Bring Me To Life

Bring Me To Life
Episode 48


__ADS_3

"Dia yang sudah mendonorkan darah untuk pasien ibu Evi, seingat aku waktu itu sih dia sempat meninggalkan ruang pendonor setelah kami mengambil beberapa kantung darah nya".


"Apakah kamu yakin dia lah orang nya yang telah menolong ibuku ?" Tanya Adila padanya yang masih belum sepenuhnya percaya.


"Yakin sekali dokter, malahan tadi aku sempat membahas nya lagi dan tenyata dia masih ingat" sahut Yani dengan penuh keyakinan.


Mendengar penjelasan dari Yani yang penuh keyakinan membuat Adila terdiam dan sangat heran dengan situasi seperti ini.


"Aku tak pernah berpikir, ternyata selama ini orang menyelamatkan nyawa ibuku sepupu nya Rezky. Padahal waktu itu kami belum saling mengenal tapi kenapa dia berbuat baik kepada ku" ucap batin Adila dalam lamunan nya.


"Dokter ???"


"Dokter Adila ????"


Panggilan dari Yani membuat ia sadar dari lamunannya.


"E..ek..eh.. iya aku juga sangat berterima kasih kepadanya" jawab Adila dengan senyum seakan menutupi rasa terkejutnya.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Karena saya harus membantu perawat lain"


"Baik Yani terimakasih"


"Sama-sama dokter" balas Yani sambil keluar dari ruangan Adila.


Beberapa menit kemudian ponsel Adila menerima pesan masuk dari Devan,


'Tuh udah dibawain makanan, inget ! jangan sampe telat makan lagi. Kalo nanti Lo sakit gua yang bakal jadi sasaran si Rezky'


"Terimakasih" balas pesan Adila pada Devan.


Rasa terkejut Adila pun hilang kini berubah menjadi bahagia akhirnya orang yang selama ini ia cari ternyata berada disekitar nya dan ia pun beritikad untuk membalas kebaikan Devan.


"Seperti nya aku sudah salah menilai Devan dibalik sikap nya yang angkuh, ternyata dia orang yang penolong. Aku harus temuin dia secara langsung dan banyak berterima kasih kepadanya"


*****


Meskipun bukan tentang perasaan nya yang di bahas oleh Adila tetapi ia juga tidak ingin Adila mengetahui bahwa ia lah yang telah mendonorkan darah untuk Evi.


Kini perasaan nya terhadap Adila masih terbilang aman ia pun sedikit lega mendengar nya.


"Ya, memang aku yang mendonorkan nya" balas nya dingin.


"Tapi waktu itu kan kita belum saling kenal, kenapa kamu bisa semudah itu untuk mendonorkan nya ?" Tanya Adila yang masih tidak paham.


Mendengar perkataan nya baru saja, Devan sudah tidak bisa mencari alasan lagi bahwa alasan yang sesungguhnya ia melakukan itu sebagai senjata untuk memisahkan hubungan Rezky dengan Adila.

__ADS_1


Tapi ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada Adila, ditambah lagi ia mulai menyimpan perasaan terhadap kini ia sudah terjebak dengan permainan.


"Se,,,seb,, sebenarnya itu cuma ???"


Belum selesai Devan menjawab, pembicaraan nya pun langsung disambar oleh Adila sambil memegang tangan Devan.


Sontak membuat Devan terkejut serta tertuju ke arah tangan nya yang di pegang secara tiba-tiba, dan itu membuat diri nya tenang dan tak ingin melepas genggaman nya.


"Sudah jangan diteruskan. Apapun itu alasan nya aku sangat berterima kasih sekali karena pada saat itu kondisi nya semua pada panik, untung nya berkat pertolongan kamu semua nya berjalan dengan baik" ucap nya dengan perasaan senang.


Kemudian Adila mulai melepaskan genggaman tangan nya dari Devan,


"Aku bingung gimana caranya membalas semua kebaikan kamu".


"Itu hal sepele tidak usah dibuat pusing" ucap Devan sambil menengok ke arah lain.


"Jujur aku tidak menyangka sama kamu. Aku kira kamu akan selamanya angkuh dengan ku ternyata kamu memiliki sikap yang penolong" celetug Adila.


Devan mencerna perkataan barusan dan mengambil kesimpulan,


"Jadi maksud Lo !!! Upss,,, sorry maksud kamu aku ini pria yang angkuh dan tidak memiliki hati" tantang nya dengan nada tinggi.


