
" kau tidak perlu basa-basi lagi Evi" ucap ayah Adila sambil melangkah ke arah Evi dengan tatapan mata penuh amarah.
" Pah,, a--ak---aku akan menjelaskan nya " jawab Evi sambil ketakutan dengan terbata-bata
" Tidak perlu dijelaskan lagi aku sudah mendengar kan semua nya" sambil berjalan memutari tubuh Evi yang sedang panik & bergematar
Habis sudah aku dengan suami ku 'batin evi'
" Bayu jawab papah dengan dengan jujur, apa mamah mu ini sering menampar mu ketika sedang kesal ?" Tanya ayah Adila ke arah Bayu dengan tegas.
" Seumur hidup Bayu mamah tidak pernah menampar Bayu pah, paling kalau lagi kesal cuma membentak saja" balas Bayu dengan sedikit menunduk.
Rupa nya Pertanyaan itu adalah sebagai teka-teki bagi nya.
" Lalu mengapa mamah mu ini justru dengan mudah nya menampar kakak mu ? Atau karena putri ku itu bukan darah daging nya. Kau tau Evi ? Bahkan aku sendiri pun sebagai ayah nya belum pernah menampar nya. Apalagi mendiang ibu nya Adila pernah berpesan kepada ku, jangan sampai aku ringan tangan terhadap nya jika sampai itu terjadi maka aku lah yang akan menanggung karma nya" langsung ucap ke inti pembahasan sambil mengitari Evi lagi dengan sorotan mata penuh amarah.
" Tapi kini semua kau yang memulai nya baiklah aku yang akan mengakhiri nya & kau harus terima itu" sambung nya lagi.
Evi kini diselimuti rasa ketakutan sampai-sampai ia mengeluarkan tetes air mata karena sudah pasti suami nya murka.
Sementara itu adila tengah melihat situasi seperti ini ia menatap ayah nya penuh dengan kemurkaan, pertama kali nya ia melihat sosok ayah nya semurka itu, karena ia tahu sendiri jika papah nya sudah murka maka akan membuat keputusan dengan bulat & tidak ada satu pun orang yang bisa menghalangi keputusan nya.
" Dan kamu Adila papah sangat kecewa terhadap mu, sering kali papah bertanya kepada mu tentang perilaku ibu tirimu terhadap mu, tapi kamu hanya menjawab bahwa ia begitu baik terhadap mu padahal kenyataannya tidak semanis itu" ucap papah Adila sambil menatap Adila dengan perasaan sedih.
" Maafkan Adila sudah berbohong pah, karena ini semua untuk kebahagiaan papah" balas Adila dengan sedikit menunduk.
" Bahkan kamu rela tersiksa seperti ini demi kebahagiaan papah, kalau begini cara nya lebih baik dari dulu papah tidak akan menikah dengan nya"
" Dan kamu Bayu apa kamu diam saja melihat tindakan mamah mu ini terhadap kakak mu?" sambung nya lagi sambil menatap ke arah Bayu .
__ADS_1
" Tidak pah, justru Bayu lah yang sudah menasehati mamah supaya berbaik hati terhadap ka Dila, tapi mamah membiarkan nya" balas Bayu sambil tertunduk karena ia pun juga baru pertama kali melihat papah nya marah sehebat ini tidak seperti biasanya yang selalu lembut.
Maaf mah Bayu harus bilang yang sejujurnya, karena menurut Bayu sikap mamah sudah keterlaluan terhadap ka Dila bahkan setelah ia beranjak dewasa pun mamah masih ringan tangan terhadap nya 'ucap batin bayu'
" Kau dengar sendiri Evi anak mu saja membela yang bukan kakak kandung nya bahkan ia sudah menasehati mu untuk berbuat baik kepada nya. Kau tidak usah menangis seperti itu aku sama sekali tidak akan mengasihani mu" ujar nya dengan tegas .
" pah, sudah pah lebih baik papah istirahat dulu" ucap Adila sambil menenangkan emosi ayah nya.
" bagaimana papah bisa tenang melihat kamu seperti ini" balas ayah Adila.
Adila pun tak bisa berkutik ia pun hanya bisa berdiam karena ia tahu betul sifat ayah nya jika sudah marah susah sekali untuk menenangkan nya.
