BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 47 (END)


__ADS_3

Biru hanya mengiyakan saja perkataan dari Ara, dia tidak ingin adiknya itu marah atau kesal kepadanya karena tidak mempercayai. “Gue balik dulu kalo gitu, Bi. Kapan-kapan ngobrol lagi, kalo butuh sesuatu bilang aja ke gue,” ujar Galang.


Jam telah menunjukkan pukul 21.00 malam. Keluarga Echa baru kembali dari rumah Bara. Bu Tania tersenyum menyapa Biru yang sedang duduk berdua bersama Ara di depan rumah. Wanita tua itu meminta maaf karena tidak meninggalkan makanan untuk keduanya makan malam. Biru membalas senyuman tersebut. Ara ikut masuk bersama Echa, gadis itu tidak berani tinggal seorang diri dirumah orang lain.


“Apa gue beli rumah sendiri aja ya? Tinggal jauh dari Echa, gue nggak kuat kalo harus lihat kedekatan mereka berdua. Lagipula uang yang selama ini ditabung udah cukup banyak,” pikir Biru. Uang yang dihasilkan dari usahanya sudah bisa untuk dirinya dan Ara membeli rumah baru, tidak harus merepotkan keluarga Echa lagi walau rumah yang sekarang diberikan kepadanya.


Biru berniat mencari rumah yang sederhana untuk dia tempati bersama Ara. Dia benar-benar akan pindah dari rumah pemberian Bu Tania.


Pagi harinya seperti biasa dia bersiap pergi ke sekolah. Namun, sebelum benar-benar berangkat Biru terlebih dahulu mampir ke tempat Heru. Dia ingin memastikan jika cowok itu masih berada di tempat. Sekalian ingin memberinya makan dan minum. Sesampainya di sana, Biru disambut dengan senyuman dari mantan sang adik. Melihat Heru tersenyum seperti itu membuat Biru ingin memukul wajahnya.


“Tunggu giliran lu masuk ke penjara, Sasa udah nunggu di sana!”


“Mending gue mati daripada harus masuk ke penjara!”


Biru terkekeh mendengar perkataan Heru, sebenarnya itu lah keinginnya untuk membunuh, tapi jika Heru berada didalam penjara mungkin akan membuat cowok tersebut menderita secara perlahan-lahan.


Setelah menjenguk musuhnya Biru pun pergi kesekolah. Nadia dan Arka yang sampai duluan menunggu kedatangannya di parkiran. Mereka bertiga kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa, tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.


••


••


••


Di saat ujian akhir akan segera datang. Ketiganya disibukkan dengan belajar bersama. Mereka ingin mendapatkan nilai bagus untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Kegigihan mereka bertiga mendapatkan pujian dari para guru. Bahkan kepala sekolah yang sering memarahi Biru akan kenakalannya pun ikut bangga atas kerja keras muridnya. Dia tidak menyangka sosok Biru dapat memotivasi murid-murid lainnya.


Satu bulan kemudian.....


Dimana hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Para murid berpakaian rapi untuk mengikuti ujian akhir semester, mereka sangat bersemangat. Saat siswa lain tengah pokus akan soal yang mereka kerjakan, Arka malah disibukkan dengan tingkah-tingkahnya yang absurd. Mantan wakil ketua osis itu sedang mencoba menggoda Biru, Nadia yang duduk disebelah mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Sebuah penghapus melayang menuju meja Arka. Pak Iman yang menjaga kelas memicingkan matanya kepada cowok itu. Sedangkan Arka yang memang telah menyelesaikan ujiannya terkekeh akan gurunya tersebut.


Bel istirahat berbunyi, para murid mulai berkeluaran. Paris datang ke kelas Biru sambil memperlihatkan sebuah video.


“Lah? Kok bisa sih tuh anak keluar?” ujar Nadia mengerutkan kening.


“Orang kaya bisa aja bayar kepala kepolisian atau melakukan cara lain buat membebaskan anaknya. Dan sekarang Sasa juga harus menanggung kesalahan Heru,” jawab Paris.


“Lu dapat video ini darimana? Heru sendiri kah yang kirim ini?” tanya Arka. Paris mengangguk sedangkan Biru hanya terdiam, dia tak menyangka jika Heru bisa bebas begitu saja setelah dia masukkan ke penjara.


Satu bulan yang lalu, setelah Biru pulang dari sekolah, dia dan teman gengnya berkumpul di kedai untuk membicarakan Heru. Nadia yang tidak ingin Biru berlama-lama mengurung cowok brengsek itu meminta si ketos untuk segera memasukkannya kedalam penjara. Perkataan itu disetujui oleh teman-teman lainnya.


Kembali ke bulan sekarang, Biru sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Heru. Lagipula cowok itu telah pergi ke luar negeri. Di kantin sekolah, lagi dan lagi Arka berbuat konyol didepan teman-temannya. Nadia dan Biru hanya tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah Arka yang sekarang. Biasanya yang melakukan hal itu Andi, namun sosok cowok itu telah tidak ada.


Tanpa sadar, Nadia menitikkan air matanya. Dia teringat sahabat satunya. Biru yang berada disamping mengusap air mata Nadia. Dia tahu betul bagaimana perasaan teman perempuannya. Andi adalah orang yang selalu menghibur Nadia walau terlihat seperti sedang bertengkar.


