
Lagi mode ngebut, maaf ya kalau banyak typo. Komen aja nanti ku perbaiki. Ampun, wkwkwk
"Katakan, apa mau mu tentang hubungan ini?"
"Kenapa kak Denis jadi banyak menuntut, aku kan jadi bingung," jawab Havana dengan bibir mencebik. Terus disudutkan membuatnya bingung. Bahkan seolah linglung dengan semua yang terjadi.
"Jika hanya main-main ayo kita tentukan sampai kapan? 1 minggu, 2 minggu atau 1 bulan?"
Havana makin mengerucutkan bibir. Mendengar itu dia makin kesal, entah apa maunya hati ini.
"Kalau tidak ingin main-main jangan berpikir untuk berpisah," ucap Denis lagi, lagi dan lagi.
Deg! dada Havana yang sesak kini kembali berdebar, ucapan tegas dari Denis mampu membuatnya merasakan kebahagiaan lagi. Setelah dicerca dengan banyak kata pisah yang membuatnya benci.
"Jawab, kenapa sekarang jadi kamu yang pendiam?" Denis terus bicara, memang sengaja untuk membuat gadis ini diam.
"Ingin aku yang putuskan semuanya?" tawar Denis. Terus memojokkan nona muda keluarga Braile.
"Baiklah, tidak ada kata percobaan," ucap Denis dengan suara yang sangat lembut, mirip hembusan angin pantai di pagi hari. Mengakhiri ucapannya yang terus menyudutkan Havana.
Tidak menciptakan jeda yang cukup lama, Denis langsung mencium bibir Havana. Ciuman pertama yang selama ini Havana idam-idamkan.
Sentuhan lembut di bibir itu membuat Havana menegang, tubuhnya bergetar tak karuan. Sesaat dia tergugu, matanya mendelik dan tak berkutik.
__ADS_1
Sampai akhirnya Denis melepaskan ciuman itu dan membelai lembut bibir wanitanya.
"Sekarang kamu adalah kekasih ku, kekasih yang sesungguhnya," ucap Denis.
Dia tidak pernah mau main-main.
Sementara Havana masih membeku, namun mendengar dengan jelas semua ucapan Denis. Havana tak mampu berkata-kata, hanya terdiam merasakan hatinya yang jatuh cinta.
Malam berjalan semakin larut.
Jam 10 malam mereka semua sudah pulang.
Havana yang hatinya tengah berbunya-bunga langsung menuju kamar. Sementara Hansel dan Aileen masih di dapur untuk membuat minuman hangat, perut Hansel sedikit kembung.
Hansel menerima itu dan menyeduhnya sedikit.
"Kamu minum juga," titah Hansel dan Aileen menurut, mereka minum satu gelas berdua.
"Masih terasa sakit?" tanya Aileen, dia mengelus perut suaminya.
"Terasa lebih nyaman setelah minum ini."
"Cepat habiskan, setelah itu kita tidur."
__ADS_1
"Kenapa buru-buru? ingin memberi aku hadiah?"
"Hadiah apa?" tanya Aileen yang belum paham.
"Tadi malam kan belum."
"Iiss Kak Hansel!" kesal Aileen ketika mulai tahu ke mana arah pembicaraan sang suami, hadiah yang dimaksud ternyata bercinta dengan Aileen yang lebih aktif.
"Bagaimana?"
"Ya sudah cepat habiskan minumannya."
"Benar ya?"
"Iyaa," jawab Aileen manja, suara lembut dan mendayu yang membuat Hansel tak mampu berkata-kata, dia selalu jatuh cinta dengan sang istri.
Setelah minuman itu habis, mereka saling bergandengan tangan dan melangkah dengan kaki lebar menuju lantai 2. Menaiki anak tangga dengan sedikit berlari dan senyum yang sama-sama terukir lebar.
Lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat.
Aileen menjerit ketika Hansel langsung menyerangnya tiba-tiba. Sebuah serangan yang membuatnya merasa geli, Aileen tertawa namun lama-lama tawa itu jadi desaah yang sangat menggoda.
Brug! keduanya jatuh dia atas ranjang, saling tatap dengan begitu dalam lalu berciuman.
__ADS_1
Di mulai dari ciuman hingga berakhir dengan penyatuan.