
Bu Tania dan Pak Rangga menyelesaikan makannya duluan. Habis itu mereka berdua pergi kedepan melihat lelaki yang dimaksud Biru. Sedangkan dimeja makan, si ketos bertanya pada kekasihnya.
Diruang tamu, nampak mereka bertiga mengobrol serius. Biru yang akan kembali kerumah samping pun menjadi penasaran, apalagi disaat Bu Tania menceritakan Echa pada laki-laki tersebut.
Jantungnya berdegup kencang, pikirannya kemana-mana. Sesuatu yang sangat Biru takuti adalah berakhirnya hubungan dia dengan Echa. Karena tidak sopan terus berdiri didekat mereka mengobrol, Biru segera pamit. Setelah kepergian si ketua osis, Echa dipanggil oleh ibunya. Putrinya pun duduk disamping sang ibu, lalu berkenalan dengan cowok didepannya.
Nama cowok itu adalah Bara, anak dari sahabat ayah Echa.
“Hay, Ca. Masih inget gue nggak?” tanyanya ramah.
“Siapa?” tanya balik Echa mengerutkan kening.
“Ini loh Bara, Ca. Teman kecil kamu masa lupa sih.”
“Oh Bara, wah ganteng ya sampe aku nggak kenal. Gimana kabarnya?” seru Echa.
Ara yang berada dikamar merasa penasaran mengapa begitu seru diruang tamu sana. Dia mengintip, melihat Echa yang sangat bahagia berbincang dengan Bara. Sedangkan kedua orangtuanya sudah berpamitan ke kamar. Mereka sengaja meninggalkan putrinya.
“Siapa ya tuh cowok? Apa jangan-jangan yang mau dijodohkan sama Echa?” pikir Ara melantur. Jika benar itu adalah lelaki yang akan Bu Tania jodohkan dengan anaknya, maka bagaimana nasib Biru? Apakah cinta mereka berdua akan segera berakhir?
Ara kembali masuk, mengambil ponselnya lalu berkirim pesan dengan sang kakak. Biru yang penasaran pun terus mencari tahu siapa cowok itu pada Ara. Setelah cukup lama berkirim pesan, Biru mengakhirinya karena sang adik berkata yang membuat dirinya berpikiran aneh.
Ditempat lain....., pak Baba dan istrinya kini tinggal ditempat para pengemis berteduh. Hidupnya benar-benar telah hancur, semua harta dan rumah disita oleh penagih hutang. Untuk makan saja mereka berdua harus bekerja memungut botol bekas.
Malam itu, hujan turun. Tempat yang sangat tidak layak untuk ditempati itu membuat orang-orang yang berada di sana harus mencari tempat baru untuk berteduh dari derasnya air hujan. Begitu juga dengan pak Baba, hidupnya yang serba mewah dari dulu kini harus merasakan hidup miskin.
Disaat sedang berteduh, dia melihat seorang ibu dengan bayinya. Pemandangan itu mengungkapkan mereka berdua akan Nugraha. Penyesalan pun mereka rasakan, betapa kejamnya dulu saat menculik lalu menjual anak keponakannya. Istri pak Baba menangis, dia benar-benar merasa bersalah kepada Ara dan Biru.
__ADS_1
Saat mereka sudah mempunyai uang untuk kembali ke kota asal, keduanya akan bertemu dengan Biru dan meminta maaf. Sekaligus menceritakan semuanya tentang penculikan Nugraha.
Pagi, siang, sore dan bahkan sampai malam. Pasangan suami istri itu masih terus bekerja agar bisa secepatnya kembali.
Di keesokan paginya, Biru sudah siap dengan seragam sekolahnya. Baru saja akan melangkah menuju rumah Echa, cowok kemarin malam datang kembali dengan memakai seragam yang sama. Bu Tania menyambutnya dengan sangat ramah dan senyuman yang bahagia. Membuat Biru mengurungkan niatnya. Awalnya dia akan berangkat menggunakan angkutan umum. Namun, karena ada cowok lain yang menjemput maka dia pun pergi dengan sepeda motornya.
Disepanjang perjalanan, Biru terdiam. Masih berpikiran ada hubungan apa antara ibu Echa dan cowok tadi. Dia sampai tak sadar jika sudah sampai didepan gerbang sekolah. Anak-anak osis, lebih tepatnya adik kelas menyadarkan ketua mereka.
