Bride Of Choice

Bride Of Choice
BOC BAB 67 - Ingin Merasakan


__ADS_3

Hansel kembali menurunkan gaun sang istri, melepasnya secara perlahan turun melewati lengan.


Sementara kedua pipi Aileen sudah sangat merah, darah dalam tubuhnya seolah mendidih. Terlebih saat Hansel melepaskan bra yang dia pakai dan menatapi kedua buah dadanya yang mulai tegang.


"Jangan dilihat terus," cicit Aileen.


Mendengar itu Hansel mengulum senyumnya, lalu menahan tengkuk sang istri dan mencium bibir Aileen dalam. Ciuman menuntut dengan salah satu tangan meremaas kuat dada istrinya.


Secara alami Aileen menggeliat, menciptakan gerakan yang semakin membakar hasrat dalam tubuh Hansel. Dalam pagutan itu, Hansel dan Aileen sama-sama saling bantu untuk menanggalkan semua pakaian, hingga tiba saatnya Aileen harus menenggelamkan senjata sang suami.


Perlahan namun pasti Aileen telah berhasil, namun dia segera memeluk erat tubuh Hansel ketika merasakan sakit yang terasa terasa.


Seolah dia ditusuk di bagian terdalam, Aileen tak mampu bergerak.


"Sakit?" tanya Hansel dan Aileen mengangguk.


"Iya, Sakit," lirih Aileen, wajahnya merengek ingin menangis.


Hansel membelai wajah itu dan mengecup bibir istrinya sekilas. Lalu turun menyesali kedua buah dada sang istri secara bergilir.


Dan lagi-lagi mampu membuat gadis kecil ini kembali menggeliat tak karuan, tanpa sadar menggerakan pinggulnya naik turun secara perlahan.


Hingga menemukan sebuah kenikmatan.


"Kak," lirih Aileen, dalam posisi seperti ini dia mudah sekali mendapatkan puncak kenikmatan. Baru sebentar dia bergerak dan kini mulai menegang hebat, lalu jatuh terkulai lemas di atas dada bidang Hansel.


Mendapati istrinya sudah tak berdaya Hansel tersenyum kecil, dia lantas membaringkan hatinya itu di atas sofa dan mulai menghentaknya dalam.

__ADS_1


Hingga desaah Aileen yang teratur menggema di ruang sepi ini.


Hingga akhirnya kembali meraih puncak kenikmatan bersama sang suami.


Denyut itu masih terasa disaat keduanya sama-sama mengatur nafas agar kembali normal.


Di ruang makan.


Havana tidak melihat Aileen dan Hansel, Robin dan Angeline pun tidak ada. Hanya ada Denis di meja makan ini.


"Kak Denis, dimana kakak?" tanya Havana, dia duduk di sebelah asisten sang kakak.


"Masih di ruang kerja Nona."


"Aku panggil duku deh."


Dan mendapati sentuhan Denis itu membuat Havana mengulum senyum, selama ini dia selalu menggoda Denis tapi tidak pernah berhasil.


Dan saat dia ingin menyerah tiba-tiba Denis malah menyentuh tangannya.


"Kenapa? tidak mau ku tinggal ya?" tanya Havana dengan kedua mata yang menatap menggoda.


"Lebih baik Anda makan dulu, tuan Hansel pasti akan turun sendiri jika beliau sudah merasa lapar," jelas Denis, perlahan melepaskan gengamannya di lengan Havana.


Sebenarnya bukan itu alasan Denis, dia hanya takut nanti Havana menemukan sesuatu yang tidak wajar di ruang kerja tuannya itu.


Apalagi sebelum pergi tadi, Hansel dan Aileen sudah pangku-pangkuan, lalu hingga kini keduanya belum keluar.

__ADS_1


Denis tahu betul apa yang terjadi disana.


Havana tersenyum, lalu kembali duduk. Kemudian makan di sebelah asisten Denis.


"Saya akan mengantar anda Nona," ucap Denis ketika mereka sudah selesai makan.


Havana mengangguk, lalu mengikuti langkah Denis untuk keluar dari rumah.


"Aku duduk di depan," ucap Havana. Dia langsung duduk si samping kursi kemudi tak peduli meski Denis sudah membuka pintu belakang.


"Baiklah Nona." jawab Denis, sikapnya selalu konsisten, patuh selayaknya asisten. Tak peduli jika Havana terus berusaha membuat mereka dekat.


Mobil itu akhirnya melaju meninggalkan rumah utama keluarga Braile.


Havana berulang kali melirik Denis, dan selalu mendapati wajah datar pria itu.


"Kak Denis?"


"Iya Nona."


"Kenapa kak Denis tidak mau berpacaran dengan ku? padahal aku cuma mau merasakan rasanya punya kekasih, kak Hansel tidak pernah memberikan ku kebebasan."


"Anda bisa mencari kekasih yang sesungguhnya, tidak perlu latihan."


"Kan sebentar saja, habis itu kita putus. Aku juga mau tahu rasanya patah hati."


Denis terdiam, ucapan Havana selalu saja di luar nalar.

__ADS_1


__ADS_2