BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 32


__ADS_3

Sasa masuk menghampiri Heru yang sedang dikerumuni geng Biru. Andi yang melihat kedatangan gadis itu langsung menunjuknya. Sedangkan si ketua osis tersenyum simpul memegang pundak dua orang licik tersebut.


“Lu berdua salah pilih lawan! Masih murid baru jangan coba-coba ngelawan kita.” Sasa menelan ludahnya akan tatapan yang diberikan Biru. Para murid yang ada di sana pun ikut merasakannya, selama ini tidak ada yang berani berurusan dengan si ketos. Namun, semenjak dekat dengan Echa, laki-laki yang terkenal nakal dan dingin itu selalu mendapatkan masalah dari siswa lain.


Soal poto yang tersebar itu sudah Biru anggap selesai, walau mereka tak mendapatkan bukti. Tapi dia yakin jika itu semua adalah ulah dari kedua murid baru yaitu Sasa dan Heru. Masalah poto tak pantas seperti itu merupakan kedua kalinya ada orang yang memfitnah Echa. Biru dan teman-temannya juga lah yang menyelesaikan masalah tersebut.


...__••°••__...


Hari demi hari, bukan berganti tahun. Usaha milik Biru semakin sukses, kehidupannya pun lumayan membaik. Rumah yang selama ini dia sewa dari keluarga Echa telah diberikan padanya sepenuhnya sebagai ucapan selamat atas kerja kerasnya. Tak hanya itu, Biru juga sudah membuka satu cabang baru untuk usaha cakenya, walau di setiap pekerjaannya itu terjadi masalah, dia tetap sabar menghadapi.


Sekolahnya pun tidak terganggu sama sekali. Beberapa anak geng motornya yang tidak bersekolah Biru jadikan sebagai pekerja di kedainya. Tinggal beberapa bulan lagi dia dan teman yang lainnya lulus dari sekolah, mereka tetap belajar dengan tekun agar masuk ke universitas yang mereka impikan.


Dalam satu tahun ini keberadaan Nugraha pun belum juga diketahui. Andi yang kasian kepada Ara selalu membawa Senja bermain kerumah Echa untuk mengobati rasa rindu Ara pada sang anak.


Ditempat lain..., Nugraha telah tumbuh menjadi anak yang tampan. Orang tua angkatnya begitu menyayangi dia dengan sepenuh hati. Begitu juga dengan Senja, keluarga Andi memperlakukan mereka berdua dengan baik. Di usianya yang sama-sama satu tahun, kedua anak Heru tersebut selalu mendapatkan banyak pujian akan parasnya. Hari itu, Bu Miya selaku Mama angkat Nugraha tengah berbelanja di salah satu mini market. Dia membawa sang anak memilih beberapa barang yang akan dirinya beli.


Kebetulan di sana Heru juga tengah mengantarkan Mamanya berbelanja. Terlihat seorang anak kecil yang sedang berlarian sendiri terjatuh didepan matanya. Heru pun langsung membantu anak tersebut.


“Kamu nggak papa dek?” tanya Heru. Sia anak terdiam tak menjawab. Heru mencari keberadaan orang tua anak itu. Tanpa dia tahu anak di dekatnya tersebut merupakan anak kandungnya, Nugraha.


“Lagi apa kamu Heru? Anak siapa ini?” tanya sang Mama. Wajahnya terlihat bahagia saat melihat tampang Nugraha yang begitu tampan juga menggemaskan.

__ADS_1


Wanita tua tersebut mencubit gemas pipi cucunya yang selama ini tidak dia anggap dan inginkan. Heru dan Mamanya dari dulu tak pernah berubah, sang anak selalu bermain-main dengan banyak perempuan. Belum ada karma yang menimpa mereka berdua.


Tak lama datanglah Bu Miya dia begitu cemas saat tidak mendapati Nugraha disisinya. Nama Nugraha pun kini telah berganti menjadi Langit Pramudya Ananta. “Astaga, Mama cariin daritadi ternyata ada di sini. Apa anak saya membuat repot kalian berdua?” ujar Bu Miya pada Heru dan Mamanya.


Mama Heru menggelengkan kepalanya, dia tersenyum dan malah memuji ketampanan cucunya. Setelah menemukan Nugraha/Langit, Bu Miya pun izin pamit karena telah selesai.


