
Ara yang melihat itu memegang erat tangan ibu Echa. Dia takut akan seperri gadis tersebut, yang lebih mengejutkan adalah datangnya Heru dengan sang Mama. Ternyata gadis yang duduk bersebelahan adalah salah satu korban sang kekasih. Sama seperti yang Ara rasakan, dia tidak ingin bertanggungjawab atas perbuatannya. Kedatangannya kerumah sakit hanya untuk memberikan uang dan menyuruh gadis tersebut untuk tidak datang dan menelponnya lagi.
Sungguh lelaki yang brengsek, bagaimana bisa Mamanya mendukung kelakuan sang anak. Padahal apa yang di lakukan Heru benar-benar keterlaluan, Ara sangka hanya dirinya seorang namun masih ada gadis lain juga.
Ara berdiri melangkahkan kakinya menuju Heru. Dia langsung menampar wajah lelaki brengsek itu.
“Apa-apaan kamu! Beraninya menampar wajah anak saya,” tegur Mama Heru, dia pun akan melayangkan tangannya untuk menampar balik Ara, namun di hentikan oleh ibunya Echa.
“Jangan pernah sakitin anak saya! Urus saja anakmu yang kurang baik itu, semoga kelak dia mendapat karma yang setimpal,” ucap ibu Echa.
Mama Heru tertawa mendengar penuturan ibu Echa. Dia menyunggingkan bibir dan menatap tajam Ara. Perdebatan mereka terhenti karena dokter yang menangani gadis itu keluar. Dia menyatakan kondisi bayi dan ibunya. Sayangnya ibu si bayi harus meregang nyawa, Heru terkejut dia tidak ingin mengurus seorang bayi.
”Apakah bapak suaminya?” tanya si dokter.
“Bukan dok,” jawab Mama Heru.
Ibu Echa hanya menggelengkan kepalanya. Dokter pun meminta keluarga dari gadis yang bernama Tita itu ikut dengannya. Heru dan Mamanya malah pergi begitu saja, kini tinggal Ara dan Bu Tania.
“Saya keluarganya dok,” ucap ibu Echa tiba-tiba. Ara tak menyangka sebaik itu kah orang yang telah memberi makan serta tempat tinggal? Sungguh anak yang beruntung Echa di lahirkan oleh Bu Tania. Seorang wanita baik hati dan hebat.
“Tante_-” ibu Echa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Ara pun hanya menurut saja, dia menunggu di luar. Tak berselang lama ibu Echa keluar. “Tante seriusan mau bawa bayi itu? Kenapa nggak Tante simpan di panti saja?”
“Dia masih terlalu kecil untuk di simpan di panti. Tante akan bicara sama ayah Echa, dia tidak akan menolak perkataan Tante.”
Seorang suster memanggil Ara untuk periksa. Dokter memberitahu jika tak lama Ara akan segera melahirkan, gadis itu hanya menghela napas.
“Suaminya nggak ikut Bu yang kemarin?”
“Eh, nggak dok,” jawab Ara terkekeh. Mengingat waktu itu Andi mengaku sebagai suaminya.
••
__ADS_1
••
••
Kembali ke sekolah, semua mata tertuju kepada si ketos dan Echa. Rasa penasaran akan hubungan keduanya membuat para siswi yang merupakan penggemar Biru menyipitkan mata, melihat Echa dari atas sampai bawah. Berpikir apa spesialnya gadis itu sampai Biru tertarik padanya, itu lah pemikiran mereka.
Masih banyak gadis lain yang lebih cantik di bandingkan Echa, seperti Sasa, Riri, Nadia juga Elsa. Kecantikan tidak di nilai hanya dari wajah saja, tetapi hati juga. Memang banyak di luaran sana yang memiliki wajah yang menawan, cantik dan putih. Tapi sedikit orang yang memiliki hati yang bersih.
“Maaf pak kami telat,” ujar Biru pada guru yang sedang mengajar.
“Iya, duduk sana.”
