BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 17


__ADS_3

Di sebuah tempat terlihat Heru sedang bersama seorang wanita. Mereka berdua begitu mesra tidak memperdulikan orang yang ada di sekitarnya. Bak suami istri keduanya tak segan berciuman dan berpelukan. Laki-laki brengsek itu masih belum puas bermain-main dengan wanita. Padahal Mamanya sudah memperingatkan untuk tidak mengulangi perbuatannya.


Di usinya yang masih muda sudah berprilaku buruk. Bermain wanita, bertengkar dengan orang dewasa serta memakai narkoba. Itu semua dia lakukan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Hanya Mamanya saja yang tahu jika Heru sudah menghamili dua wanita, yaitu Ara dan Tita.


“Tenang! Berapapun yang kamu mau akan aku kasih,” ujarnya menggoda sang wanita.


“Seriusan? Lebih baik kita bermain didalam, di sini terlalu banyak orang,” sahur si wanita dengan liarnya.


Mereka berdua pun pergi masuk kedalam ruangan yang ada di tempat itu. Ya! Keduanya melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi. Mungkin setelah Heru puas dia akan memperlakukan wanita tersebut seperti Ara juga Tita, meninggalkannya dan tidak mau bertanggungjawab. Wanita yang sedang bersamanya merupakan kekasih baru yang dia temui lewat media sosial.


Sungguh wanita bodoh, belum lama kenal namun sudah mau di ajak berhubungan yang seharusnya tak mereka lakukan.


“Nak Biru Tante boleh minta tolong tidak?”


“Minta tolong apa Tan?” tanyanya. Kebetulan Biru dan Andi sedang berada diluar, mengobrol berdua sembari menikmati segelas kopi.


“Ini kan belum terlalu malam, coba nak Biru belikan susu formula untuk bayi di toko sana, bisa kan?”


“Susu buat bayi? Apa Ara sudah melahirkan Tan? Bukannya kata Tante nanti ya?”


“Bukan bayi nak Ara, tapi bayi lain. Bisa kan belikan susunya? Tante butuh soalnya tadi siang nggak sempat beli.” Biru menganggukkan kepalanya tanda bisa. Di temani Andi, dia pergi ke toko yang Bu Tania tunjukkan. Sesampainya di sana, kedua cowok itu bingung harus membeli susu yang mana. Untung saja ada seorang perempuan yang juga sedang belanja. Biru meminta si perempuan itu untuk memilihkan susu terbagus untuk bayi.


“Sudah punya anak toh? Kirain masih sekolah, wajahnya masih muda ternyata sudah nikah.”

__ADS_1


“Eh,. nggak Bu. Bukan buat saya tapi Tante saya. Makasih ya Bu sudah mau bantu,” jawab Biru malu. Andi tertawa melihat wajah sahabatnya.


“Asal lu tahu, pas gue anterin si Ara kerumah sakit, si dokter juga nyangkanya gue suami sepupu lu. Parah kan?”


“Mampus! Eh tapi bentar..., gue sih setuju aja kalo misalkan lu nikah sama si Ara, hahaha.”


“Mata lu! Ogah nikah sama Mak lampir. Sepupu lu itu ngeselinnya minta ampun, galak, terus....”


“Terus? Dia hamil?” sambung Biru. Andi menelan ludahnya mendengar ucapan sang sahabat. “Bukan, maksud gue bukan itu,” ujar Andi.


“Gue ke kasir dulu lu tunggu aja di luar.” Andi merasa tidak enak dengan Biru. Maksudnya bukan itu, dia sama sekali tidak bermaksud untuk berkata apa yang telah Biru ucapkan barusan. Tak berapa lama Biru pun keluar, mengajak Andi untuk pulang memberikan susu bayi secepatnya kepada ibu Echa.


Di tengah perjalanan kedua lelaki itu tak sengaja melihat orang tua Ara yang sedang berjalan menuju rumah Echa. Biru menebak jika mereka ingin menjemput anaknya, dia pun mengajak Andi untuk mempercepat motor agar segera sampai dirumah dan memberitahu Ara jika orang tuanya akan datang.


