Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 71 - Tidak Perlu Bersikap Seolah Peduli


__ADS_3

Pagi ini Aileen mulai bersiap untuk kuliah, Hansel juga turut membantu memeriksa beberapa buku yang dibawa oleh sang istri.


Takut-takut jika ada yang tertinggal.


"Kak, tolong bantu aku," pinta Aileen seraya menunjukkan punggungnya yang masih terbuka, Aileen kesulitan untuk menarik retsleting itu sendiri.


Hansel mendekat, mengecup sekilas punggung sang istri yang terbuka lalu menutupnya.


"Geli Kak," rengek Aileen dan Hansel hanya terkekeh pelan.


Setelah semuanya siap mereka turun untuk sarapan. Denis sudah tidak ada disana, dia pergi pagi-pagi sekali untuk mendatangi lokasi proyek.


Sebelumnya Denis sudah berpamitan pada Hansel, tapi tidak dengan Havana hingga membuat gadis itu bingung.


"Kak Hansel, dimana kakak pacar ku?" tanya Havana, saat dia duduk di meja makan.


Robin yang juga mendengar itu mengerutkan dahi bingung, sejak kapan anak gadisnya ini memilki pacar?


"Dia harus ke lokasi, jadi berangkat pagi-pagi," jawab Hansel.


"Apa maksud kalian? siapa kakak pacar?" tanya Robin, Angeline juga melirik ingin tahu.


"Bukan urusan Papa," balas Havana cepat, dia langsung bangkit dan meninggalkan meja makan. Rasanya kesal sekali mendengar pertanyaan Robin tadi.

__ADS_1


Pertanyaan penuh selidik yang tidak ada arti.


"Untuk apa peduli padaku? dia saja tidak pernah mendengar apa kataku!" geram Havana, dia berjalan cepat keluar rumah.


Sementara Aileen pun langsung mengejar sang adik ipar ...


"Hav!" pekik Aileen, dia berlari agar bisa mengejar Havana.


Untunglah di ruang tamu Havana menghentikan langkah.


"Kenapa pergi? Aku kan belum sarapan," tanya Aileen, bicara dengan nada terengah.


"Aku malas."


"Aku bawakan bekal saja ya? nanti makan di kampus. Tapi bawa yang banyak, untuk kita berdua."


"Tidak apa makan 2 kali, biar dada mu semakin cepat besar."


"Oh iya juga ya, baiklah aku nanti bawa bekal untuk 2 porsi."


Havana tersenyum lebar, dia juga tak suka makan sendirian.


"Aku pergi dulu."

__ADS_1


"Iya." jawab Aileen seraya menganggukkan kepalanya kecil.


Aileen kembali ke meja makan dan merasakan hawa tak nyaman disana, semuanya saling mendiami dengan wajah yang sama-sama dingin.


"Makan yang banyak," ucap Hansel, seraya menambah sayuran di piring sang istri.


"Biar apa?" tanya Aileen pula, bicara pelan-pelan nyaris berbisik. Karena tidak ingin menganggu Robin dan Angeline yang juga sedang makan.


"Biar dada tambah besar," bisik Hansel pula.


Lalu keduanya terkekeh pelan.


Benar-benar pemandangan yang sangat menjijikkan di mata Angeline.


Andai bukan karena Hansel, dia sudah tak sudi tinggal disini.


"Hansel, apa maksud pembicaraan mu dengan Havana tadi? fokusnya sekarang hanya pendidikan, bukan yang lain," ucap Robin tiba-tiba, ketika mereka semua telah selesai sarapan.


Dia sangat tidak setuju jika saat ini Havana memiliki kekasih, siapapun pria itu.


"Tentang Havana, sekarang dia adalah tanggung jawab ku. Aku tahu apa yang terbaik untuk adik ku," jawab Hansel, bicaranya pelan namun membalas tatapan Robin begitu dalam.


"Papa jangan lupa, untuk bisa menikahi wanita itu papa mengatakan padaku dan Havana untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain. Jadi sekarang tidak perlu bersikap seolah peduli pada kami." Terang Hansel lagi, membuat Robin seketika kehilangan semua kata-katanya.

__ADS_1


Dia hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar, sementara Angeline mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


Dan Aileen, menyentuh lengan suaminya lembut. Tidak ingin perdebatan ini jadi berlangsung lama.


__ADS_2