
"Baik lah, ayo kita bertemu untuk membicarakan ini," ucap Helda, mengiyakan keinginan Hansel. Meski merasa sangat kesal namun ia tak bisa menolak.
Para pemegang saham membuat petisi untuk menurunkan Freya andai kerugian mereka tidak segera diganti.
"Aku tidak bisa sekarang, Mama tahu kan aku sedang bukan madu bersama istriku. Jadi kita bertemu 3 hari lagi," jawab Hansel dan makin terkepal kuat lah tangan Helda di buatnya.
Helda ingin masalah ini segera selesai tapi Hansel malah mengulur waktu tanpa peduli posisinya yang tertekan.
Tapi Helda tidak bisa memaksakan kehendak, sadar jika dia yang sedang butuh.
"Baiklah Hans, Mama akan tunggu kabar selanjutnya darimu."
Dan setelah panggilan itu terputus, Helda langsung menampar Freya dengan sangat kuat.
Plak!
"Dasar Bodoh!" pekik Helda tanpa ampun. Dia geram sekali dengan semua yang terjadi.
Freya mengunakan semua keuntungan Mall untuk bersenang-senang dan membeli barang mewah, tanpa peduli jika itu bukanlah hak nya.
Keinginan Helda untuk hidup tua dengan bergelima harta kini perlahan seolah sirna, Freya yang dia harapkan menjadi penghasil uang justru malah menghabiskan semuanya.
"Hari ini juga kamu tidak perlu lagi datang ke CSM, Pharsa yang akan menggantikan mu."
Freya tertunduk dan meneteskan air mata, sementara Pharsa yang juga ada disana mengulum senyumnya.
Karena akhirnya waktu yang dia tunggu tiba juga, hari di mana dia akan duduk di kursi pemimpin Clarke Super Mall.
__ADS_1
"Apa kata kak Hansel Ma?" tanya Pharsa dengan suara lembut seperti seorang penjilat, dia sedikitpun tak berbelas kasih pada sang saudara. Kehancuran Freya justru menjadi peluang untuk dirinya sendiri.
"Hansel tidak ingin memberikan bantuan secara cuma-cuma dia juga ingin mendapatkan keuntungan."
"Kalau begitu biar aku yang bernegosiasi, aku akan berusaha untuk membuat posisi kita tetap kuat."
Mendengar ucapan yakin dari Pharsa, membuat Helda sedikit merasa tenang.
"Benar, lakukanlah sebaik mungkin. Satu anak tidak berguna, mama masih punya anak yang lain." Bangga Helda.
Pharsa tersenyum lebar, sementara Freya mengepalkan kedua tangannya erat, dengan wajah yang masih setia menunduk.
Aku tidak akan hancur sendirian, ku pastikan kamu juga akan hancur Pharsa. Geram Freya,
Sejak kecil mereka sudah selalu bersaing dan hingga dewasa kini persaingan itu semakin kental terasa.
Imperial Collage University.
Hansel masih setia duduk di dalam mobil nya hingga 2 jam waktu berlalu.
Sedikitpun dia tidak merasa bosan karena pikirannya terus sibuk dengan pekerjaan.
Pria ini bahkan sampai tidak sadar jika Havana dan Aileen kembali berjalan menghampiri mobil nya.
Saat Havana mengetuk kaca pintu mobil itu barulah Hansel memalingkan wajah dari tablet yang dia pegang.
Lalu keluar untuk menemui kedua wanita yang dia sayang.
__ADS_1
"Ya ampun, dari tadi kak Hansel disini?" tanya Aileen, pertanyaan yang juga ada di kepala Havana.
"Aku menunggu mu."
"Tapi kan aku belum bisa pulang, aku masih ada kelas lagi."
"Tidak apa, sekarang kalian mau apa?"
"Ke taman, Havana kan belum makan."
Havana mengangkat kotak bekal di tangannya, bekal yang tadi dibawa Aileen.
"Kalau begitu ayo, biar aku temani."
"Iss, aku tidak suka," gerutu Havana, pasti dia akan melihat banyak adegan.
"Kenapa tidak suka? ayo!" putus Aileen.
Mereka bertiga menuju taman yang tak jauh dari sana, duduk di salah satu kursi dan mulai membuka kotak bekal.
"Kamu makan lagi?" tanya Hansel pada sang istri, karena saat ini masih jam 10 pagi.
"Havana tidak suka makan sendirian, sini aku suap dikit-dikit, Aa," ucap Aileen dan Hansel menurut.
"Tidak suap aku juga Ai?" tanya Havana, menyindir.
"Tidak mau, kalau aku suapi kamu juga lalu kapan aku makan?" jawab Aileen, sebuah jawaban yang membuat Hansel tergelak. Istrinya ini selalu saja menggemaskan.
__ADS_1
Dan melihat sang kakak yang tertawa lepas, Havana pun tersenyum. Lalu ikut makan bersama-sama.