Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 53 - Sekutu Atau Musuh?


__ADS_3

"Sekarang katakan, apa yang membuat mu tadi bersedih?" tanya Hansel, satu tangannya semakin memeluk pinggang sang istri kemudian tangannya yang lain mengelus pipi Aileen dengan lembut.


Perlakuan hangat ini membuat Aileen jadi merasa nyaman, mudah baginya untuk selalu terbuka dengan Hansel, selalu mengatakan dengan jujur apa yang dia rasakan.


"Aku ingat bibi Rose, Kak."


Nama itu tidak asing bagi Hansel, dia tahu saat menyelidiki Aileen. Rose adalah salah satu pelayan setia keluarga Clarke yang berani mengambil tindakan untuk mendekati Aileen. Sementara pelayan yang lain lebih banyak yang takut dengan kekuasaan Helda.


"Aku akan membawa Bibi Rose pindah ke rumah ini untuk menjadi pelayan pribadimu."


"Benarkah?" tanya Aileen dengan kedua mata yang berbinar, saking bahagianya dia sampai hampir menangis.


"Tentu saja, sejak kapan aku jadi pembohong."


Senyum Aileen semakin lebar, dia menangkup wajah hangat Hansel menggunakan kedua tangan dan mengecup bibirnya sekilas.


Aileen bahkan bergerak pindah posisi dan duduk mengunci tubuh Hansel menggunakan kedua kakinya, membuat mereka saling berhadapan dengan jarak terdekat.


Saling tersenyum dan mengagumi satu sama lain.


"Kamu menggoda ku?"


"Apa Kak Hansel sudah tergoda?"


"Apa kamu bisa merasakan sesuatu sudah berubah dari tubuh Ku?"


"Apa yang berubah?"


Hansel kemudian membenahi duduk Aileen, membawanya lebih dekat hingga duduk di inti tubuhnya yang sudah mengeras.


Seketika kedua mata Aileen mendelik, buru-buru dia turun dari atas pangkuan Hansel.


"Kak itu apa? tadi tidak seperti itu!" tanya Aileen dengan menggebu, seketika takut merayapi tubuhnya.


Sementara Hansel terkekeh, kembali menarik tubuh Aileen agar tetap berada di sampingnya.


"Itu adalah diriku yang lain yang menginginkan mu."

__ADS_1


"Hiii, apa iya sebesar itu?"


"Havana tidak mengatakan apapun?"


"Tidak."


"Lalu apa yang dia katakan tentang malam pertama?"


"Hanya tidur berdua terus begitu-begitu."


"Begitu bagaimana?"


"Ya gitu, tapi Havana tidak bilang jika sebesar itu."


"Ini tidak terlalu besar."


"Besar."


"Tidak."


"Tidak."


Perdebatan mereka terhenti saat terdengar pintu kamar diketuk seseorang, kemudian terdengar suara Havana yang memanggil Aileen.


"Itu Havana," ucap Aileen.


"Iya, Mungkin dia ingin mengajakmu mengunjungi kamarnya. Sana pergilah."


Aileen mengangguk.


Gadis ini kemudian berlari menuju pintu dan membukanya, lalu melambai tangan tanda pisah dengan Hansel.


Melihat tingkah istrinya itu, Hansel sampai dibuatnya tersenyum sendiri.


"Ada apa Hav?" tanya Aileen, setelah dia keluar dan kembali menutup pintu itu.


"Apa yang kalian lakukan?"

__ADS_1


"Pangku-pangkuan."


"Astaga!! ayo ikut aku dulu." Havana langsung menarik Aileen untuk mengikuti langkahnya. Benar kata Hansel, Havana mengajak Aileen untuk mengunjungi kamarnya.


"Aku punya kado untuk mu."


"Benarkah? padahal aku tidak berharap banyak darimu."


"Isshh." Sungut Havana, dia mendudukkan Aileen di tepi ranjang. Lalu memberikan sebuah paper bag pada sang kakak ipar.


"Ini lingerie, kamu harus menggunakan ini sebelum melakukan itu."


"Lingerie?"


"Malam pertama tidak akan bisa diulang, jadi kamu harus membuatnya sangat berkesan."


"Bagaimana jika aku hamil?"


"Kenapa cemas? kamu kan sudah punya suami."


"Oh iya juga ya, tapi ini tipis sekali. Aku malu, rasanya lebih baik langsung telanjaang."


"Itu tidak asik, pria itu lebih suka melihat yang seperti ini daripada langsung terbuka."


"Kamu banyak tahu, belajar dari mana?"


"Teman-teman ku di LN seperti itu semua."


"Apa kamu juga sudah melakukannya?"


"Hii, mana aku berani."


"Aku akan mengadukan pada kak Hansel jika kamu berani."


"Kenapa mengancam Ku? kita ini sekutu atau musuh?"


Aileen tergelak, sementara Havana mendengus kesal.

__ADS_1


__ADS_2