
Tangis Aileen dan Havana reda.
Havana masuk lebih dulu untuk mandi sementara Aileen masih duduk disini bersama sang calon suami.
Hansel bersandar pada sofa itu dan menggenggam erat salah satu tangan wanitanya, sama-sama melihat senja yang mulai berwarna jingga.
"Ai."
"Iya Kak."
"Sini."
Hansel sedikit menarik tangan Aileen hingga gadis ini jatuh ke dalam dekapannya. Bersandar di dadanya yang kini menggunakan kemeja berwarna putih. Sementara jas hitamnya sudah dia lepas dan di sandaran pada ujung sofa.
Aileen menikmati pelukan itu, menghirup aroma tubuh Hansel yang menenangkan baginya.
"Jangan menangis lagi, hem?"
"Iya."
"Besok hari pernikahan kita, hari bahagia yang akan kita ingat untuk selamanya."
Aileen terdiam, tiap kali dia mendengar Hansel bicara seperti ini rasanya dia tenang sekali.
"Sehabis pesta pernikahan nanti kita akan langsung pulang ke rumah utama. Kamu siap?"
Aileen mengangguk, Havana sudah mengatakan semua pada Aileen. Tentang Angeline yang menikahi ayahnya hanya demi harta.
Wanita rubah itu berniat menguasai semua kekayaan keluarga Braile. Termasuk rumah utama yang banyak menyimpan kenangan indah bagi Havana dan Hansel.
Dan setelah pernikahan ini nanti terjadi, rumah itu akan jadi milik Hansel dan Aileen lah nyonya rumah nya.
Jadi Aileen tak boleh lemah, karena semua kuasa akan ada di bawah tangannya.
__ADS_1
"Saat aku pergi, kamu akan selalu ditemani Havana."
"Iya Kak, Kak Hansel terlalu mencemaskan aku."
"Tentu saja aku cemas, karena kamu masih kecil."
"Tapi walaupun masih kecil, aku sudah bisa diajak buat anak kecil."
"Ai."
Aileen terkekeh, dia semakin memeluk prianya.
"Aku cuma bercanda Kak."
"Jangan memancing ku."
"Kata Havana_"
"Tidak ada kata Havana."
Lantas dengan segera Hansel mengecup bibir itu, kecupan cukup lama namun tanpa lumaatan.
Membuat Aileen seketika tergugu, dia hanya diam saat Hansel menyapu bibir bawahnya menggunakan ibu jari.
"Jangan nakal," ucap Hansel, setelahnya dia melepaskan Aileen dari dekapannya. Lalu bangkit dan mengambil jas.
"Masuk dan mandi lah, aku juga mau mandi," ucap Hansel sekaligus memberi perintah.
Tapi Aileen tetap mencebik, dia masih ingin bersama tapi Hansel malah mau meninggalkan dia.
"Kak, aku kan masih mau di peluk," rengek Aileen, dia juga bangkit dan langsung memeluk lengan kekar Hansel.
Tapi Hansel tak peduli, dia tetap berjalan masuk dan Aileen mengikuti.
__ADS_1
"Ini sudah hampir jam 6, sebelum waktu semakin malam cepatlah mandi."
"Kenapa kita tidak mandi bersama saja?"
"Ai."
"Iyaaa."
"Kamu tidak malu?"
"Malu, tapi kata Havana aku harus berani."
"Havana lagi."
"Cuma dia temanku."
"Jika dia meminta mu untuk menghabiskan malam bersama ku apa akan kamu turuti juga ?"
"Memangnya kak Hansel mau?"
Astaga. Hansel sampai kehabisan kata-kata. Mereka berhenti di depan pintu kamar Hansel yang masih tertutup.
"Kamu tidak takut?"
"Asal bersama kak Hansel aku tidak takut."
"Baik lah, nanti kita lakukan. Sekarang kembalilah ke kamar mu. Kita simpan semua itu untuk malam pertama. Mengerti?"
Aileen tersenyum, entah kenapa jadi merasa bahagia sekali.
Tanpa aba-aba Aileen berjinjit, menggantungkan kedua tangannya di pundak Hansel dan mengecup sekilas bibir prianya.
Sontak saja Hansel menahan pinggang Aileen dan membalas dalam ciuman itu.
__ADS_1
Kini tak ada lagi canggung diantara ciuman yang mereka ciptakan, kini yang ada hanya satu kata ...
Candu.