Bagaimana kabar pak Baba dan istrinya? Ya. Mereka berdua telah kehabisan uang. Hasil dari menjual anak Ara mereka habiskan tanpa tersisa. Hidupnya semakin buruk, keduanya selalu dikejar-kejar oleh penagih hutang. Memiliki uang yang begitu banyak telah mereka gunakan secara sia-sia. Bukannya untuk membuka usaha baru pak Baba malah memakainya untuk judi online. Sedangkan istrinya pamer harta sana-sini sampai-sampai orang jahat mengincarnya. Perhiasan yang dia pakai hangus begitu saja dirampok oleh orang-orang tersebut. Pak Baba melakukan judi online karena merasakan prustasi yang tidak mendapatkan pekerjaan. Ditambah istrinya yang selalu mengomel membuat dirinya semakin bertambah pusing.


...••°••...


Disebuah cafe Sasa dan teman-temannya tengah berkumpul. Seorang wanita tua cantik datang menghampiri meja yang para remaja itu tempati. Satu tamparan keras melayang ke pipi lembut Sasa. Teman-temannya yang ada di sana merasa terkejut akan kejadian itu. Orang-orang juga memperhatikan kegaduhan tersebut.


“Maksud Tante apaan sih?” tanya Sasa sembari memegangi pipinya yang merah akan tamparan tersebut. Tanpa bicara wanita itu mengeluarkan ponselnya serta memperlihatkan sebuah poto sang suami dengan perempuan muda yang tak lain ialah Sasa.


“Wah cantik-cantik penggoda suami orang.”


“Masih muda udah jadi pelakor aja.”


“Pasti cuman manfaatin suami si ibu itu aja. Mana mungkin dia benar-benar cinta sama laki-lakinya.”


“Anak zaman sekarang pada suka sama om-om, apalagi suami orang.” Begitulah bisikan-bisikan orang yang ada di sekitar. Si wanita berhasil mempermalukan Sasa didepan banyaknya pengunjung cafe. Tak hanya itu saja, beberapa orang juga merekam pelabrakan tersebut.

__ADS_1


Pada esok harinya disekolah. Banyak para murid yang melihat Sasa dengan tatapan sinis. Biru, Andi, Arka dan Nadia tersenyum kecuali Echa yang merasa kasian. Teman-temannya menjauhi Sasa.


“Dih nggak malu apa jalan sama suami orang.”


“Mungkin dia butuh duit makanya deketin om-om.”


“Gue kira dia udah tobat, ternyata kelakuan malah menjadi.” Teman-teman sekolah banyak memberikan cibiran kepada Sasa. Namun, gadis itu tidak menanggapinya sama sekali. Dia terlihat tidak peduli akan ucapan itu kepadanya. Saat memasuki kelas, mejanya sudah penuh dengan sampah. Heru yang tidak mengetahui berita tentang Sasa pun bertanya-tanya mengapa meja temannya itu sangat kotor.


“Lu kenapa Sa? Kok yang lain pada sinis banget sama lu?” tanya Heru heran.


“Nggak papa! Mending lu bantuin gue buang nih sampah,” ujarnya.


“Bersihin sendiri ah, gue ada perlu sama anak sebelah,” tolaknya. Heru pun pergi meninggalkan Sasa yang tengah berdiri didepan mejanya memandang tumpukan sampah bekas jajan teman sekelas. Gadis itu berdecih saat Heru teman satu-satunya disekolah tidak mau membantu.


Echa yang akan menghampiri Sasa dihentikan oleh Biru. Si ketua osis menggelengkan kepalanya tidak mengizinkan sang kekasih membantu. Karena mau sebaik apapun Echa pada Sasa, gadis itu akan selalu merendahkannya.


“Udah Ca duduk santai aja, kita lihat dari jauh,” ucap Nadia dengan santainya.


“Nggak ada kapok-kapoknya tuh cewek. Heran gue,” seru Arka.


Tak lama bel masuk berbunyi. Sasa masih sibuk membuang sampah yang ada di mejanya. Sang guru yang baru memasuki kelas melihat Sasa dengan wajah datar.

__ADS_1


__ADS_2