
Di kediaman rumah Adila tepat nya di kamar Evi sedang murung dan matanya pun tampak sembab karena menangis terus-menerus semenjak Bayu pergi dari rumah tersebut.
Sudah beberapa hari ini ia tidak nafsu makan dan tidak memperdulikan kesehatan nya menurut nya saat ini yang ia butuhkan hanya sosok Bayu, tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar nya.
'Tok....Tok...Tok...'
"Permisi nyonya. Saya bawakan makanan untuk nyonya tolong dibuka pintu nya" ucap bi Ina dengan sikap memprihatinkan terhadap majikan nya.
"Tidak perlu bi, saya tidak lapar" Evy menolak.
"Tapi nyonya, sudah beberapa hari ini anda tidak menyantap makanan bahkan mengurung diri didalam kamar. Saya khawatir dengan kesehatan nyonya" balas bi Ina dengan rasa panik.
"Saya bilang engga... Ya engga bi !!!! Lebih baik bibi makan saja sendiri" Evy membalas dengan nada emosi.
"Ada apa bi Ina. Kenapa mamah bicara seperti sedang marah" tiba-tiba Adila muncul serta memasang wajah heran.
"Anu non, sudah beberapa hari ini nyonya tidak mau makan dan mengurung diri dikamar"
"Lho !!! Kok bisa bi. Memang nya ada masalah apa ?" Rupanya Adila tidak tahu sama sekali dengan masalah yang dihadapi Evy karena beberapa ini ia tampak sibuk di rumah sakit.
"Yang saya tau Nyonya bertengkar dengan nak Bayu setelah itu nak Bayu pergi dari rumah dan sudah beberapa hari ini tidak pulang ke rumah"
"Pasti ada yang tidak beres. Ya sudah bi sini makanan nya biar saya yang akan bujuk mamah"
"Ini non" bi Ina memberikan baki kepada Adila yang di atas nya terdapat makanan serta segelas air putih.
"Kalau begitu silakan bibi lanjutkan kembali pekerjaan nya"
"Baik non bibi permisi dulu" bi Ina pamit dari hadapan Adila dan kembali mengerjakan pekerjaan nya yang belum diselesaikan.
"Mah...!!!! Tolong buka pintu nya mah ini Adila" perintah nya kepada Evy dengan ketukan pintu.
"Adila....!!! Mungkin saja ia bisa membujuk Bayu untuk kembali kerumah ini" gumam nya, kemudian ia melangkah kaki nya menuju pintu kamar serta membuka nya yang sedari awal dikunci.
"Adila !!!! Hiks...hiks...hiks... Untung kamu sudah pulang" Evy pun langsung menumpahkan air mata.
"Tenang mah apa yang terjadi kenapa mamah dan Bayu bertengkar karena sebelumnya kalian baik-baik saja" Adila bertanya dengan rasa panik serta khawatir dengan keadaan Evy yang terlihat lusuh.
"Hiks....hiks....hiks.... Bayu sudah mengetahui semuanya"
"Baiklah mah. Sekarang tolong mamah ceritakan Adila pasti akan membantu mamah".
__ADS_1
Evy pun menceritakan semua kejadian secara detail kepada Adila, ia pun percaya bahwa Adila bisa membawa Bayu pulang karena cuma Adila satu-satunya orang yang dekat dengan Bayu.
"Begitu rupa nya mah" ucap Adila yang telah memahami masalah Evy dengan Bayu.
"Tolong Adila bujuk Bayu pulang. Mamah tidak bisa jika harus berjauhan dari nya apalagi ia meninggalkan mamah dalam keadaan amarah"
"Baik mah Adila akan berusaha mencari Bayu, tapi sebelum nya mamah makan dulu Adila gak mau mamah sakit dan berlarut-larut memikirkan masalah ini"
"Saat ini mamah sedang tidak berselera makan" ujar Evy yang hampir frustasi.
"Jangan begitu mah, itu namanya egois sebesar apapun masalah yang mamah hadapi jangan sampai melupakan kesehatan"
"Baiklah mamah akan makan tapi setelah itu kita cari Bayu sama-sama"
"Gak usah. Mamah istirahat aja dirumah biar Adila sendiri yang akan mencari Bayu" Adila menekan Evy agar menuruti perintah nya kemudian Evy mengiyakan perkataan adila.
*****
Merasa dalam keadaan terpuruk yang memikul beban hidup nya Bayu pun nekat mendatangi sebuah bar yang cukup terkenal di lokasi tersebut. Dalam hidup nya ia enggan bahkan terbilang anti mengijak kaki ke bar, namun karena kondisi ia seperti sudah frustasi perlahan ia memaksa dan memberanikan diri agar masalah nya sedikit terobati.