“Kak, kak Biru. Haloo...,” sapa anggota lain. Biru membuka helmnya menyapa balik sang adik kelas.
“Nggak masuk kak? Itu mobilnya pak iman mau masuk,” ujarnya.
“Eh iya, kalian jaga yang benar. Jangan sampai ada murid yang bolos atau membawa sesuatu yang dilarang sekolah, okay.”
“Siap kak.”
Biru kembali menjalankan motornya ke parkiran. Di sana ternyata sudah ada ketiga sahabatnya yang menunggu. Melihat si ketos yang bengong seperti itu membuat mereka bertiga heran.
“Galau bang?” sambung Nadia menepuk pundaknya.
“Kenapa? Echa mana, tumben nggak bareng?” tanya Arka.
Biru pergi begitu saja tak menjawab perkataan temannya. Andi, Nadia dan Arka mengangkat bahu bersama-sama. Mereka mengekor dibelakang Biru yang masih terdiam, bahkan adik kelasnya menyapa pun tidak dia hiraukan.
“Tuh anak kenapa sih? Aneh banget, masih pagi udah kayak gitu. Apa kesurupan ya?” ujar Andi.
“Coba lu cek Ndi keningnya. Panas apa dingin,” titah Arka. Padahal dia hanya bercanda saja akan tetapi Andi malah menanggapi dengan serius. Dia langsung saja berlari menyusul Biru didepannya. Tangannya mulai menyentuh kening si ketua osis.
__ADS_1
“Apaan sih! Lu ngapain Andi?” ucap Biru menyibak tangan Andi dari keningnya.
“Lu nggak sakit kan? Sehat wal-afiat kan? Kenapa sih murung kayak gitu hah?!”
“Gue?” tanya Biru. Cowok didepannya memukul pelan.
“Ya iyalah, siapa lagi coba orang didepan gue. Agak laen emang nih anak.”
“Nggak papa.” Biru melanjutkan langkahnya. Namun, setelah melihat Echa berjalan berdampingan dengan cowok semalam Biru kembali membalikkan badannya menuju Andi.
“Kelas di sana coy! Ngapain lu balik lagi?” ujarnya.
“Nyeblak-nyeblak. Gue lagi mau makan yang pedes, lu temenin gue sekarang ke kantin! Sekalian ajak tuh dua curut juga,” jawabnya.
“Nih bocah kenapa tiba-tiba mau nyeblak? Biasanya kalo diajak kagak mau,” pikir Andi memegang dagunya.
Tak mau ambil pusing dan takut Biru keburu marah. Maka Andi pun menurut tak lupa juga dia mengajak Arka dan Nadia yang sibuk ngobrol berdua dibelakangnya. Sesampainya di kantin, Andi langsung saja memesan makanan yang Biru inginkan. Padahal masih pagi, tapi cowok itu sudah ingin memakan seblak dengan bumbu yang sangat pedas. Di meja sembari menunggu pesanan, Biru masih saja terdiam, Andi yang merasa terkacangkan pun mencoba mencairkan suasana. Sebab kedua teman lainnya tengah sibuk berpacaran.
“Woy! Dek. Boleh pinjam gitarnya bentar nggak?” teriak Andi pada adik kelas.
Karena yang berteriak adalah salah satu cowok terpopuler, maka mudah saja bagi Andi untuk meminjamkannya. Sang adik kelas menghampiri lalu memberikan gitar yang dia bawa pada Andi.
“Nanti gue balikin kalo udah.”
“Iya kak,” jawabnya.
Andi mulai memetik gitar, tak disangka dia mempunyai suara yang sangat merdu. Para murid yang ada di kantin memerhatikan dengan memberikan tepuk tangan. Mereka semua bersorak meminta Andi untuk bernyanyi lagi.
__ADS_1
“GUYS! SANG KETUA OSIS KITA, YAITU BIRU. Dia yang akan melanjutkan bernyanyi, SETUJU......,” teriaknya sembari berdiri dengan mengangkat tangan.
Tentu saja para murid menjawab setuju. Siapa yang akan menolak jika Biru si ketua osis bad boy bernyanyi. Karena itulah yang mereka semua harapkan.