Satu tahun lebih Biru sudah memiliki dua kedai cake. Jika semua usahanya terus berjalan dengan lancar, maka dia berniat segera membeli rumah baru dan tinggal lebih dekat dengan tempat kuliahnya. Sikap Ara pun setelah satu bulan ini cukup membaik, dia sudah tidak berhalusinasi tentang Andi lagi. Sejak kedekatannya dengan Galang, gadis itu kembali ceria.


Pada suatu ketika, Ara mendapatkan sebuah notif pesan dari orang yang dulu pernah main bersamanya. Yaitu, Bu Miya, Mama Langit. Anak cowok yang selalu membuat Ara nyaman berada disampingnya. Kebetulan juga di sana terdapat Senja yang tengah bermain bersama Galang dan anak gengnya. Akhirnya mereka berdua saling berkomunikasi lewat video call, Bu Miya memperlihatkan Langit kepada Ara. Betapa senangnya adik Biru itu setelah melihat Langit lagi, yang tak lain anaknya sendiri.


“Senjanya mana nak Ara?”


“Oh, Senja ada kok lagi main.”


“Main sama nak Andi?” ujarnya. Ara terdiam, Bu Miya yang belum tahu tentang Andi pun kembali bertanya.


“Ada apa nak Ara? Apa perkataan tante ada yang salah?”


“Eh nggak ada kok tan, sebenarnya Andi udah meninggal. Senja lagi main sama Galang, temannya kak Biru.”

__ADS_1


“Astagfirullah, innalilahi wa innailaihi rojiun, tante turut berduka.”


Ara tersenyum, dia mengangguk. Lalu memanggil Senja yang sedang digendong Galang. Gadis itu memperlihatkan wajah Langit pada Senja, dan betapa senangnya gadis kecil tersebut saat melihat temannya lagi. Keduanya begitu bahagia dipertemukan kembali walau lewat video call. Tak lama datanglah Biru dan kedua temannya. Melihat sang adik, Senja serta Galang yang duduk bersama membuat Biru senang, dia lalu menghampiri mereka bertiga lalu melihat anak kecil cowok yang tengah tersenyum.


“Bukannya itu anak kecil yang dekat sama lu, Ra?” tanya Biru membuat adiknya berbalik.


“Ngagetin aja ih. Iya, dia ternyata pindah ke luar negeri. Kangen rasanya sama dia, nggak tahu kenapa ya kak.”


Biru mengelus rambut adiknya dengan lembut. Belum sempat dia mengucapkan kata halo, tiba-tiba saja sambungan sudah terputus. “Kakak sih ah, jadi terputus kan.”


“Dihh..., salah gue apaan hah? Orang tadi cuman mau nyapa doang terus sambungannya putus.”


“Kak...,” seru Ara dengan wajah serius. Biru menatap mata adiknya, gadis didepannya itu seperti ingin mengatakan sesuatu.


“Apa? Ingat Nugraha kah? Sudah kakak bilang, jangan cemas. Berdoa aja kalo Nugraha selalu dalam lindungan Tuhan. Lu harus yakin itu, dia pasti baik-baik aja dimana pun dia berada.”


“Iya Ra, doa seorang ibu untuk anaknya pasti akan terkabul. Jangan pernah lelah buat doain Nugraha dimana dia berada, lambat laun pasti Tuhan bakal mempertemukan lu lagi sama Nugraha,” sambung Nadia merangkul Ara.


Setelah perbicangan itu mereka berkumpul bersama. Menghabiskan waktu dengan menikmati pemandangan di sore hari. Kebersamaan mereka semua seperti ada yang kurang, yaitu teman satunya yang sudah tiada. Biru, Arka dan Nadia yang memang sahabat paling dekat tersenyum melihat indahnya langit. Mereka bertiga berdoa dalam hatinya masing-masing untuk sang sahabat.


Disisi lain, Echa dan Bara telah berangkat ke Aussie. Bu Tania dan Pak Rangga baru saja mengantarkan mereka berdua. Dalam perjalanan pulang tak sengaja melihat pak Baba dan istrinya yang tengah duduk dipinggir jalan. Orang tua Echa yang cukup mengenal pun meminggirkan mobilnya untuk menghampiri paman dan bibi Biru. Tanpa diduga, Bu Tania menawarkan rumah yang dulu Biru tempati dengan Ara pada mereka berdua jika rumah tersebut telah kosong.


Dua minggu kemudian Biru dan Ara telah mendapatkan rumah baru yang cukup untuk mereka berdua tempati. Mereka berpamitan pada keluarga Echa yang selama ini telah baik dan mau menerima Ara di rumahnya.


Rumah yang telah Bu Tania berikan dikembalikan lagi kepada pemiliknya, dia merasa jika kebaikan yang telah diberikan padanya sudah lebih cukup. Oleh sebab itu orang tua Echa memberikan rumah tersebut pada paman dan bibinya Biru. Sungguh orang yang sangat baik, mereka tidak pernah menyimpan rasa dendam atau apapun. Selalu menolong orang yang belum mereka kenal. Namun sayang, mereka tidak merestui hubungan anaknya dengan Biru, sebab telah mereka anggap sebagai anak sendiri dan tidak lebih. Mereka tetap dengan perjodohan yang telah direncanakan sejak lama dengan keluarga Bara.


Walau begitu kini kehidupan Biru dan Ara sudah lebih cukup dari kata bahagia. Mereka bahagia memiliki sahabat yang sangat baik serta peduli dan usaha yang selalu lancar. Dua adik kakak itu berdoa agar dikemudian hari tidak ada lagi masalah atau hal lainnya yang membuat mereka berdua kembali dalam kesedihan.


...~END~...

__ADS_1


__ADS_2