
Beberapa waktu lalu kemudian Bayu sedang menyendiri sambil mendengarkan musik di area taman kecil belakang rumahnya yang terdapat sebuah kolam ikan.
Bagi nya mendengarkan musik membuat dirinya tenang dan cukup menghilangkan rasa penat nya.
"Ehem,,,ehem,,," Evi mengangetkan kan Bayu dengan sentuhan dari belakang nya.
Reaksi Bayu yang tengah menghayati sebuah lagu langsung membuka mata nya, serta mematikan alunan musik dari sebuah ponsel nya.
"Bay, kamu kok mamah perhatiin akhir-akhir ini sikap kamu sedikit berbeda ke mamah".
"Sikap Bayu memang slalu begini kok, mamah aja kali yang merasa beda" jawab nya datar tanpa menoleh kearah Evi.
"Apa kamu lagi masalah dikantor bay. Sampai-sampai kamu slalu mengabaikan perhatian dari mamah".
"Mamah mau perhatian atau gak, itu sama sekali tidak ada hubungan sama Bayu" ujar santai sambil menatap tajam kearah Evi.
"Lhooo,,, jelas ada dong sayang kamu hubungan sama mamah".
"Hubungan apa ???" Ucap Bayu dengan nada sedikit tinggi.
"Hubungan karena Bayu itu anak mamah ???" Sambung nya.
Evi langsung memandangi Bayu dengan keresahan nya karena tak biasa nya Bayu bersikap dingin seperti ini kepada Evi.
"Iya seperti itu sayang" ujar Evi dengan senyum seolah menenangkan suasana.
"Dari cara bicara kamu barusan itu menandakan bahwa kamu sedang tidak baik, kalau mamah boleh tau apa masalah kamu. Tolong cerita kan sedikit pada mamah" Ucap nya lembut pada Bayu yang tengah membelakangi posisi Evi.
DISISI LAIN.....
Kringggg....kringgg...kringgg....
__ADS_1
Bunyi telepon penghubung khusus rumah sakit yang terdengar di ruangan pemeriksaan Adila.
"Iya hallo" jawab nya sambil menunda hasil catatan kegiatan nya.
"Apa dokter Adila saat ini sedang sibuk ?" Terdengar pembicaraan nya salah seorang bagian front office.
"Kebetulan saya lagi tidak sibuk ada yang bisa dibantu ?".
Penelpon tersebut menjelaskan kepada nya, bahwa ada pasien pribadi yang ingin meminta Adila untuk memeriksa keadaan nya.
Ini sudah kesekian kali nya ia memeriksa pasien secara pribadi karena memang kehebatan Adila sebagai dokter patut di acungi jempol.
"Baiklah akan saya lakukan. Tolong berikan alamat lengkap nya" sambil memegang pulpen dan secarik kertas.
-------
Sekitar 1 jam Adila sudah sampai di lokasi tersebut karena jarak nya dari rumah sakit cukup jauh, dan ia tak mengira bahwa ia berhenti disebuah hotel yang begitu megah dan mewah.
"Sebaiknya aku telepon pasien pribadi tersebut" sambil mengambil sebuah ponsel didalam tas nya.
"Ya ampun,,,, tadi kan aku lupa meminta nomor handphone pasien pada bagian front office" pikir nya yang mulai hampir frustasi.
"Sebaiknya aku telepon saja pihak rumah sakit untuk tahu kejelasannya".
Ketika Adila sedang mencari kontak nomor rumah sakit, tiba-tiba ia di hadang oleh 3 pria bertubuh gemuk memakai pakaian serba hitam dan berkacamata hitam.
Tanpa sengaja ia menekan tombol memanggil pada kontak Devan.
"Anda yang bernama dokter Adila ?" Tanyanya dengan tegas sehingga membuat Adila takut menatap nya.
***
__ADS_1
Devan yang tengah asyik bermain billiar, ia pun langsung menjawab nya
"Hallo,,,, ada apa !!!!" Ucap nya datar Devan dari sambungan panggilan.
"Be--benar kalian siapa ?" Gugup ucapan adila.
"Anda tidak tidak perlu tahu. Sebaik Nona ikut bersama kami sekarang juga" langsung menarik tangan Adila.
"Maaf tidak bisa karena saya ingin memeriksa pasien pribadi saya. Dan tolong lepaskan tangan saya" pinta nya dengan tegas.
"Sebaiknya anda ikuti perintah kami".
"Tolonggggg !!!!!!"
Dengan perasaan was-was Adila langsung berteriak meminta bantuan sekitar.
"Hei nona sekali kau berteriak akan ku tembakkan pistol ini tepat dikepala mu" sambil menodongkan sebuah pistol yang ia perlihatkan tepat dikedua mata Adila dan itu membuat nya ia ketakutan serta terpaksa harus menuruti keinginan 3 pria berbadan besar tersebut.
Devan dengan seksama mendengar percakapan mereka secepat kilat ia langsung geram dan berkata,
"Kau sedang dimana Adila dan apa yang terjadi. Adila,,,, Adila ,,,, Adilaaaaa !!!!"
Panggilan pun terputus.
Devan diliat aneh oleh orang sekitar karena ucapan nya cukup membuat kaget namun ia pun tidak menanggapi.
Saat itu Devan mulai menelpon nya kembali namun tidak ada jawaban dari Adila.
"Shitttt !!!! Kenapa ga diangkat apa mungkin saat ini Adila benar-benar terancam".
Devan pun merasa kesal ingin rasa nya ia menghabisi orang yang telah membuat jiwa Adila terancam.
__ADS_1