
Aileen lebih dulu masuk ke dalam kamarnya, sementara Hansel dan Robin masih duduk di kursi ruang tengah lantai 1. Kedua pria itu tidak langsung berpisah, seolah masih ada yang harus diselesaikan diantara keduanya.
"Apa benar Aileen hamil Hans?" tanya Robin, memulai pembicaraan diantara mereka. Robin juga menatap penuh harap pada Hansel, sangat berharap jika benar sang menantu telah mengandung. Bahkan dalam benaknya mulai terbayang saat dia menghabiskan waktu tuanya bersama sang cucu.
Hanya membayangkannya saja sudah membuat Robin merasa sangat bahagia.
Dan Hansel yang masih merasa canggung dengan kebersamaan mereka pun hanya mampu tersenyum kecil, dia tak pandai berbasa basi apalagi sampai berbohong.
Jadilah dia mengatakan semua kebenaran dengan gamblang.
"Aileen tidak hamil, lebih tepatnya belum hamil. Havana hanya bohong." Jelas Hansel tanpa ada rasa bersalah sedikitpun, wajahnya bahkan tetap datar tanpa ekspresi.
Seolah tak peduli pada Robin yang kini wajahnya langsung pias, sangat terkejut bercampur kecewa.
"Benarkah? jadi Havana hanya bohong?"
"Iya." Jawab Hansel singkat.
__ADS_1
Dan Havana yang baru masuk ke dalam rumah dan mendengar pembicaraan itu pun juga syok. Dia mendelik menatap sang kakak, tapi yang ditatap malah memalingkan wajah.
"Pa, bukan maksud ku bohong!" bela Havana dengan suaranya yang tinggi, tiap kali dia bicara rasanya seluruh orang di rumah besar ini mampu mendengar suaranya.
Apalagi saat bicara dengan Aileen, dua gadis itu suaranya sudah sama seperti 10 orang.
"Aku mana tau kalau Aileen belum hamil, ku kira Aileen sudah hamil, begitu!" bela Havana, Hansel yang mendengar pembelaan sang adik pun hanya memutar kedua bola matanya malas.
Sementara Robin hanya diam saja, sesaat dia lupa jika anak gadisnya adalah seorang pembohong.
"Begini saja," ucap Hansel, dia kembali buka suara dan membuat perhatian Havana dan Robin hanya tertuju ke arahnya.
"Jadi apa?" potong Havana dengan cepat saat Hansel masih mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Jadi kamu harus mengurus Clarke Super Mall untuk menggantikan Aileen semasa kami bulan madu, aku juga akan meminta Denis untuk mengatur semua pekerjaan ku di perusahaan." jelas Hansel, ini adalah hukuman Havana karena sudah berani berbohong, bohong dengan membawa-bawa istri tercintanya.
Mendengar itu tentu saja Havana tercengang. Entah kenapa kini dia merasa sang kakak sedang memanfaatkan dia, apalagi saat ini Havana sudah diwisuda.
__ADS_1
"Mana bisa seperti itu? memangnya berapa lama kalian bulan madu?" sanggah Havana, dia tidak terima begitu saja. Jika bisa ingin menolak.
"1 bulan, ah tidak, sampai Aileen hamil."
"Astaga!" Havana menyentuh tengkuknya yang berdenyut nyeri, tidak menyangka jik sang kakak akan semaniaak ini.
Bulan madu selama 1 bulan? apa mereka kuat? Batin Havana.
Dan Robin yang mendengar perdebatan kedua anaknya pun hanya mampu geleng-geleng kepala. Namun dia tersenyum, karena akhirnya bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga.
"Sudahlah Havana, terima saja. Jadi kamu bisa memanfaatkan ilmu mu selama kuliah, mengatur manajemen di CSM," ucap Robin pula, namun Havana langsung menggelengkan kepalanya kuat.
"Tapi kan aku juga mau liburan dulu Pa, habis wisuda niatku mau jalan-jalan dulu ke luar negeri. Masa langsung kerja!"
Hansel tak peduli itu, dia langsung bangkit dan naik ke lantai dua.
"Kak Hansel! aku tidak mau!" pekik Havana.
__ADS_1
Tapi Hansel tetap tidak peduli.