.


__ADS_2