
Setelah puas saling mencium, akhirnya Denis dan Havana keluar dari dalam mobil.
Kali ini raut wajah Havana sudah jauh lebih ceria daripada tadi. Ciuman itu seolah memberinya energi lebih.
"Nanti Kak Denis menemani aku kan?" tanya Havana dengan antusias, dia berjalan seraya memeluk lengan kanan sang kekasih.
Tapi jawaban Denis langsung membuat wajahnya kembali suram ...
"Tidak," jawab Denis singkat, lengkap dengan senyumnya yang terlihat menyebalkan di mata Havana, senyum menggoda dan meledek sekaligus.
"Aku tanya serius, kakak menemani aku selama disini kan?"
"Tidak sayang, aku hanya mengantar mu. lalu setelahnya pergi ke kantor."
"Tidak usah panggil sayang sayang kalau begitu!" ketus Havana, dia juga mulai melerai pelukan nya di lengan sang kekasih.
Melihat reaksi itu Denis hanya tertawa kecil, tidak ada sedikitpun niat untuk membujuk Havana agar tidak marah.
Havana andai diberi jantung dia akan meminta hati, maka Denis putuskan untuk tidak memberi keduanya.
Mereka berdua terus berjalan sampai akhirnya tiba di ruang keamanan. Ruangan yang dulu pernah Havana datangi bersama Aileen dan Siska, karena mereka berkelahi dengan pengunjung mall yang lain.
Havana sungguh tidak menyangka jika pada akhirnya dia akan kembali lagi ke ruangan ini. Bukan jadi tersangka, melainkan jadi bagian dari anggota keamanan Clarke Super Mall.
__ADS_1
Denis memperkenalkan Havana pada pimpinan tim keamanan, juga sekaligus menitipkan Havana untuk dididik sesuai dengan prosedur anak baru di tim ini.
Tidak perlu merasa sungkan, karena di jam kerja Havana bukanlah adik ipar pemilik mall ini, melainkan hanyalah karyawan biasa.
Mendengar penjelasan panjang lebar Dennis itu membuat mulut Havana menganga, tak menyangka dalam sekejap saja dunianya runtuh.
Tidak ada lagi kemewahan, Yang ada hanyalah bersusah payah menunggu jam pulang kerja.
Astaga. Batin Havana.
Setelah selesai, Denis pamit pergi. Havana mengantar sampai ke depan pintu ruangan ini.
"Kak Denis jahat, kak Denis dan kak Hansel sama saja."
"Jangan meledek ku!"
"Tidak." Denis terkekeh.
"Iiss, menyebalkan, pergi sana. Jangan harap bisa mencium bibirku lagi!" kesal Havana, kemudian dia lebih dulu masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Denis begitu saja.
Denis yang masih tertawa pelan, bersusah payah menahan tawa itu agar tidak jadi gelak tawa yang semakin keras.
Lagi pula ancaman Havana tidak perlu dia takutkan sama sekali, karena nanti kekasihnya itu sendirilah yang akan memberikan bibirnya untuk dicium.
__ADS_1
Saat Havana kembali masuk, dia langsung disambut oleh sang mentor, Belinda. Tim keamanan senior yang akan mendampingi dia hari ini.
"Hav, ganti baju dulu, kita semua harus menggunakan seragam agar mudah dikenali. Setelah itu kita berdua akan berkeliling."
"Iya kak, tapi ini bajunya bersih atau tidak?" tanya Havana seraya menerima uluran baju seragam itu, baju yang masih berada di dalam plastik bening.
"Mungkin bersih, mungkin juga tidak, entahlah, tapi hanya ada satu baju itu di dalam lemari," jawab Belinda asal, bukan karena dia tidak tahu status baju itu, namun memang sengaja menakut-nakuti Havana.
"Haa?? jawaban macam apa itu? aku tidak mau pakai baju ini kalau kotor."
"Jangan buat aku marah, pakai sekarang!" Belinda merubah raut wajahnya jadi lebih garang, membuat Havana seketika mencebik seolah ingin menangis. ini bukan terlihat seperti mau bekerja, tapi latihan militer.
Jahat. Batin Havana, memelas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rekomendasi Author :
Judul : (Bukan) Jatah Mantan
Karya : Gresya Salsabila
__ADS_1