
Denis berjalan seperti biasa, langkah kakinya lebar dan tatapannya lurus ke arah depan, wajahnya pun senantiasa datar seolah tak tertarik pada apapun yang ada di sekitarnya.
Dan Havana yang melihat kedatangan sang kekasih dari dalam mobil ini mengulum senyum, terpesona dengan pesona sang asisten kakak.
Membuatnya gemas sendiri bahkan sampai berdesir hatinya.
Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Denis kemudian masuk dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Havana ada di dalam.
"Hav_" Belum selesai Denis bicara atas keterkejutannya, tiba-tiba dia semakin terkejut saat Havana melompat dan duduk di atas pangkuannya begitu saja. Hentakan gadis ini tepat mengenai intinya, membuat Denis memejamkan mata dan coba menetralkan hasrat yang nyaris terpancing.
"Turun," ucap Denis, satu kata yang diucapkan dengan suara yang begitu dingin, matanya bahkan masih terpejam tak ingin menatap Havana.
"Tidak mau!"
"Turun." Denis mulai membuka mata, tatapannya tajam sekali sampai membuat Havana merasa takut. Bahkan tatapan mata itu terasa lebih tajam daripada milik sang kakak.
Tapi bukannya langsung turun Havana malah menundukkan kepala, di saat seperti ini Havana yakin hanya air mata buayanya lah yang mampu membuat Denis luluh.
"Kalau mau menangis, menangis lah. Tapi turun dulu dari pangkuan ku." Final Denis, tak ada toleransi sedikitpun pada sang kekasih.
Berada di dekat Havana sungguh membuat Dennis merasa tak aman, wanita cantik ini selalu menggoda dia dengan berbagai macam cara.
Andai sekali saja dia lengah pasti Havana sudah dia terkam sejak lama,
__ADS_1
karena sesungguhnya Denis hanyalah seorang pria yang normal, pria yang sangat sensitif dengan sentuhan lembut seorang wanita. Apalagi wanita itu adalah wanita yang dia cintai.
"Kak Denis jahat."
"Turun."
"Iya iya!!" pasrah Havana, air mata buayanya tak jadi keluar. diganti kesal dan bibir mencebik.
Havana kemudian kembali duduk di kursinya sendiri, memalingkan wajah enggan menatap sang kekasih.
"Untuk apa datang ke sini jika hanya untuk marah-marah seperti itu?" tanya Denis, kini suaranya terdengar lebih hangat tidak sedingin tadi.
Tapi Havana tidak menjawab, tetap mencebik dan memalingkan wajah. Dia bahkan melipat kedua tangannya di depan dada.
Membuat Havana mau tidak mau akhirnya menatap sang kekasih, tapi wajahnya masih terlihat marah dan kesal.
"Aku bukannya tidak ingin kita saling bersentuhan, tapi saat ini belum waktunya."
"Tunggu nikah ya lama, kak Denis masih mau ini dan itu tidak mau langsung menikahi ku."
"Tunggu proyek terakhir selesai, habis itu kita langsung menikah. Lagipula kan sebentar lagi kita bertunangan, apa itu tidak membuat mu senang?"
"Tidak! proyek selesai 6 bulan lagi, itu masih lama. Aku maunya langsung nikah."
__ADS_1
"Kenapa begitu?"
"Ya biar bisa langsung anu anu."
Denis terkekeh.
"Kalau kamu hamil bagaimana?"
"Kenapa cemas? kan sudah punya suami."
"Tidak semudah itu Hav, aku ingin kita berdua benar-benar siap."
"Kak Denis selalu seperti itu, ujung-ujungnya aku diceramahi."
"Kamu tidak mau mendengar ucapan ku?"
"Mau!" pasrah Havana, malam itu tidak ada adegan yang selalu berputar di dalam benak Havana, tentang mobil yang bisa bergoyang dengan sendirinya. Yang ada malam itu dia malah mendengar Denis cermaah panjang kali lebar.
Tentang batasan-batasan mereka saat masih menjadi sepasang kekasih.
"Kalau sudah tunangan naik dong ya? bukan cuma ciuman bibir lagi, tapi jadi *****-grepee."
Astaga. Batin Denis. Rasanya saat ini juga dia ingin segera menyentuh Havana.
__ADS_1