"Bu,,,bukan itu maksud aku Van kamu jangan salah paham dulu" pinta Adila sambil menenangkan.


"Lalu apa ???" Ucap nya sambil berdiri di iringi beberapa langkah dan membelakangi Adila karena kedua mata nya tidak kuat menatap kedua mata Adila yang terlihat indah menurut nya.


"Lalu apakah kamu senang mengenal ku ?"


Bangun dari tempat duduk dan melangkah serta berhenti dibelakang Devan seakan ia ingin Devan mengerti dan tidak salah paham atas ucapan nya,


"Tentu saja aku senang dan kamu juga....!!!!!"


Nada bicara Adila terdengar dibelakang Devan segera ia memutar kan badan ke arah Adila dan mengecup pipi kanan nya secara tiba-tiba yang masih belum selesai bicara nya.


Lagi-lagi Adila dibuat terkejut atas tingkah nya kemudian ia berusaha untuk berpikir positif.


"Terimakasih kamu sudah senang mengenal ku. Oh iya ! Jangan negatif thinking dulu, barusan yang aku lakukan itu bentuk rasa terima kasih ku pada mu karena sudah mau berteman dengan orang angkuh seperti ku dan di Amerika, itu merupakan hal yang biasa" ucap nya dengan tersenyum licik.


"Tapi ini kan ditempat umum" protes Adila.


"Justru di Amerika hal seperti malah tempat umum dan masih batas wajar" jawab nya tak mau kalah.


"Itu kan kalau di Amerika beda kalau disini" balas dengan raut wajah cemberut.


"Sorry aku tidak bisa melupakan kebiasaan lama ku. Maklum aku kan lama tinggal disana" ucap nya sambil mencubit pipi Adila yang terlihat gemas.

__ADS_1


"Aawww,,, lalu dengan mencubit pipi ku apa ini merupakan kebiasaan mu yang dibawa dari sana ?" Protes nya lagi.


"Tergantung !!!! Hehehe" canda Devan.


"Awasss ya kamu nanti aku suntik" ujar Adila sambil tertawa dan mengacak rambut Devan yang terlihat rapi.


"Curanggg !!!! Bercanda nya mainin rambut"


"Biarinnnn wleeee" seru Adila sambil mengejek Devan.


"Ternyata benar yang dibilang Rezky bahwa Adila itu sosok wanita yang didambakan oleh kaum pria termasuk gua. Dan hampir aja tadi gua melakukan hal gila padanya entah apa yang terjadi jika seandainya tadi gua bukan mencium pipi nya melainkan mencium bibir nya apakah ia masih ingin mengenal gua sedekat ini" ucap batin Devan seakan mengharapkan hal indah pada dirinya.


****


Pagi hari diruang makan keluarga terlihat Evi dan Adila sedang sarapan bersama, kemudian sosok Bayu muncul dan berjalan kearah meja makan.


"Hari ini kamu tidak berangkat ke kantor Bay ?" tanya Evi pada nya.


"Engga mah, hari ini Bayu ambil cuti".


"Lho,,, tumben ada apa memang nya ?" tanya nya lagi.


"cuma ingin istirahat aja dirumah, lagian cuma cuti hari ini saja" balas nya meraih gelas yang berisi kan susu murni serta meminum nya.


"Oh iya mah, waktu itu mamah masih penasaran kan siapa yang telah mendonorkan darah ke mamah" sambung Adila.


"siapa memang nya Dil ?" tanya Evi penasaran.


"uhuk,,,,uhuk,,,uhukk" suara batuk Bayu yang tak disengaja.


Sorot mata Evi langsung tertuju kearah Bayu,


"Bayu,,,, pelan-pelan dong makan nya jadi batuk kan kamu" ucap nya sedikit panik.


"Kamu sakit Bay ? sini biar ka Dila periksa",


"Aku gapapa kak, tadi itu aku tidak hati-hati ngunyah roti nya" balas Bayu dengan datar.


"Lanjut Dil, jadi siapa orang nya mamah juga ingin mengucapkan rasa terima kasih padanya".


Kemudian Adila pun menceritakan semuanya kepada Evi termasuk Bayu yang mendengarnya.


"Oohh,,, jadi dia ka yang sudah menolong ku, eh maksud aku menolong mamah" celetug Bayu.


"Seperti nya Bayu harus menemui dia sebagai ucapan rasa terima kasih".

__ADS_1


"Mamah juga ingin bertemu dengan nya" sahut Evi.


Bersambung.....


__ADS_2