
Matahari sudah mulai menampakkan wujudnya. Lelaki dengan seragam sekolah lengkap tengah berdiri di depan pagar. Dia menunggu Echa yang sedang berpamitan pada kedua orangtuanya. Hari ini entah mengapa dia ingin pergi sekolah bersama gadis yang sudah membuat hatinya itu tak karuan.
Setelah menunggu beberapa menit, gadis cantik dengan rambut di ikat mendekat pada Biru. Pagi yang cerah, wajah cantik polos tanpa polesan make up membuat si ketos melongo dibuatnya. Padahal setiap hari selalu bertemu, namun hari ini aura Echa sangat berbeda.
“Hey! Ayo berangkat, mau berdiri terus di sini hah!”
Biru yang terus memandangi wajah Echa akhirnya tersadar. Dia terlihat salah tingkah saat gadis di depannya menegur. “Eh iya, ayo berangkat,” jawab Biru.
Mereka berdua pun pergi sekolah bersama, kali ini Biru tidak membawa motornya karena Echa ingin berangkat dengan transportasi umum. Saat sudah berada di dalam angkot, salah satu penumpang lelaki yang seumuran dengan Biru berusaha menggoda Echa. Lelaki itu sengaja menyentuh pundak Echa, membuat gadis yang berada di sampingnya merasa risih, begitupun dengan Biru yang kesal melihat tingkah lelaki itu karena melecehkan temannya.
Ingin rasanya Biru menampar wajah lelaki tersebut. Namun, dia tahan karena banyak penumpang yang terus memperhatikan. Biru tak ingin mengganggu kenyamanan orang lain akan keributan yang dia lakukan. Begitu juga dengan Echa, dia hanya memperingati lelaki di sampingnya dengan pelan untuk menurunkan tangannya dari pundak. Padahal dalam hati dia sangat jengkel dan ingin memaki.
Tangan nakal itu pun turun, tapi bukan menyudahi aksinya, lelaki tersebut malah semakin berani dengan memegang pinggang Echa. Salah satu ibu-ibu yang berada di samping Biru menyenggol lengannya.
“Sudah keterlaluan tuh dek, kasian pacarnya jadi risih sama nggak nyaman,” bisik ibu tersebut.
Biru mengangguk pelan dan mengajak Echa untuk turun. “Ca ayo.” Echa langsung mengiyakan ajakan Biru, mereka berdua pun turun dan si lelaki juga ikut turun. Di pinggir jalan lelaki tersebut terus melemparkan senyuman pada Echa, Biru yang sudah muak serta merasa gatal ingin memukul lelaki itu langsung meluncurkan satu pukulan pada wajah si lelaki.
“Jangan ganggu cewek gue!”
“Cih! Dari sekolah mana lu berani mukul gue?” ujarnya dengan tatapan marah. Dia merasakan sakit atas pukulan yang diberikan Biru. Tidak mau berlama-lama dan tak ingin telat ke sekolah, Echa menuntun Biru pergi.
Jalannya di halang, lelaki dari sekolah sebrang tidak terima akan perlakuan Biru padanya. Dan akhirnya terjadilah pertengkaran, Echa bingung harus berbuat apa memisahkan temannya itu. Saat sedang beradu tinju Echa datang ke tengah-tengah. Membuat kedua orang itu seketika berhenti.
“Gue bakal beri perhitungan sama lu! Tunggu nanti,” ujarnya menunjuk.
“Nggak takut gue sama lu,” seru Biru.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di sekolah. Namun gerbang telah di tutup, Biru dan Echa telat masuk membuat keduanya harus menunggu di luar gerbang.
Tiba-tiba cuaca yang tadinya cerah berubah gelap, menandakan akan turunnya hujan. Benar saja, rintik hujan pun satu persatu turun, tidak ada satpam yang menjaga. Mereka berdua nekat masuk dengan memanjat gerbang.
“Ayo Ca, nggak usah takut rendah juga. Ntar gue tangkap,” ujarnya.
“Aku mana berani manjat, ck! Janji tangkap ya, awas aja kalo nggak, licin nih.”
