
Hansel menutup buku laporan keuangan dan meletakkannya di atas meja. Dia lantas menonton televisi dan tetap membiarkan Aileen tidur di pangkuannya.
Seperti itu terus hingga waktu berjalan cukup lama, hingga Angeline tanpa sengaja melihatnya dari atas tangga.
Niatnya jadi urung untuk turun dan kembali mengunci dirinya di dalam kamar.
Menjelang sore Robin menyadari perubahan istrinya itu, dia mulai mendekati Angeline dan mengajaknya bicara.
"Kamu kenapa lagi?" tanya Robin, dia merasa kini Angeline jadi sering marah dengan alasan yang tak jelas.
Angeline tak langsung menjawab, dia malah memalingkan wajah. meletakan ponselnya asal di samping tempat duduknya di sofa kamar.
"Kamu marah karena Aileen?" tebak Robin, dia masih bicara dengan nada pelan. Sebagai kepala rumah tangga, Robin selalu berusaha untuk menjadi bijak. mencoba memahami istri mudanya yang masih menggebu-gebu.
"Tentu saja aku marah, bagaimana bisa Aileen jadi Nyonya Utama di rumah ini. Sementara aku adalah istri mu! aku ibu mertuanya!" Angeline berucap dengan suaranya yang meninggi, dia marah sekali.
Merasa harga dirinya telah diinjak-injak.
Dan mendengar itu Robin membuang nafasnya kasar, lelah juga selalu berulang kali memberikan penjelasan yang sama dengan Angeline.
Bahwa rumah utama milik keluarga Braile ini adalah milik Hansel, maka memang Aileen lah yang paling berhak menjadi nyonya utama.
__ADS_1
"Kamu ingin menjadi nyonya utama?"
"Tentu saja!"
"Kalau begitu ayo keluar dari rumah ini. Kita tinggal di rumah lain dan kamu jadi Nyonya utamanya."
"Mana bisa seperti Itu! bagaimanapun semua orang tahu jika rumah utama keluarga Braile adalah rumah ini, bukan rumah yang lain!"
"Cukup Angeline! aku sudah sangat bersabar menghadapi kamu. Jika kamu tidak bisa menerima keputusan Hansel tentang Aileen, aku akan membawa mu keluar dari rumah ini!" geram Robin, sebagai suami dia pun ingin dihargai. Namun Angeline selalu melalaikan itu.
Hanya diatas ranjang saja istrinya bisa memuaskan dia, sementara yang lain tidak.
Dan tidak ingin memperpanjang perdebatan ini, akhirnya Robin memutuskan untuk keluar dari kamar itu.
"Arght!" geram Angeline.
Sementara di luar sana, Robin menuju balkon di ruang keluarga lantai 2. Dia berdiri disana menikmati angin sore yang cukup kencang.
Bagaimana pun Angeline, kini wanita itu adalah istrinya. Meskipun sadar jika mungkin saja Angeline menikah dengannya hanya karena demi harta namun Robin tidak akan menceraikan Angeline.
Baginya pernikahan bukanlah mainan, maka apapun yang ada pada Angeline akan dia terima.
__ADS_1
Dan tentang Hansel kini Robin juga ingin memperbaiki hubungan di antara mereka.
Tentang masa lalu yang sudah terjadi tetap tidak bisa mengubah fakta bahwa mereka adalah keluarga.
"Pa?" panggil Havana, dia melihat sang ayah disini dan memutuskan untuk menghampiri.
Satu panggilan dari anak gadisnya itu membuat Lamunan Robin tersadar.
"Apa yang Papa lakukan disini?" tanya Havana, ikut berdiri di samping sang ayah. Rambut panjangnya menari dihembus oleh angin sore itu.
Sementara Robin tidak langsung mejawab, dia menoleh dan menatap sang anak yang sudah tumbuh semakin dewasa.
"Hav."
"Apa Pa?"
"Maafkan Papa."
Setelah dua kata itu terucap dari mulut Robin, mereka berdua sejenak saling diam.
Apa lagi saat ini adalah pembicaraan pertama setelah Havana pergi meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Maafkan Papa," ucap Robin sekali lagi. Tentang Angeline yang selama ini tidak pernah mereka bahas bersama.
Tapi lagi-lagi havana hanya diam, karena tiba-tiba sesak di hatinya datang.