“Emang anak nakal. Hobinya main dimalam hari,” seru pak Baba. Keduanya mempercepat langkah mereka agar segera sampai dirumah Bu Tania. Tempat anaknya di rawat, pak Baba akan berpura-pura meminta maaf kepada Ara dan bersikap baik supaya anaknya itu mau ikut pulang bersamanya.


Pukul 22.00, Ara sudah terlelap. Sedangkan Echa menemani sang ibu mengurus bayi yang kini telah terbangun. Kedatangan Biru sudah ditunggu karena si bayi merasakan haus. Bu Tania pun langsung menuju dapur membuatkan sebotol susu.


“Udah cocok Ca lu jadi ibu,” kata Andi.


“Iya kah? Kamu juga udah cocok jadi Ayah. Becanda Ndi,” ucap Echa.


“Hem! Ara dimana?”

__ADS_1


“Dia udah tidur, mau aku bangunin atau nggak?” jawab Echa. Biru menggeleng dengan cepat dia tidak ingin mengganggu tidur sepupunya. Sedang asik berbincang suara ketukan pintu terdengar. Andi mengintip lewat jendela ternyata orang tua Ara yang mengetuk. Biru sudah menduganya, mereka pasti akan menjemput sang anak.


Datanglah ibu Echa sembari membawa sebotol susu. Di susul sang suami yang bertanya siapa orang di luar bertamu dimalam hari. Biru pun menjawab jika yang datang adalah kedua orang tua Ara. Ibu Echa melangkahkan kakinya membuka pintu. Baru saja dibuka, ibu Ara sudah bersujud sambil menangis memohon agar anaknya bisa di bawa pulang. Hal itu sontak saja membuat Biru, Andi serta yang lain terkejut. Tidak menyangka ibu Ara akan melakukan hal itu.


Ayah dan ibu Echa merasa tidak enak dengan apa yang di lakukan ibu Ara. Pak Baba tak ingin kalah dari sang istri, dia pun memohon kepada keluarga Echa dengan mengeluarkan air mata palsu. Mendengar suara ramai di depan rumah Ara terbangun dan mengintip. “Ayah?” gumamnya.


Ara keluar dari kamar menghampiri orang-orang yang sedang berkumpul. Biru berharap agar sepupunya itu tidak terbangun, tapi nyatanya dia malah keluar dengan sendirinya. Melihat sang anak datang kedua orangtuanya langsung memeluk. Ara menelan ludah tak percaya, dia mencoba melepas pelukan itu.


“Maafin kita ya sayang, pulang yuk,” kata ibu Ara.


“Iya nak, Ayah sudah tidak marah lagi sama kamu. Ayo ikut kami pulang kerumah,” seru pak Baba.


Gadis itu melihat ke arah keluarga Echa juga kepada Biru. Meminta saran mereka apakah harus ikut pulang bersama kedua orang tuanya atau menetap di rumah Echa sampai melahirkan? Dia benar-benar bingung akan pilihannya. Sedangkan orang-orang yang di pandangnya masih terdiam.


“Maaf Bu tidak enak bicara di luar malam hari. Mari masuk bicarakan didalam saja,” potong ibu Echa.


Mereka masuk, Echa menyuguhkan minuman kepada orang tua Ara. Biru menghela napasnya lalu angkat bicara pada paman dan bibinya. “Apa kalian benar-benar mau merawat Ara serta bayinya?”


“Jelas Biru. Kita berdua orang tuanya sudah pasti akan merawat anak serta cucu kita dengan baik. Kita sudah melupakan semuanya, jadi ayo pulang sayang.”


“Nggak! Ara nggak akan pulang lagi kerumah. Lebih baik tinggal luntang-lantung di luaran sana daripada harus pulang bersama kalian!” ucapnya menolak ajakan sang ibu. Ingin rasanya pak Baba memarahi Ara namun dia tahan.


“Ayo nak rumah serasa sepi jika kamu tidak ada. Ibu sama Ayah minta maaf,” bujuk sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2