
Dengan bibirnya yang mencebik Havana keluar dari dalam kamar mandi dan sudah mengganti bajunya dengan seragam petugas keamanan CSM.
Baju itu sedikitpun tidak mengurangi kecantikan Havana, bahkan terlihat lebih bersinar. Apalagi saat Havana mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda, takkan ada yang bisa menandingi kecantikannya.
"Bagus, sekarang ayo kita berkeliling," ucap Belinda. Sedari tadi dia menunggu di depan pintu kamar mandi.
Havana tak punya pilihan lain selain mengekori kemanapun Belinda akan mengajaknya pergi.
Pertama, mereka berkeliling di lobby Mall. Kecantikan Havana makin mencuri perhatian saat dia mengunakan baju seragam tim keamanan.
Beberapa pemuda bahkan berulang kali bersiul menggoda nya.
Havana tidak marah, malah balas dengan mengedipkan matanya genit.
Benar, untuk apa aku marah-marah. Lebih baik aku nikmati pekerjaan ini. Batin Havana, yang sudah mulai menemukan kembali arah tujuan hidupnya.
Hari itu Havana sangat sibuk, dia kadang membantu nenek tua yang terlalu banyak membawa barang, juga ganti menggendong balita saat ibunya kesulitan membawa troli belanjaan.
__ADS_1
Havana berulang kali kesana kemari, sibuk sekali. Meski menggunakan sepatu ber hak tinggi namun tidak menggangu pergerakannya.
Saat makan siang tiba, Belinda kembali ke ruang keamanan. Sementara Havana memutuskan untuk makan di salah satu cafe Mall. Selain tidak membawa bekal, dia juga ingin mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat.
Baru mendudukkan bokongnya di kursi, tiba-tiba ada dua pemuda yang mendekati dia.
"Boleh makan siang bersama?" ucap salah satunya dan Havana pun mengangguk. Saat tinggal di luar negeri sudah hal biasa baginya bertemu dengan banyak orang dan langsung akrab.
Dan mendapat izin dari Havana kedua pria itu lantas tersenyum senang. Kapan lagi makan siang bersama dengan wanita cantik seperti ini.
Saat menunggu pesanan tiba, mereka saling berkenalan. Pria pertama bernama Bima dan yang kedua bernama David. Mereka seorang karyawan di salah satu perusahaan yang tak jauh dari Mall. Datang keosini juga hanya untuk makan siang.
"Kamu bekerja disini?" tanya David.
"Sebagai petugas keamanan?" tanya David lagi dengan raut wajah yang seolah tak percaya.
Pasalnya Havana terlihat lebih cocok menjadi seorang artis daripada petugas keamanan Mall.
__ADS_1
"Iya, ini hati pertama ku bekerja."
"Hari pertama kamu bekerja dan sudah makan siang di cafe?" tanya Bima, sebuah pertanyaan yang mengundang gelak tawa di antara mereka bertiga.
Havana pun bingung harus menjawab apa. Sementara David dan Bima merasa ini semuanya terdengar seperti lelucon.
"Harusnya kamu jadi pemilik Mall ini, bukan petugas keamanannya," ucap Bima setelah tawanya mereda.
"Sebenarnya Mall ini memang untukku, tapi aku tidak mau," jawab Havana pula. Jawaban yang lagi-lagi membuat Bima dan David tertawa. Sebuah candaan yang Havana ucapkan seolah itu adalah sungguhan.
"Akting mu bagus sekali, kalau ada casting cobalah ikut. Jangan terus jadi petugas keamanan."
"Baiklah," jawab Havana seolah patuh.
Saat pesanan tiba mereka bertiga lantas makan siang bersama. Sesekali obrolan dan tawa ringan terselip disana.
Saking asyiknya, Havana sampai tidak menyadari jika diambang pintu kafe ini ada seorang pria yang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Kepala Denis seperti mau pecah saat melihat wanitanya diapit oleh dua pria sekaligus.
"Dasar kucing nakal, awas kamu ya," Geram Denis.