Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC Bab 104 - Maafkan Aku Kak Denis


__ADS_3

Havana melambaikan tangannya ketika mobil sang kekasih mulai pergi menjauh. Kini dia sudah pulang ke rumah, Denis mengantarnya.


Pulang disaat masih jam 3 sore.


Bibir Havana tersenyum lebar, dia bahkan sempat-sempatnya bersenandung namanya sendiri.


"Havana, ooh na-na.


Half of my heart is in Havana, ooh na-na."


Lalu di akhiri dengan tawa menggelegar, "Hahahaha, maafkan aku kak Denis," gumam Havana.


Masih berdiri di teras rumahnya, Havana kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Kembali memeriksa hasil rekamannya sendiri saat di mobil bersama Denis tadi. Diam-diam Havana merekam saat Denis mencumbbunya mesra.


Havana kemudian mengambil screenshot beberapa gambar yang bagus untuk diperlihatkan pada Aileen. Dia akan membuat kakak iparnya itu melaporkan hal ini pada sang kakak dan akhirnya memaksa dia dan Denis menikah secepat mungkin.


Tidak perlu menunggu kakak dan iparnya bulan madu, dan tidak perlu menunggu proyek perusahaan mereka selesai.


Setelah mendapatkan beberapa screenshot, Havana pun menghapus hasil rekamannya itu. Bisa mati berdiri kalau kakaknya benar-benar melihat rekaman ini. Havana hanya mengambil beberapa, saat sang kekasih mencium dan menyentuh dadanya.

__ADS_1


Dengan langkah lebar, gadis cantik ini pun masih ke dalam rumah. Namun alangkah terkejutnya dia saat tiba-tiba bertemu dengan sang ayah di ruang tamu.


"Astaga!" kaget Havana, ayahnya seperti hantu yang tiba-tiba muncul.


"Sayang, kamu sudah pulang? kata Aileen pulangnya sekitar jam 5."


"Pulang lebih cepat Pa, kaki ku sakit." tidak hanya bicara, Havana pun langsung menunjukkan beberapa lecet di atas tumitnya, " Nih lihat, merah-merah," timpal Havana, sebenarnya luka itu tidak parah, hanya Havana saja yang melebih-lebihkan, bahkan sebenarnya tidak lecet, hanya merah saja terkena tali heelsnya sendiri.


"Rendam dengan air hangat, lalu beri obat."


"Iya Pa," sahut Havana patuh.


Tak berselang lama setelah bercengkrama dengan sang ayah, Havana pun berlari mencari keberadaan Aileen. Kata seorang pelayan, Aileen masuk ke dalam kamarnya setelah pulang kuliah. Nyonya muda itu sepertinya memutuskan untuk langsung tidur.


Mengetahui itu, Havana pun langsung bergegas menuju kamar sang kakak ipar. Langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.


"Aileen!" panggil Havana, dia lihat Aileen yang tertidur di atas ranjang, meringkuk di dalam selimut seperti anak kucing.


"Ai." Havana coba membangunkan sang kakak ipar.

__ADS_1


Usaha gadis cantik itu tentu saja berhasil, Aileen mulai menggeliat tidak tenang. Bahkan wajahnya langsung berubah cemberut tanpa membuka matanya.


"Ai bangun."


"Tidak mau."


"Kakiku sakit, tolong beri obat."


"Ha?" Aileen langsung mendelik, bahkan bergegas bangun dan duduk.


"Apa yang sakit?" tanya Aileen cemas, dengan tangan kanannya yang mengucek mata sebelah kanan.


"Kakiku, lihat ini merah-merah." Adunya dengan sangat serius, "Aku ambil obat di kamar dulu, kamu jangan tidur lagi."


"Baiklah," jawab Aileen patuh, dia tidak lihat bibir Havana yang tersenyum menyeringai.


Sebelum pergi, Havana sengaja melempar ponselnya di atas ranjang, tepat di sebelah Aileen. Ponsel yang masih menyala di bagian galeri foto. Jelas saja Aileen bisa melihat itu. Aileen bahkan semakin mendelik matanya ketika melihat foto di dalam sana. Sementara Havana sudah berlari keluar menuju kamarnya sendiri.


"Astaga, apa itu?" gumam Aileen, menatap tak percaya pada apa yang dia lihat. Aileen dengan cepat meraih ponsel itu dan memperjelas pandangannya, seketika dia merinding ketika melihat tangan Denis menyentuh dada adik iparnya.

__ADS_1


"HAVANA!!"


__ADS_2