" Rupa nya kau memusuhi Adila hanya soal aset-aset perusahaan ku, sungguh keji kamu Evi jika aku tidak tahu kelakuan mu lama-lama seperti ini mungkin saja kamu akan melenyapkan Adila perlahan bahkan termasuk diriku" sambung nya lagi sambil menunjuk Evi yang masih menangis.
Tak berapa lama ayah Adila pun berbalik badan dan sedikit melangkah lalu berhenti dan berkata " besok aku akan segera urus perceraian kita. Dan kamu bayu papah sudah terlanjur menganggap mu sebagai anak sekaligus percaya bahwa kamu menyayangi Adila maka dari itu kamu tinggal lah disini" ucap nya dengan tegas
" pah,, aku mohon beri aku kesempatan aku berjanji akan menebus semua kesalahanku terhadap Adila hiks,,,hiks,,,hiks,,, tapi mamah mohon pah, jangan ceraikan mamah" ucap nya sambil menangis sejadi-jadi nya.
Ayah Adila pun tak menanggapi nya ia pun pergi meninggalkan Evi yang sedang menangis tersedu, mungkin saja ini keputusan yang terbaik bagi nya.
Adila pun menghampiri ibu nya yang tengah menangis ia pun merasa iba terhadap nya karena pertama kali nya ia melihat ibu tirinya menangis sehebat itu.
" mah,,, sudah mah tenang kan diri mamah" Adila pun membelai punggung evi.
" Adila maafin mamah hiks,,,hiks,,,hiks,,, mamah menyesal telah berbuat jahat terhadap mu hiks,,,hiks,,,hiks" ucap evi sambil memohon sujud kepada adila, rupa nya ia telah mengakui kesalahannya.
" mamah ini apa-apan sih jangan bersikap seperti itu, sebelum mamah minta maaf Adila sudah maafin mamah" balas Adila yang tak enak hati.
sementara itu Bayu hanya menatap mereka berdua ia pun tak tahu apa yang harus dilakukan.
__ADS_1
" Adila tolong jelaskan ke papah mu mamah tidak ingin cerai dengan nya hiks,,,hiks,,hiks,," ucap Evi sambil memeluk Adila.
" baik mah, nanti adila akan coba bujuk papah supaya tidak menceraikan mamah" balas Adila sampai ikut mengeluarkan air mata.
Disaat Evi memeluk nya dengan tiba-tiba Adila pun merasakan kenyamanan pelukan nya, karena sudah lama sekali ia tidak merasakan pelukan dari seorang ibu, Adila pun membalas kan pelukan nya dengan erat.
Tangisan Evi yang masih tersedu rupa nya membuat dirinya tak sadar kan diri.
" mah,,, mah,, mamah" Adila pun membangun kan nya dengan menggerakkan tubuh & pipi nya namun tidak ada respon dari nya.
" mamah kenapa kak ?" tanya Bayu yang terlihat panik.
" seperti nya mamah pingsan, sebaiknya bawa ke kamar kakak saja & mari kita gotong"
Adila dan Bayu pun menggotong ibu nya sambil dibawa ke arah kamar Adila, karena situasi seperti itu tidak mungkin jika dibawa kekamar Evi yang tengah disinggahi suami nya pula, takut nya terjadi keributan lagi.
mereka berdua pun mulai merebahkan tubuh Evi.
" bay, sebaiknya kamu segera pergi kekantor biar kakak yang urus mamah. Untuk hari ini ka Dila tidak pergi kerumah sakit dulu" perintah Adila kepada Bayu.
" baik ka kalau begitu Bayu pergi dulu, aku serahkan semua nya mamah kepada kakak" sahut Bayu, balas Adila hanya mengangguk.
Kemudian Bayu pun pergi dari hadapan adila dan suasana itu pun menjadi hening, kini Adila tengah merawat Evi yang sedang pingsan berhubung ia seorang dokter ia pun mampu menangani nya.
Dengan mengambil alat stetoskop milik nya yang slalu tersedia dikamar nya ia pun mulai memeriksa nya pada area jantung .
" seperti nya mamah terlihat shock mungkin saja atas perkataan papah tadi, seperti nya aku harus membicarakan kepada papah secara baik-baik untuk mengurungkan niat nya" tutur Adila.
Bersambung,,,,,
__ADS_1