BIRU SI KETOS BAD BOY

BIRU SI KETOS BAD BOY
Bab 23


__ADS_3

Nadia menggeleng bahwa dia sama sekali tidak memiliki musuh, namun dia ingat akan suara yang berbicara itu. Suara tersebut sangat mirip dengan milik si pria yang dia tumpangi mobilnya kemarin malam. Setelah menceritakan semuanya, keempat orang itu pun pergi, kembali lagi kesekolah. Mereka sudah siap menerima hukuman dari para guru karena telah bolos.


Sesampainya disekolah, Bu Tuti sudah menunggu. Tanpa berbicara keempat murid nakalnya langsung mengekor dibelakang. Biru dan Andi malah cengengesan melihat punggung guru BK nya yang terdapat tulisan, “Saya mau batagor.”


Kedua murid itu menebak jika tulisan yang tertempel itu ulah dari murid nakal lainnya. Nadia menepuk pundak Bu Tuti lalu mencabut tulisan tersebut.


“Ini Bu saya cuman mau copotin kertas ini aja, nggak ngapa-ngapain kok.” Nadia merinding ditatap tajam oleh guru BK nya. Walau seorang perempuan, Bu Tuti sangat galak serta tegas. Tak lama mereka pun sampai diruang guru. Kepala sekolah juga kebetulan berada di sana, tidak perlu repot-repot datang ke ruangannya.


Tanpa basa-basi lagi wali kelas mereka memberikan kertas berwarna putih. “Minta orang tua kalian datang besok.”


“Pak mending hukum kita bersihin toilet atau hormat di lapangan aja deh sampe sore.”


“Nah bener tuh pak kata Andi. Kita mah nggak papa di hukum begitu juga daripada panggilan orang tua,” seru Arka.


Kepala sekolah dan wali kelas menggelengkan kepalanya tanda menolak penawaran keempat murid nakal tersebut. Biru, Andi, Arka dan Nadia pun hanya menghela napas lalu berpamitan kekelas.


Didalam kelas para murid terlihat sangat lesu. Mereka menyimpan kepalanya di atas meja sembari memejamkan mata. Keempat murid itu bukannya sedih karena mendapatkan surat, mereka malah santai-santai saja dan bahkan kembali membuat onar dengan mengerjai teman yang tertidur di kelas.


Andi mengadu pada sang guru yang tengah menulis di papan tulis. Teman-temannya pun langsung terbangun dan duduk bersikap tegak. Menghadap kedepan memperhatikan kembali gurunya.

__ADS_1


Namun sayang semuanya telah sang guru ketahui. Mau tak mau semua murid yang tertidur tadi harus berdiri didepan kelas bersama Biru, Andi, Arka dan Nadia. Kini didalam hanya tersisa Echa, Sasa dan kelima teman lainnya. Pelajaran terus berlanjut sampai jam istirahat kembali berbunyi.


Dikediaman Echa. Ara tengah sibuk mengurus bayinya, karena baru pertama kali memiliki anak maka Ara sedikit meminta bantuan dari ibu Echa. Di saat Bu Tania sedang mengurus bayinya, dia yang di suruh menggendong Senja menatapnya lirih. Betapa sedihnya bayi itu jika dewasa nanti tahu bagaimana keadaan ibu kandung dan ayahnya. Bu Tania telah selesai mengurus bayi Ara, gadis itu memberikan Senja kembali pada ibu Echa. “Tante, apa Senja akan terus tinggal sama keluarga Tante?” tanya Ara ragu.


“Kenapa? Sepertinya akan seperti itu. Echa sangat senang setelah datangnya Senja, apalagi sekarang ditambah dengan adanya Nugraha.”


“Mungkin Senja masih memiliki keluarga Tante, nenek atau bibi gitu? Apa nggak sebaiknya kita cari keluarganya? Kasian dan kita juga harus memberitahu mereka bahwa ibu Senja telah tiada.”


“Kamu benar nak Ara,” seru ibu Echa.


Ditempat lain, Mama Andi tengah membantu si nenek bersama Oma. Ketiga wanita itu bersiap untuk mencari keberadaan cucunya yang hilang. Mereka telah membuat selebaran dengan terpampang wajah Tita di sana. Tak hanya itu saja, Mama Andi juga akan memberikan hadiah berupa uang bagi siapa saja yang menemukan cucu si nenek. Semua itu dia lakukan agar cepat menemukan Tita karena merasa kasian melihat si nek Ijah yang selalu mengigau memanggil nama cucunya.


Mama dan Oma Andi baru menyadari jika nek Ijah tidak ada. Mereka berdua mencari sembari menyebutkan nama di nenek. Sampai didepan cafe tempat Heru berada, terlihat si nenek yang duduk dilantai dan di maki oleh seorang lelaki. Mama Andi segera menyusul dan membangunkan nek Ijah, tak segan dia juga menampar lelaki yang telah memaki si nenek.


“Udah gue bilang kalo gue nggak kenal sama cewek yang namanya TITA! Paham nggak sih lu?!” ujar Heru dengan kasar. Dia memegangi pipinya yang terkena tamparan keras dari Mama Andi.


“BOHONG KAMU! SAYA TIDAK AKAN PERCAYA, JELAS-JELAS KAMU YANG SUDAH MENJEMPUT CUCU SAYA.” Seketika nek Ijah merasa pusing setelah berkata seperti itu.


“Kita bawa pergi nak,” seru Oma.

__ADS_1


“Baik Bu,” jawab Mama Andi.


Didalam mobil Mama Andi menenangkan hati nek Ijah. Lalu bertanya apakah lelaki didalam cafe sana adalah kekasih si cucu? Nek Ijah pun mengangguk. “Ya sudah kita lanjut ke tempat lain aja ya.”


Ara dan Bu Tania yang sedang pergi berbelanja mendapatkan selebaran kertas dari nek Ijah. Keduanya saling memandang, namun pada saat akan menghampiri si pemberi selebaran orang tersebut telah pergi menaiki mobil. “Ini kan Tita, ibunya Senja. Apa jangan-jangan nenek itu.....?”


“Sayang sekali dia sudah pergi,” ucap ibu Echa.


“Tante di sini ada nomor telponnya. Gimana kita telpon saja?”


“Iya nak Ara, tapi kita sebaiknya pulang dahulu kerumah. Kasian para bayi ini,” ujarnya.


Hari semakin siang, Biru dan yang lainnya telah selesai menerima hukuman. Sungguh sekolah yang ketat, kesalahan sekecil apapun akan diberikan hukuman oleh para guru. Di acara bazar nanti Biru berniat akan menjual cairnya di sana. Setiap kelas harus mempunyai sesuatu yang bagus atau karya hasil bersama untuk mereka jual. Arka, Nadia dan Andi setuju, mereka bahkan akan membantu Biru menjual dagangannya.


Saat sedang asik berbincang, pintu kelas tiba-tiba saja didorong keras oleh Paris. Tidak ada hujan dan angin lelaki itu langsung memukul Biru yang tengah duduk santai. Andi dan Arka sontak berdiri. “Heh! Maksud lu apaa hah!”


“Gue nggak ada urusan sama lu berdua,” ujar Paris.


“Urusan lu sama Biru itu berarti berurusan juga sama kita!” seru Andi mendorong tubuh Paris.

__ADS_1


Nadia menghela napas, baru saja di peringati untuk tidak membuat kegaduhan oleh kepala sekolah kini ketiga temannya malah berantem dengan Paris si pembuat onar kelas sebelah. Echa yang baru kembali dari toilet melihat pertengkaran itu dan juga melihat Biru yang sedang memegang pinggir bibirnya.


__ADS_2