Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC Bab 103 - Gadis Kecilnya


__ADS_3

Denis semakin hanyut dalam ciumannya sendiri pada sang kekasih, terlebih desahaan-desahaan lembut yang Havana keluarkan semakin membakar hasrat yang ada di dalam dirinya. Ciumannya terus turun, dari bibir hingga ke leher jenjang gadis itu.


Sampai akhirnya kedua mata Denis membola saat melihat kedua dada sang kekasih sudah tak berpenghalang.


Astaga. Batin Denis, dia bahkan tidak tau kapan kekasihnya itu membuka bagian ini.


Denis lantas menyudahi ciumannya, mengangkat wajah dan menatap sang kekasih.


"Kenapa?" tanya Havana lirih, kenapa sang kekasih mnyudahi ciumannya padahal dia sangat menikmati ini, membuat tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.


Namun Denis tidak menjawab, dia malah kembali mengecup bibir Havana sekilas dengan satu tangan yang meremaas kuat salah satu dadanya.


Havana bahagia sekali, sudah tidak sabar memberikan seluruh tubuhnya.


Tapi kemudian dia harus menelan kekecewaan, karena setelah meremas dadanya, Denis malah kembali memasang tank top miliknya, tank top yang sudah ada cup bra nya langsung.


Kedua buah sintal itu kembali tertutup dengan rapat.


"Iiihh kak Denis," rengek Havana. bibirnya mengerucut merasa kesal. Keinginannya sudah di ubun-ubun tapi kekasihnya itu masih saja menahan diri.


"Hav."


"Apa?!" jawab Havana ketus.


"Jangan lagi berbuat sesuatu yang akan membuatku cemburu."

__ADS_1


"Cium dulu!"


"Kamu tidak takut dengan kak Hansel?"


"Biar saja, kan kalau sama kak Denis boleh."


"Aku tidak mau mengecewakan kepercayaannya."


"Sekaliii saja, ya?" pinta Havana, dia bahkan mulai menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Menggesek sesuatu yang ada di dalam celana sang kekasih. Sesuatu yang jelas sekali jika sudah berubah bentuk jadi lebih besar.


"Turun."


"Tidak mau."


Denis tak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat sang kekasih memasang wajahnya yang sensual, begitu menggoda. Otaknya memang masih waras, namun hasratnya pun tak terbendung lagi.


Denis kemudian turun dan akhirnya mencium kedua buah sintal itu, mengullumnya salah satu hingga membuat Havana seperti melayang rasanya.


Denis pun menggerakkan pula pinggul sang kekasih, meski tanpa penjagaan namun Havana tetap merasa ada serangan di bawah sana.


Menyerangnya tepat di titik paling sensitif, hanya seperti itu saja Havana berhasil mendesaah panjang, lalu terkulai lemas di pelukan.


Gadis sepolos ini namun seolah tidak sabar melakukan hubungan badan. Denis tersenyum menyeringai, merasa di malam pertama mereka nanti, Havana pasti akan menangis merasakan sakit dan hasratnya yang tak akan mudah padam.


"Kak." Lirih Havana, nafasnya masih memburu.

__ADS_1


Denis pun memeluk erat kekasihnya, juga kembali membenahi tank top milik Havana. kembali menciumi wajah kekasihnya dengan sayang.


"Aku mencintaimu," ucap Denis.


Sebuah ucapan yang membuat kedua pipi Havana semakin merona. Merona karena malu telah mendesaah panjang, dan merona karena tersipu mendengar kata cinta itu.


"Aku lebih mencintai kak Denis, sangat banyak."


"Benarkah?"


"Iya."


"Bagaimana jika ternyata aku yang lebih banyak mencintai kamu?"


"Itu pasti bohong."


"Tidak, aku sudah mencintai kamu sejak kamu kabur dari rumah."


Kedua mata Havana mendelik, saat itu ayah Robin baru saja menikah dan dia memutuskan untuk pergi ke luar negeri.


Hansel dan Denis datang ke LN memintanya pulang namun dia menolak, selama disana Denis terus mengawasinya selama 1 Minggu. Selalu berada di dekat dia meski tidak menyapa.


"Bohong," ucap Havana lagi, dia tidak akan percaya ucapan kekasihnya itu.


Namun Denis malah tersenyum kecil.

__ADS_1


"Tidak, selama ini aku yang mencintai mu lebih banyak." balas Denis, kembali mencium bibir kekasihnya mesra dan memeluk Havana erat.


Gadis kecilnya yang mesyum.


__ADS_2