
Waktu berlalu.
4 bulan telah lewat.
Di akhir tahun usia Aileen genap 18 tahun, usia dimana dia berhak menerima semua harta peninggalan kedua orang tuanya tanpa perlu wali.
Aileen, Helda, Freya dan Pharsa mendatangi kantor pengacara keluarga Clarke. Hansel dan Havana juga ikut untuk menemani Aileen.
Disana, pengacara keluarga itu membacakan surat wasiat yang telah dibuat oleh mendiang ayah Aileen.
Mereka berempat mendapatkan bagian dengan porsi yang berbeda-beda. 3 bagian Helda, Pharsa dan Freya bahkan hanya bersisa satu untuk mengganti semua kerugian yang mereka lakukan di Clarke Super Mall.
Helda tentu tidak menerima itu, namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Mulai hari ini, aku memutus semua hubungan di antara kita. Aku bukan lagi bagian dari kalian," ucap Aileen dengan suaranya yang tegas, tatapannya lurus pada Helda yang menatapnya benci.
"Dalam surat wasiat itu jelas mengatakan jika rumah utama keluarga Clarke adalah milik ku, jadi aku mengusir anda dari sana," ucap Aileen lagi, kata-kata yang masih dia tujukan pada Helda.
Setelah hari ini Aileen tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Helda, Freya dan Pharsa. Sudah cukup penderitaan yang dia alami beberapa tahun terakhir.
__ADS_1
Kini dia bukan lagi wanita lemah, maaf baginya bukan berarti kembali bersama.
Freya dan Pharsa tergugu, mengingat betapa sulitnya mereka bertahan hidup setelah keluar dari CSM dan rumah utama.
"Ai, tidak bisakah kamu memaafkan kami?" tanya Freya lirih, menatap nanar dan penuh harap pada adik kecilnya.
"Aku sudah memaafkan kalian, tapi maaf kita tidak bisa memiliki hubungan apapun." balas Aileen tak iba sedikitpun, keputusannya sudah bulat.
Dulu mereka bisa hidup bersama menjadi sebuah keluarga, andai setelah sang ayah meninggal tidak ada yang berubah.
Namun nyatanya, hanya beberapa jam setelah sang ayah meninggal. Helda, Freya dan Pharsa langsung melemparnya ke gudang.
"Ayo Kak, kita pulang," ajak Aileen pada sang suami.
Sedari tadi Hansel hanya diam menyerahkan semua keputusan pada sang istri.
Aileen juga langsung memeluk lengan Havana dan meninggalkan ruangan sang pengacara.
Helda tergugu, dia tertawa miris.
__ADS_1
"Kalian yang bodoh! kalian yang BODOH!" pekik Helda pada kedua anaknya.
"Andai kalian pintar sedikit saja, CSM tidak akan jatuh ke tangan Aileen!"
"Cukup Ma! percuma marah, kita bisa apa? mengajukan tuntutan? tuntutan untuk apa? sejak awal memang hanya Aileen lah pewaris utama keluarga Clarke!" jawab Freya dengan suara tak kalah tinggi.
Pharsa hanya diam, dia menunduk dan menyesalkan semua yang terjadi.
"Jadi aku harus terima? Ha? dengan uang segini bagaimana aku bisa hidup? Sisa warisan kita hanya cukup untuk hidup 1 bulan!"
"Tidak-tidak, aku tidak akan membagi harta ini dengan kalian." Timpal Helda lagi, dia memeluk erat koper kecil berisi sejumlah uang dan sertifikat rumah untuk mereka. Dia tak sudi membaginya dengan sang anak. Ingin dia kuasai sendiri.
Dan melihat sikap sang ibu, Freya dan Pharsa sampai tak mampu berkata-kata.
Betapa sang ibu sangat memuja uang atas segala hal, termasuk anaknya sendiri.
Saat itu juga bahkan Helda langsung berlari keluar, tidak ingin Freya dan Pharsa merebut koper harta miliknya.
"Astaga," gumam Freya, dadanya terasa sangat sesak. Melihat sikap sang ibu, semakin membuatnya merasa jika selama ini mereka telah salah menjalani hidup.
__ADS_1