“Iya santai aja.”
Echa naik lalu melompat, hampir saja roknya itu tersangkut. Dia bernapas lega walau sedikit malu karena berpelukan dengan Biru.
“Heh, heh! Kenapa kalian masuk?” tegur pak satpam memakai payung.
“Hujan lah pak. emangnya bapak mau kalo kita berdua sakit karena harus nunggu di luar? Terus kita nggak sekolah?” ucap Biru.
“Makanya lain kali jangan telat lagi, ya sudah sana masuk bersihkan seragam kalian.”
“Halah kamu ini, bapak sudah hafal. Kamu walau nggak pernah telat tapi suka sekali bolos. Sana masuk, abis itu jangan lupa datang keruang Bu Tuti.”
“Baik pak, terimakasih,” seru Echa.
Didalam kelas para siswa ricuh, mereka berhamburan ke dekat jendela melihat kedatangan Biru dan Echa. Lagi dan lagi rumor keduanya berpacaran kembali terbicara—kan. Sasa yang hanya mendengar perkataan teman sekelasnya hanya diam dan tersenyum kecil.
“Gue yakin seratus persen kalo tuh bocah berdua ada hubungan,” ujar Arka dengan percaya diri.
“Gue juga ngiranya gitu sih,” sahur Andi.
__ADS_1
“Gimana kalo kita cari tahu tentang mereka? Kali beneran pacaran gue sih seneng aja, secarakan selama ini tuh si Biru nggak pernah dekat sama cewek, terus si Echa juga sama. Kelihatannya juga mereka berdua cocok,” sambung Nadia.
Echa memakai almamater milik Biru, akibat hujan tadi baju Echa basah dan terlihat ketat. Biru tidak ingin para murid cowok memandang tubuh gadis yang telah baik kepadanya. Jantung Echa terasa sedang berlari, tak kuasa melihat ketampanan Biru dari dekat. Ya, wajah keduanya hanya beberapa senti saja, apa yang di rasakan Echa sama juga dengan Biru.
Setelah selesai mereka pergi keruangan Bu Tuti. Di sana, guru itu meloloskan keduanya, tidak di berikan hukuman. Echa senang, karena selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan yang namanya hukuman, seperri berdiri di depan tiang bendera, membersihkan toilet dan lainnya.
“Makasih Bu,” ujar Echa bahagia.
“Sana masuk kelas,” jawabnya sedikit judes.
•
•
•
“Tante, perut Ara sakit banget kenapa ya?”
“Kita periksa aja ya? Takut terjadi apa-apa sama kandungan kamu.”
“Iya.” Ibu Echa bersiap mengantarkan Ara kerumah sakit untuk periksa kandungan. Mereka berdua berjalan kaki mencari taksi, setelah menunggu sekitar 5 menit keduanya pun berangkat.
Didalam mobil Ara mengeluh pada ibu Echa. Semua ketakutan yang ada di dalam dirinya dia keluhkan, Ibu Echa paham karena dia juga pernah berada di posisi itu, namun apa yang Ara rasakan mungkin sedikit berbeda sebab ayah dari si anak tidak menginginkannya.
Ibu Echa terus menghibur Ara dan tak lama mereka sampai. Saat sedang menunggu namanya di panggil, Ara duduk bersebelahan dengan gadis seusianya. Dia juga sedang dalam keadaan hamil, raut wajahnya terlihat sangat sedih. Ingin sekali Ara bertanya kemana suaminya, tapi dia merasa tidak enak.
“Periksa juga nak? Ibu atau suaminya di mana?” tanya ibu-ibu di sebelah kiri si gadis. Ara dan ibu Echa hanya menyimak perbincangan mereka saja.
__ADS_1
“Saya sendirian Bu,” jawabnya tersenyum lalu menundukkan wajah.
“Bentar lagi lahiran ya?” tanya ibu-ibu itu lagi. Baru saja di tanya seperti itu gadis tersebut merasakan sakit luar biasa seperti ingin melahirkan. Para suster berhamburan menghampiri gadis itu lalu membawanya masuk.