
Hari pertama Aileen masih seperti gamang dengan semuanya. Masih sibuk dengan pemikirannya sendiri dengan semuanya yang terjadi.
Tentang dia yang harus bisa berdiri di kakinya sendiri untuk mempertahankan semua milik keluarganya.
Clarke Super Mall adalah harta paling berharga yang dia punya, karena semua kenangan indah milik ayah dan ibunya terukir disana.
Jam 2 dini hari saat malam memasuki dunia yang paling sepi Aileen membuka mata.
Ditatapnya wajah sang suami yang tengah terlelap.
"Kak," panggil Aileen lirih, hingga detik ini dia belum menjawabi ucapan Hansel di kantor kemarin.
Tentang kemauan Aileen untuk bersunguh-sungguh merebut Clarke Super Mall.
Hansel mengatakan jika bantuannya akan sia-sia andai Aileen tidak punya kesungguhan.
"Kak," panggil Aileen lagi, satu tangannya pun mulai membelai lembut wajah sang suami.
Membuat Hansel akhirnya bangun juga.
"Kenapa bangun? jam berapa ini?" tanya Hansel dengan suaranya yang serak. Pria berwajah dingin ini kemudian melihat ke arah jam dinding, melihat waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Apa yang terjadi?" tanya Hansel, dia menyentuh dahi Aileen takut istrinya sakit dan mendapatkan panas demam.
Tapi untunglah suhu badan Aileen normal.
__ADS_1
Hansel ingin bangun namun Aileen dengan segera menahan, wanita ini bahkan langsunh memeluk erat tubuh suaminya. Menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Apa yang terjadi?" tanya Hansel sekali lagi, kini jadi cemas melihat sikap sang istri.
"Maafkan aku Kak," jawab Aileen lirih.
"Maaf untuk apa?"
"Kak Hansel sudah banyak membantu ku, tapi aku selalu ragu."
Hansel diam, mencerna ucapan sang istri diantara kesadarannya yang belum pulih dengan sempurna.
"Aku akan berusaha untuk merebut CSM, aku tidak akan ragu, aku tidak akan takut untuk mencoba, aku akan berusaha dengan keras. Aku akan berdiri dengan kaki ku sendiri dan mengangkat wajah." Terang Aileen dengan jelas, suaranya terdengar tegas tak ada keraguan.
Jika Aileen mau berusaha, maka dia akan melakukan apapun untuk membantu.
Hansel tidak ingin Aileen selalu bergantung padanya, ada kalanya Aileen pun harus mandiri untuk menghadapi dunia bisnis yang keras.
Dan mendengar kesungguhan sang istri Hansel pun membalas pelukan Aileen erat.
"Ai."
"Apa Kak?"
"Aku akan selalu memeluk mu seperti ini, tapi kita tidak bisa terus seperti ini kan? waktu terus berjalan, malam jadi siang, ada kalanya kamu akan berjalan sendiri, jadi saat itu terjadi kamu bisa melawan dunia seorang diri ..."
__ADS_1
"Bukan berarti aku tidak ingin selalu ada untuk mu, tapi aku hanya tidak ingin kamu direndahkan orang lain ..."
"Mengerti kan apa maksud ku?" tanya Hansel, menyudahi bicaranya yang panjang lebar.
"Iya Kak, aku mengerti," jawab Aileen lirih.
Dia menurut saat Hansel mengangkat wajahnya hingga mereka saling berhadapan. Lalu Hansel mengikis jarak dan mencium bibir sang istri.
Ciuman dalam penuh cinta.
Ciuman saling balas hingga sama-sama puas.
"Tidurlah, besok kita mulai membuat proposal dan belajar bicara di depan umum."
"Bicara di depan umum."
"Hem, pertama para pelayan di rumah yang akan menjadi pendengar mu. Lalu Denis dan Siska, lalu karyawan di perusahaan Braile dan terakhir para direksi Clarke Super Mall."
"Hiii." Aileen bergidik ngeri.
"Jangan takut."
"Iya iyaa," balas Aileen dengan bibir mencebik.
Mereka lantas kembali saling memeluk, kembali saling memberi kehangatan untuk kembali terlelap.
__ADS_1