
Lagi-lagi Adila menyalahkan ayah nya atas kejadian ini sampai mereka pun berdebat.
" Sekarang ayah lihat sendiri kan ?kondisi mamah sekarang." Ucap Adila dengan sedikit emosi
Lalu ayah Adila pun hanya terdiam sambil mencerna perkataan nya memang ada benarnya yang dikatakan Adila bahwa kejadian ini lah terjadi karena ego nya.
" Ini lah akibat nya jika papah lebih mengedepankan ego tanpa memikirkan di pihak lain, Adila sangat kecewa dengan papah" sambung nya lagi sambil mendengus kesal.
Lalu ayah Adila pun mendekati Adila seolah ia menyesali apa yang terjadi.
" Papah kira keputusan papah itu tidak membuat mamah seperti ini, dan papah juga tidak tau kalau mamah bisa senekad ini bahkan sampai menyakiti diri nya sendiri" ucap nya dengan wajah sedih
Bayu pun menyaksikan perdebatan mereka dan ia pun segera menengah kan suasana.
" Sudah pah jangan perlu disesali, dan untuk ka Dila tolong jangan salahkan papah lagi kita harus tetap optimis serta berdoa agar mukjizat datang kepada mamah & mamah pun segera pulih" tutur Bayu dengan lembut dengan wajah cemas.
Mereka pun berdiam sejenak sambil mencerna perkataan Bayu tak lupa merekapun berdoa dalam hati, karena sehebat apapun Adila dengan gelar nya tetap saja ia hanya perantara, ia pun berdoa dengan penuh harap agar yang maha kuasa segera memberikan mukjizat nya kepada mereka.
Tak lama kemudian muncul lah beberapa perawat menemui Adila yang masih dari tadi berada di ruang tunggu ICU dengan membawa perlengkapan alat penanganan pasien,
" Permisi dokter Adila, dok kita sudah dapat pendonor darah nya & saya selaku perawat lain sudah mendapatkan beberapa kantung darah nya, apakah kita bisa menangani pasien sekarang agar kondisi pasien segera pulih" perjelas Desi.
Kabar baik itu pun terdengar oleh mereka bertiga, mereka tak menduga jawaban doa mereka dijawab sudah oleh yang maha kuasa ini adalah benar-benar mukjizat yang nyata baginya.
Adila pun langsung berdiri dari duduk nya dan mendekati beberapa para perawat
" yang benar sus, kita sudah menemukan nya ?" tanya Adila yang masih tak yakin
" benar dokter sekarang orang tersebut sudah berada diruang perawatan karena pasien pendonor terlihat lemas setelah kita mengambil darah nya" perjelas perawat yang satu nya.
Kini Adila pun sudah yakin apa yang para perawat ucapan kan, tak lupa Adila pun mengucap syukur di barengi dengan papah nya serta Bayu.
" ya sudah kita segera tangani pasien terlebih dahulu, setelah selesai tolong antarkan saya dengan pendonor darah tersebut" ujar Adila.
" baik dokter" ucap mereka serentak
Adila pun mohon izin masuk keruang ICU kepada papah nya & bayu serta di ikuti beberapa perawat di belakang nya.
mereka sudah berada didalam ruang ICU menangani nya dengan serius serta teliti.
------
__ADS_1
1jam sudah penanganan pasien pun selesai, kini kondisi Evi sudah kembali normal lalu dipindahkan keruang perawatan,
sambil ditemani papah Adila serta Bayu rupa nya Evi belum siuman.
" ka Dila mamah belum siuman apakah mamah masih kritis ?" tanya Bayu dengan cemas
" Kamu tak usah khawatir mamah sudah tidak kritis kini kondisi nya pun sudah normal, kalau sudah siuman segera beritahu ka Dila ya. kakak akan menemui pendonor nya dulu"
" apa papah boleh ikut Dil sekaligus papah ingin berterima kasih kepada nya."
