
"Havana, kurang-kurangi sifat pembohong mu itu. Lama-lama aku tidak tahu yang kamu katakan itu benar atau tidak," ucap Denis, dia mengemudikan mobilnya di paling akhir. Robin berada di tengah dan di paling depan sana mobil Hansel.
Ketiga mobil mewah itu berjalan beriringan menuju rumah utama keluarga Braille.
Denis bicara tentang kebohongan Havana, tentang Aileen yang dia katakan hamil. Padahal mereka semua sangat tahu jika itu tidaklah benar.
"Tapi kan aku bohong demi kebaikan Kak, agar papa ikut pulang ke rumah utama."
"Tidak ada namanya bohong untuk kebaikan, bohong tetap bohong dan itu sifat yang buruk," balas Denis tak mau dibantah. Dia sangat menyayangi Havana dan tidak ingin gadis nakalnya ini semakin nakal.
Denis melirik sekilas, melihat Havana yang mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Nanti setelah makan malam, bicarakan lagi dengan tuan Robin, katakan padanya jika Nyonya Aileen tidak hamil."
"Iya iya," balas Havana pasrah, meski sudah cukup lama Denis menjadi kekasihnya, tapi Denis tetap saja bersikap seperti itu, sangat kaku dan profesional. Tetap memanggil semua anggota keluarganya dengan panggilan penuh hormat.
"Setelah mengantar mu, aku akan langsung pergi ke kantor, ada kolega yang datang berkunjung dan aku harus menyambutnya." Jelas Denis. Saat mengatakan itu tatapannya lurus melihat jalanan, tapi dia cukup tahu jika wajah cantik Havana semakin ditekuk.
"Nanti malam aku akan datang, aku akan makan malam di rumah utama."
"Terserahlah," balas Havana ketus. Di hari bahagianya Denis tetap saja sibuk bekerja, ini itu tak ada habisnya.
Havana memalingkan wajah, juga melipat kedua tangannya di depan dada. Tapi Denis tidak ada niat sedikitpun untuk membujuk, membuat Havana jadi semakin kesal.
Di lampu merah terakhir, Denis baru melihat ke arah kekasihnya itu.
"Kamu marah?" tanya Denis.
__ADS_1
Tapi Havana diam saja, malas menjawab juga malas melihat wajah tampan sang kekasih.
"Aku punya sesuatu untuk mu."
"Apa?" balas Havana cepat, bahkan langsung berbalik. Membuat Denis tersenyum kecil melihat tingkah wanitanya ini.
"Katanya marah."
"Jangan menggoda ku!" kesal Havana.
"Mana hadiahnya?" tuntut Havana lagi.
"Mau barang atau cium?"
"Cium," balas Havana dengan mengulum senyum, jarang sekali dia mendapatkan ciuman dari sang kekasih. Jadi ketika Denis menawarkan itu tentu saja akan dia pilih.
"Baiklah, nanti malam aku akan mencium mu."
"Aku sedang mengemudi."
"Tapi aku maunya sekarang!"
"Kalau sekarang hanya kecupan."
"Iiss, memangnya aku anak kecil. Aku mau ciuman panas."
Denis terkekeh, saat lampu merah berubah hijau dia segera melajukan mobilnya. Tak peduli pada Havana yang terus menggoda minta dicium.
__ADS_1
Dan tak berselang lama kemudian, iring-iringan mobil itu sampai di halaman rumah utama keluarga Braille.
Havana masih terus menggerutu karena Denis benar-benar tidak menciumnya sekarang.
Saat itu Denis malah turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya agar keluar.
"Aku mau cium!" bisik Havana dengan kekesalan yang luar biasa.
"Hav ayo masuk," ajak Aileen dan Havana langsung menggeleng.
"Masih ada yang mau ku bicarakan dengan kak Denis."
"Baiklah," sahut Aileen. Dia, Hansel dan Robin masuk lebih dulu.
Dan saat itu Havana tak ingin hilang kesempatan, dia langsung menarik Denis untuk kembali masuk ke dalam mobil. Di kursi tengah dia dorong kuat prianya hingga masuk. Havana menyusul dan menutup pintunya rapat.
"Aku tidak mau nanti malam, aku maunya sekarang!" kesal Havana, dia langsung menyerang Denis dan menyatukan bibir mereka.
Saat itu Denis terkekeh, bibirnya yang sedang tersenyum terus diciumi oleh Havana.
Sampai akhirnya tawa pria kaku ini reda dan kemudian membalas ciuman kekasihnya.
Ciuman penuh cinta, lembut dan sangat intim. Denis bahkan memeluk erat tubuh Havana dengan kedua tangannya.
Denis lebih dulu menyudahi ciuman itu dan menghapus sisa salivanya di bibir Havana.
"Selamat atas wisuda mu Hav, kamu yang terbaik," ucap Denis. Setelah itu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong di dalam jasnya. Sebuah cincin yang sangat indah. Denis bahkan langsung memasangnya di jari manis sang kekasih.
__ADS_1
"Nanti malam aku akan melamar mu."
Havana mengulum senyum, kini kedua pipinya sudah merah merona.