
Wajah Havana yang cemberut perlahan berubah jadi ceria saat dia lihat sang kekasih sudah duduk di meja makan bersama sang ayah.
Meski keduanya hanya saling diam dan terlihat canggung, namun tetap membuat Havana merasa bahagia. Apalagi saat ingat ucapan Denis tadi siang, saat sang kekasih mengatakan jika malam ini dia akan bicara pada Robin dan Hansel tentang niatnya untuk menikahi Havana.
Dengan senyumnya yang lebar, Havana duduk di samping Denis.
Kemudian di susul pula oleh Hansel dan Aileen di kursi masing-masing.
Makan malam berlangsung dengan tenang.
Setelahnya mereka semua duduk bersama di ruang tengah, kebersamaan yang tak pernah terjadi karena selama ini Robin tinggal di rumah yang lain.
"Besok aku dan Aileen akan langsung pergi untuk bulan madu," ucap Hansel, pria yang tak bisa basa basi ini langsung saja mengiyakan apa yang ada di isi kepalanya. Sementara Aileen yang mendengar ucapan itu langsung mencubit pelan perut sang suami, cubitan sembunyi-sembunyi agar tak mampu dilihat oleh orang lain.
Harusnya tanyakan dulu tentang kabar Robin, tentang kesehatannya ataupun keseharian sang ayah yang telah lama tidak tinggal bersama. Tapi Hansel malah langsung bicara tentang bulan madu mereka.
__ADS_1
Dan Hansel yang tidak peka dengan kode dari sang istri hanya diam, malah kembali berucap ...
"Belum tau mau sampai kapan disana, rencananya aku tidak akan pulang sebelum Aileen hamil."
Astaga, batin Havana dan Aileen kompak.
Denis yang mendengar berita terbaru itu pun jadi mengurungkan niatnya untuk melamar sang gadis, merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Jadi dia hanya diam, tapi tidak menyangka jika malah Havana yang buka suara.
"Tapi kak Denis mau melamar ku, bagaimana dong?" tanya Havana langsung, sama seperti sang kakak yang asal ceplos, tak peduli ini dan itu, yang penting niatnya tersampaikan dengan jelas.
"Maaf Tuan, jika anda dan tuan Hansel merestui, saya ingin melamar Havana," ucap Denis kemudian, wajahnya yang biasa terlihat datar kini jadi lebih gugup. Tak menyangka jika rasanya akan semenakutkan ini saat ingin meminta izin.
Sebuah pertunangan adalah ikatan kuat sebelum pernikahan. Seperti janji suci untuk selalu bersama sampai tiba di hari bahagia nanti.
Havana yang mendengar ucapan tulus itupun tersenyum seraya menatap haru. Dalam cinta mereka tak pernah membedakan kasta.
__ADS_1
Havana dan Hansel masih diamz sementara Aileen juga sudah ikut tersenyum bahagia mendengar pernyataan itu. Kini semua orang tengah menunggu Robin untuk buka suara.
Dan pria paruh baya ini bukannya langsung menjawab, malah menangis dan meneteskan air matanya.
Haru dan bahagia yang datang bersamaan, dia kira setelah perselisihan panjang diantara dia dan kedua anaknya, Robin tak akan bisa mendampingi Havana untuk bertunangan ataupun menikah.
Dia kira hanya akan jadi penonton melihat kebahagiaan anak-anaknya, tapi ternyata tidak. Ternyata Hansel dan Havana masih menerima dia dengan sepenuh hati. Bahkan memberi kesempatan untuk mengambil keputusan penting ini.
"Pa, kenapa menangis?" tanya Havana, dia bangkit dan pindah duduk di sebelah sang ayah.
"Ayo segera kita adakan pesta pertunagnan, setelah itu baru Hansel dan Aileen bukan madu? ya?" putus Robin, Havana langsung memeluk ayahnya erat, sementara Hansel mendengus kesal, tapi meski begitu, dia tetap setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya kalau up nya cuma satu-satu bahkan gk nentu, tapi kisah ini cuma bonus chapter, sementara fokus author di novel ongoing (Danu dan Elma)
__ADS_1
Semoga meski up nya cuma satu-satu tetap bisa menghibur ya ❤️