
Angeline duduk di kursi meja rias dan menatap pantulan dirinya sendiri di dalam cermin. Dengan perlahan dia tutupi bekas percintaannya dengan Robin tadi malam menggunakan foundation.
Karena tidak ingin membuat Robin marah jadi malam tadi Angeline melayani suaminya itu dengan semua kemampuan yang dia punya.
Kini tubuhnya seperti remuk redam tapi dia harus tetap terlihat cantik di hadapan Hansel.
Angeline melirik suaminya yang masih tertidur, dia tidak peduli itu dan keluar lebih dulu menuju makan.
Sayup-sayup terdengar olehnya banyak suara dari arah dapur, semakin dekat akhirnya dia melihat Hansel, Havana dan Aileen sudah duduk disana.
"Kalian sudah turun," ucap Angeline, lalu duduk di salah satu kursi, duduk di hadapan Hansel.
Havana dan Hansel hanya diam hingga akhirnya Aileen yang bersuara.
"Iya Ma," jawab Aileen, membuat Angeline menatap ke arahnya dan langsung fokus pada banyak bercak merah di leher sang menantu.
Kedua tangan Angeline terkepal diatas meja, dia lalu menatap wajah tampan Hansel yang kini tidak pernah lagi melihat ke arahnya.
"Han, aku akan siapkan sarapan untuk mu," ucap Angeline, dia bahkan langsung bangkit dan hendak mengambil piring kosong di hadapan pria berwajah dingin ini.
"Tidak perlu Ma, Hansel suamiku, biar aku yang siapkan," ucap Aileen cepat, dia lebih dulu merebut piring kosong milik suaminya itu.
Dari tatapan Angeline, Havana bisa tahu jika ibu tirinya ini masih mencintai sang kakak.
__ADS_1
Dasar wanita tidak tahu diri, dia sudah menikah dengan Papa tapi masih menginginkan kak Hansel. Lihatlah, aku akan membuat mu berpisah dengan Papa dan keluar dari rumah ini. Batin Havana.
Akhirnya mereka mulai sarapan tanpa ada Robin.
"Hansel, aku ingin bicara berdua dengan mu, bisakan?" tanya Angeline ketika mereka semua sudah selesai makan.
Angeline melirik Aileen dan Havana, seolah mengusir dengan tatapan itu.
"Tidak, Aileen tidak bisa jalan sendiri," jawab Hansel.
"Aku bisa sama Havana kok Kak, kakak bicara saja dulu dengan Mama. Aku tunggu di ruang tengah," ucap Aileen, dia tidak merasa cemburu sedikitpun dengan keadaan ini.
Aileen sudah sangat percaya pada cinta mereka. Pada Hansel yang akan selalu setia.
"Baik lah," jawab Havana.
Aileen bangkit dan berjalan tertatih menuju ruang tengah, dia juga memeluk lengan Havana agar tetap kuat berdiri.
"Kenapa bisa sampai seperti ini sih?" tanya Havana kesal.
"Punya kak Hansel besar sekali_"
"Argh! Stop! aku tidak mau dengar."
__ADS_1
"Tadi tanya."
"Diam!"
Aileen mencebik, mereka duduk di sofa ruang tengah dan memutuskan untuk menonton televisi.
Meninggalkan Angeline dan Hansel yang masih sama-sama duduk di meja makan.
Angeline menatap lekat kedua mata Hansel, seolah ingin menunjukkan cinta yang masih baca di dalam hatinya melalui tatapan itu.
Tapi Hansel tetap saja membalas dengan tatapan dingin.
"Apa kamu melakukannya dengan Aileen?" tanya Angeline lirih, ingat betul dulu Hansel tak pernah mau lebih dari sekedar mencium kening.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? jika tentang keluargaku, aku tidak membaginya dengan siapapun." balas Hansel.
Angeline terdiam, merasakan hatinya yang seperti ditusuk seribu jarum.
"Aku masih mencintai kamu Han, waktu itu aku dijebak papa Robin. Dia merenggut kesucian ku dan aku tidak punya pilihan lain." Kedua mata Angeline mulai berkaca-kaca, untuk mendukung kebohongannya.
Tapi sungguh, Hansel sedikit pun tidak merasa iba. Dia malah menjawab dengan ucapan yang lebih menyakitkan ...
"Jika terpaksa berpisah lah dengan Papa, lalu keluar dari rumah ini. Dan jangan pernah berpikir untuk keluar dari rumah ini dengan membawa harta keluarga Braile, karena kamu tidak lebih dari sekedar orang asing."
__ADS_1