" tidak usah pah, papah disini saja temani Bayu biar Adila yang mewakili saja." ujar nya
" baiklah kalau begitu" sahut papah Adila
--------
Adila pun berjalan menuju keruang perawatan khusus pendonor yang ditemani beberapa perawat dibelakangnya, Ia pun harus berterima kasih dengan nya karena disaat suasana genting seperti ini ada penolong yang tiba-tiba datang.
Adila pun mulai membukakan pintu namun,,,,,????
" Lho,,, kok ruangan ini kosong ga terlihat siapa-siapa ?" tanya Adila heran kepada para perawat
" iya dok kami juga memberikan infus terhadap nya guna untuk memulihkan keadaan pasien agar tidak lemas" sambung Desi .
Lalu Adila pun memperhatikan selang infus yang terputus & memegang nya " rupa nya pendonor itu mencabut paksa selang infus ini, apa kalian tahu ciri-ciri pendonor itu ?
" dia laki-laki terlihat dari wajah nya seperti nya seumuran dengan dokter, orang itu cukup tampan Menurut kami" ujar Desi
" Lalu pendonor itu pun memberi tahu bahwa ia mengenali dokter " sambung nya lagi.
Adila pun terdiam sambil memikirkan sesuatu.
mengenal ku ??? siapa laki-laki itu selama ini kan aku tidak pernah mengenali laki-laki manapun setelah kepergian Rezky ke Amerika
" oh begitu rupa nya,,, ya bisa jadi dia itu teman saya hanya saja saya yang lupa terhadap nya" ucap nya sambil tersenyum paksa.
" baiklah dok kalau begitu kami permisi dulu karena kami harus menangani pasien lain" sahut Desi, mereka pun pergi meninggalkan Adila sendiri diruangan tersebut.
sementara itu Adila masih saja kebingungan mengenai pria yang tak dikenal nya itu sampai-sampai ia mendonorkan darah untuk mamah nya.
DISISI LAIN
__ADS_1
" pak cepat bawa saya kerumah sakit " ucap seorang pemuda kepada supir taksi sambil memegang pergelangan tangan nya yang kesakitan.
" lho bukan nya ini sudah di area rumah sakit ?" tanya supir taksi dengan heran.
" maksud saya rumah sakit lain yang tidak jauh jarak nya dari sini"
" baik pak, saya akan antar kan"
" heh, saya itu masih muda jangan seenak nya panggil saya bapak" balas nya dengan kesal
" maaf, baik tuan" .
supir taksi itu pun segera melaju kendaraan nya.
------
Evi pun mulai siuman ia pun mulai membuka matanya dengan pelan kini tubuh nya pun masih terasa lemas, suami nya pun mengetahui itu dibarengi dengan Bayu.
" Evi kamu sudah siuman ? apa kamu masih terasa sakit ?" tanya suami nya dengan cemas.
Lalu Evi pun hanya terdiam dan ia mengingat kembali kejadian nya.
" kenapa aku masih selamat harus nya kan aku sudah tidak ada di dunia ini hiks,,,,hiks,,,hiks " tangis Evi pun pecah
" mamah ini bicara apa sih ?" sambung Bayu
" biar saja bayu, biar papah mu puas,,,, dari pada ia menceraikan mamah & memisahkan nya dari mu lebih baik mamah mati hiks,,,,hikss,,,hiks,,,,"
" maaf keputusan ku ini sudah membuat mu seperti ini, aku sudah membatalkan untuk menceraikan mu " balas papah Adila dengan tangis
" kamu bohong,,, kamu hanya ingin membuat ku senang saja kan" ucap Evi dengan nada tinggi
" sudah mah, lebih baik mamah istirahat kondisi mamah masih belum sepenuh nya pulih" ujar Bayu menenangkan.
" mah maafin papah, maaf karena papah sudah egois " ucap ayah Adila sambil memegang tangan kanan Evi.
lalu Evi pun melepaskan tangan dari nya,
" jadi harus seperti ini, harus mamah menyakiti diri mamah sendiri supaya papah terlihat menyesal ?" tanya nya dengan kesal
bersambung.....
__ADS_1