Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 41 - Otak Licik


__ADS_3

Tidak ingin kembali membuat keributan di Mall. Hansel dengan segera menarik Aileen dan Havana untuk pulang ke apartemen.


Sepanjang perjalanan itu Hansel terus diam dengan wajahnya yang terlihat marah.


Sementara Aileen dan Havana juga tidak berani berkata apa-apa, hanya saling tatap dan menyalahkan satu sama lain.


Sampai di apartemen suasana lebih mencekam daripada tadi.


"Siapa yang mengajarkan kalian untuk menonton film dewasa seperti itu?" tanya Hansel, dia berdiri dan melenggangkan kedua tangannya di pinggang, sementara Aileen dan Havana duduk sambil menunduk di sofa ruang tengah.


Saat ini mereka berdua sudah seperti sedang disidang. Siap-siap mendapatkan hukuman.


"Jawab!"


"A-Aku," jawab Havana, lirih dan takut.


Dan mendengar pengakuan Havana membuat Aileen pun merasa tidak tega.


"Ka-kami memutuskannya bersama," timpal Aileen pula.


Merasa mendapatkan pembelaan dari sang calon kakak ipar membuat Havana yang takut jadi lebih berani. Perasaannya menghangat dan dia memeluk lengan Aileen erat.


"Apa kalian tahu? tontonan seperti itu bisa merusak otak kalian!" suara Hansel lebih tinggi, kali ini dia sungguh marah.

__ADS_1


"Setiap saat kalian akan mengingat adegan itu dan ingin mempraktekkannya pula. Lalu lama-lama kalian akan terikat dengan pergaulan bebas!"


Aileen menangis dan Havana merasa sangat bersalah. Kedua gadis ini diam, tidak punya sedikitpun pembelaan.


"Dan berkelahi di tempat umum, apa itu sikap yang tepat?" tanya Hansel, dia masih ingin marah namun melihat Aileen yang mulai menangis kini suaranya pun jadi lebih rendah.


"Ini pertama dan terakhir kalian melakukan kesalahan fatal seperti ini. Jika kalian berani mengulanginya lagi aku akan memberi kalian pengawal 24 jam. dan jangan berharap bisa kembali menemukan kebebasan." Final Hansel, keputusannya tidak ada yang bisa membantah.


Dia juga tidak ingin mendengar apapun penjelasan Havana dan Aileen, karena semuanya tetap saja salah.


Tanpa banyak kata lagi, Hansel pergi meninggalkan kedua gadis itu. masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan keras.


Bahkan Havana dan Aileen sampai mampu mendengarnya pula.


"Maafkan aku Aileen," ucap Havana, karena melihat Aileen menangis kini dia juga jadi menangis.


"Kamu tidak bersalah Hav, aku tidak menyesal kita melakukan kesalahan ini. Aku hanya bingung bagaimana caranya meminta maaf pada kak Hansel," jawab Aileen dengan sesenggukan. Hidungnya pun mulai terasa tersumbat.


"Cium saja, nanti pasti dia tidak marah lagi."


Plak! Aileen memukul lengan Havana kuat. Bibirnya mencebik dan malah membuat Havana tergelak.


Pelan-pelan kedua gadis ini menghapus air matanya sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana sekarang?" tanya Aileen, dia benar-benar bingung dan tidak ingin Hansel marah terlalu lama.


"Ayo kita minta maaf." Ajak Havana dan Aileen mengangguk.


Mereka berdua kemudian bangkit dan mendatangi kamar Hansel, mengetuk pintu itu hingga mendapat kan izin masuk.


"Kak, maafkan kami," ucap Havana, dia yang memulai lebih dulu untuk bicara.


Sementara Hansel malah sibuk sendiri melepas kancing kemeja di pergelangan tangannya.


"Maafkan kami Kak," timpal Aileen lirih.


"Hem," jawab Hansel singkat, bahkan tanpa menatap.


Sementara Aileen dan Havana saling senggol lengan, sebuah isyarat untuk kembali bicara agar suasana jadi tidak secanggung ini.


Tapi mereka sama-sama bingung mau bicara apa, sampai akhirnya otak licik Havana memutuskan untuk kabur seorang diri..


"Aduh aku mau pipis," ucap Havana, kemudian berlari keluar ...


Meninggalkan Aileen di kamar yang mencekam ini.


Ya ampun apa yang harus aku lakukan. Batin Aileen.

__ADS_1


Dia membatu saat Hansel tiba-tiba menatapnya lurus.


__ADS_2