Ia pun mulai duduk pada barisan kursi bartender sekaligus memesan minuman pada salah satu bartender.
Belum sempat bartender itu selesai bicara tiba-tiba Devan menyambar dan berkata, "Tolong pesan kan minuman softdrink untuk nya"
"Baik tuan"
Rupa nya sedari awal Devan sudah berada di bar tersebut dan secara kebetulan ia melihat Bayu, terlebih Devan sudah menjelajahi beberapa bar terkenal jadi tak heran jika ia bertemu dengan Bayu tanpa sengaja.
"Maaf kau ini siapa ?" Sorot mata Bayu tertuju pada pria yang tak dikenalnya.
Devan hanya balas dengan menyungging bibir nya,
"Lo adik nya Adila kan ngapain di tempat ini. Keliatan nya tempat ini ga cocok dengan wajah lugu dan polos kaya Lo"
"Kamu kenal dengan kakak ku" Bayu terlihat bingung.
"Justru kenal lah,,,, secara kakak Lo kan cantik jadi pria mana sih yang ga kenal sama dia hehehe" Devan tertawa jahat dan membuat sorot mata Bayu tajam seakan gemam dengan sikap nya.
"Kamu jangan macam-macam ya dengan kakak ku karena dia sudah mempunyai seorang kekasih" Bayu langsung menarik baju Devan dengan kasar.
"Woowww,,,, santai dulu dong calon adik ipar lebih baik minum dulu biar ga tegang. Nanti gua akan jelasin" ujar Devan dengan menenangkan Bayu serta menyerahkan minuman non alkohol yang sudah disediakan.
__ADS_1
"Hmmpp.... minuman seperti ini sangat tidak cocok dengan keadaan ku saat ini, Aku ingin minum alkohol" ucap Bayu dengan spontan.
"Apakah terjadi sesuatu sehingga harus pesan minuman beralkohol"
"Ga usah banyak tanya ! Sekarang jelaskan siapa Anda dan kenapa bisa mengenali saya termasuk kakak saya" ujar Bayu yang tak ingin bertele-tele.
"Baiklah. Nama gua Devan sepupu Rezky kekasih kakak Lo"
Bayu pun mengenali nama tersebut seingat nya pernah dibahas oleh Adila beberapa waktu lalu dan nama tersebut lah terbongkar rahasia Evy yang selama ini sudah dipendam lama, dan beruntung sekali hari ini ia bisa bertemu langsung dengan Devan yaitu orang yang telah mendonorkan darah untuk Evy tanpa campur tangan dari nya mungkin seumur hidup ia tidak akan mengetahui rahasia yang tersembunyi.
"Jadi anda lah orang nya yang telah mendonorkan darah untuk ibu saya" Bayu tersenyum sinis.
"Apakah anda melakukan hal tersebut dengan sebuah tujuan, karena mustahil anda melakukan nya secara cuma-cuma".
Devan mencerna perkataan Bayu kedua tangan nya mengepal cukup kuat seakan tidak terima atas perkataan dari nya.
Kemudian ia menghela nafas dan berusaha bersikap tenang.
"Tapi sudah lah apapun tujuan nya itu yang terpenting sekarang aku jadi mengetahui tentang hal yang tidak akan pernah aku ketahui dan aku sangat berterima kasih padamu" ujar Bayu sambil menepuk bahu Devan.
"Itu tidak masalah. Gua hanya melakukan hal kecil saja" sahut Devan.
'Kelihatan nya adik ipar ini sedang tidak baik. Seperti nya gua harus lakuin sesuatu agar ia terbuka sama gua' batin Devan berucap serta muncul sesuatu.
"Massss !!!!!" Panggil Devan pada bartender yang tak jauh dari haradan nya.
Bartender tersebut melangkah kaki nya menuju Devan,
"Berikan 2 botol wisky" bisik nya.
Tidak menunggu sampai 5 menit 2 botol wisky tersebut sudah ada di depan matanya.
"Sebagai rasa pertemanan mari kita cheers" Devan menyuguhkan gelas kecil yang berisikan wisky kepada Bayu.
Dari aroma minuman yang diberikan oleh Devan nampak nya Bayu ragu untuk meminum.
"Kenapa diam. Ayo kita bersulang anggap aja minuman ini sebagai obat penawar beban hidup"
Bayu pun menuruti perintah Devan awalnya ia hanya mencoba 1 gelas lama-kelamaan mencoba sampai beberapa gelas bahkan dalam seorang diri ia hampir menghabiskan 2 botol wisky.
bersambung.....
__ADS_1