Di pagi yang dingin karena turunnya hujan ditambah dengan pelajaran yang sangat dibenci para murid, yaitu matematika. Membuat suasana kelas hening, sepi, mereka semua menyimpan kepala di meja, dan sekali-kali memejamkan mata. Melihat teman-temannya kurang semangat, Andi pun membuat lelucon. Namun dia hanya menunjukkannya kepada Arka dan Nadia.
“Muka lu kek monkey Ndi,” bisik Arka.
“Sekate-kate lu, muka gue yang paling ganteng di sekolah ini. Nggak ada tandingannya, enak aja di miripin kembaran lu.”
“Bukannya yang paling ganteng itu si ketos?” bisik Nadia pelan.
Untung saja cuaca di luar sedang hujan deras. Pak guru melanjutkan mengajarnya, Andi, Arka dan Nadia menghela napas lalu bersamaan menatap Biru.
“Apa lu?” ujar Biru yang di tatap tajam oleh ketiga temannya.
“Pak, si Biru ngobrol tuh,” teriak Andi.
“Si bangsut Andi! Malah teriak, bego,” gumam Arka menutup wajah.
Pak guru berjalan menghampiri meja Andi juga Biru. Dua murid nakal itu mendapatkan jeweran dari sang guru. “Mampus!” ucap Nadia pelan.
Pak guru yang mendengar suara Nadia pelan langsung meliriknya. Seketika gadis itu memalingkan wajahnya menghadap Arka. Sembari menelan ludah dia memukul pelan teman sebangkunya.
“Mak gue aja nggak segalak ini buset,” ujarnya lagi pelan.
__ADS_1
“Pak kata Nadia bapak lebih galak dari Emaknya,” ucap Arka.
Nadia berteriak mengomel kepada Arka. Dia sudah tak peduli lagi dengan guru galaknya, sedangkan teman sekelas lainnya hanya melihat pertengkaran itu sembari menahan tawa. Keributan itu membuat pelajaran tertunda, dan anak-anak senang akan hal tersebut.
“Kalian berempat berdiri di depan kelas, SEKARANG!!”
Biru, Andi, Arka dan Nadia berhenti. Mereka berjalan lesu menuju luar kelas. Echa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keempat murid itu. Sudah menjadi hal biasa jika empat sekawan tersebut di hukum, karena memang terkenal nakal. Namun murid-murid lainnya banyak yang suka.
Di luar kelas mereka saling menyalahkan, tidak ada yang mau mengalah.
“Si Andi sih ah,” protes Nadia.
“Lah markonah! Kalo misalkan lu tadi nggak teriak ngomel ke si curut Arka. Kita nggak bakal ada di sini,” jawab Andi.
“Nyenyenye, cowok yang salah!”
“Dasar cewek!” ucap ketiga cowok serempak.
Beberapa jam berlalu, hukuman mereka telah selesai. Keempatnya terkulai lelah di lantai, merasakan keram pada kakinya yang telah berdiri begitu lama. Echa keluar kelas ingin mengambil buku di perpustakaan. Akan tetapi langkahnya terhenti karena adanya Paris. Dia menarik tangan Echa di ikuti siswa lain.
Biru mengerutkan keningnya melihat Echa di bawa pergi. Dia penasaran apa yang akan di lakukan Paris. Andi, Arka dan Nadia menatap Biru lalu menganggukkan kepalanya bersamaan.
“Ayo!”
Di taman belakang, Paris menyuruh Echa duduk. Mengeluarkan ponselnya dan nampak wajah sang ayah yang sedang membonceng seorang perempuan. Echa terdiam, dalam pikirannya bertanya-tanya siapa perempuan tersebut dan darimana Paris mendapatkan poto itu? Dia menghela napas meminta Paris untuk memberitahu tentang itu semua.
“Okey gue kasih tahu, tapi ada syaratnya gimana?”
“Cuman kasih tahu aja apa susahnya sih?”
“Ya udah, lu cari tahu sendiri aja siapa perempuan yang sama ayah lu.”
“Apa syaratnya?” tanya Echa pasrah. Dia benar-benar penasaran siapa perempuan itu.
__ADS_1
“Lu harus jadi pacar gue!”
Biru yang baru sampai terkejut akan ucapan Paris barusan. Lelaki itu menginginkan Echa untuk menjadi kekasihnya.