
Denis menurunkan Havana dari gendongannya ketika mereka sudah tiba di basement Mall. Tepat disamping mobil milik pria ini.
Perlahan Havana pun membuka mata, tapi kedua tangannya masih bergantung pada leher sang kekasih. Sementara Denis masih meletakkan kedua tangannya di pinggang Havana.
Belum sempat berucap sepatah kata pun, Denis langsung mendorong sang kekasih sampai tubuhnya bersandar pada mobil, lalu menjatuhkan sebuah ciuman dalam pada bibir kekasihnya itu.
Havana tentu saja sangat terkejut, tidak biasanya Denis menciumnya lebih dulu seperti ini. Tanpa perlu dia menggoda lebih dulu.
Havana bahkan sampai kesulitan bernafas demi mengimbangi ciuman sang kekasih yang brutal.
Di ujung ciumannya, Denis bahkan menyesap lidah sang kekasih kuat hingga Havana merasa sedikit kesakitan.
"Aw!" keluh Havana lalu memukul dada sang kekasih.
"Sakit kak!" timpalnya lagi dengan bibir mengerucut.
"Salah siapa membuatku cemburu."
__ADS_1
"Cemburu?" ulang Havana dengan bibir yang mulai mengulum senyum.
Tapi Denis tidak menjawab pertanyaan sang kekasih, Dia malah menarik Havana dalam pelukannya dan membuka pintu mobil itu.
Havana kira dia akan dicium lagi dengan penuh gairah, tapi malah dimasukkan ke dalam mobil.
Saat Denis pun ikut masuk dan duduk di kursinya sendiri, Havana langsung saja melompat pada kekasihnya itu hingga berhasil duduk di atas pangkuan sang kekasih.
Kembali menggantungkan kedua tangannya di leher Denis.
Tapi Denis tetap tidak menjawab, dia malah menatap lekat wajah sang kekasih. Mulai dari matanya, hidungnya dan bibirnya, bahkan rambut panjang yang menjuntai indah pun tak lepas dari pengamatan.
Havana masih memakai baju kerja, baju khusus tim pengamanan di Mall ini. Tapi hal itu tidak mengurangi sedikitpun kecantikan sang kekasih.
"Kamu tidak kepanasan memakai baju ini?" tanya Denis, baru sadar jika selama ini Havana tidak pernah memakai baju seperti ini, biasnya selalu gaun-gaun cantik yang melekat di tubuhnya.
Dan entah kenapa pertanyaan Denis itu seperti hembusan angin surga bagi Havana, gadis nakal ini seperti menemukan sebuah jalan untuk bermesraan dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Iya panas, makanya tadi ke cafe biar merasa lebih dingin," jawab Havana dengan raut wajahnya yang seolah memelas, membalas tatapan sang kekasih dengan kedua matanya yang terlihat sayu.
"Aku pakai tank top kok, ku lepas saja ya bajunya? kan disini cuma ada kak Denis," pinta Havana lagi, makin memelas wajah yang dia buat.
Sampai akhirnya hati Havana bersorak ketika dia melihat sang kekasih menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban.
Meski merasa bahagia luar biasa, namun hanya senyum kecil yang dia nampakkan di bibir. Tidak ingin membuat sang kekasih mengetahui niat busuk di dalam hatinya.
Dengan perlahan Havana melepas kancing baju itu, satu persatu satu akhirnya tiba di paling bawah. Belum dilepas sempurna Denis bahkan sudah bisa melihat kemolekan sang kekasih. Kedua dada yang langsung menggodanya.
Biasanya Denis selalu mampu menahan semua godaan sang kekasih, tapi entah kenapa sepertinya kali ini tidak.
Cemburu yang dia rasa seolah ingin membuat Havana benar-benar jadi miliknya.
Ketika Havana menurunkan baju itu, Denis sudah lebih dulu mencium bibirnya. Membuat bajunya hanya tertahan di siku lengan, hanya berhasil membuat pundaknya terbuka.
Dan saat Havana merasakan ciuman sang kekasih yang semakin menuntut, dia pun tersenyum menyeringai. Diam-diam Havana pun menurunkan pengait tank top nya sendiri agar lebih terbuka ...
__ADS_1