
Setelah itu Adila membalurkan sedikit minyak angin pada area kepala & ujung hidung, disaat seperti itu rupa nya Adila masih perhatian kepada nya, karena ia menyayangi ibu tiri nya dan tidak ada sedikit pun dendam terhadap nya.
20 menit kemudian Evi pun siuman.
Dengan sorotan mata yang sedikit blur ditambah badan nya terasa lemas perlahan ia mulai membangun diri nya, Adila yang sedari tadi disamping nya cukup tenang melihat Evi sudah siuman.
" Mamah,,, pelan-pelan mah sini Adila bantu" ujar Adila yang penuh perhatian sambil membantu Evi duduk yang masih ditempat tidur.
" Lho ini kan kamar kamu ?" Tanya nya dengan nada lemas.
" Tadi mamah pingsan, yaudah Adila bawa kesini".
Evi pun terdiam sambil memikirkan sesuatu tiba-tiba ia teringat dengan keputusan suami nya yang akan menceraikan nya, tanpa disengaja Evi mulai menangis lagi.
" Hiks,,,hiks,,,hiks,,,hiks" ratap Evi.
" Sudah mah jangan menangis lagi, nanti yang ada mamah sakit" pinta Adila sambil menenangkan.
Evi pun mulai berpikir bahwasa nya selama ini ia banyak sekali melakukan kesalahan terhadap Adila, Evi pun malu terhadap dirinya di situasi ini Adila masih saja yang menemani & menenangkan nya, Evi pun mulai menyadari kesalahannya ia pun benar-benar menyesal atas yang diperbuat selama ini terhadap Adila.
" Hiks,,,,hiks,,,hikss,,,,hikss adilaaaaa. Maafkan mamah selama ini yang sudah menyakiti mu baik melalui ucapan ataupun perbuatan" ucap nya sambil menangis tersedu & langsung Memeluk kembali tubuh Adila.
Sedikit terkejut Adila mendapatkan pelukan dari nya lalu ia pun balas dengan pelukannya, karena ia merasa bahwa pelukan nya itu benar-benar tulus terhadap nya ditambah lagi ia melontarkan kata-kata permintaan maaf.
" Jauh sebelum mamah minta maaf Adila sudah memaafkan mamah" tiba-tiba tetesan air mata pun jatuh dipipi nya Krn ia merasa terharu.
" Kamu ternyata anak yang berbakti, mamah salah menilai mu selama ini hiks,,,hiks,,,hiks,,," ucap Evi sambil mencium kepala Adila.
Adila pun melepaskan pelukan Evi kini ia mengusap air mata dipipi Evi " adila sudah melupakan kejadian yang lalu, kini mamah ga perlu khawatir sekarang mamah istirahat saja ya"
" Gimana mamah mau istirahat, mamah ga bisa tenang menghadapi situasi ini apalagi papah mu sudah putuskan untuk menceraikan mamah sekaligus memisahkan mamah dari Bayu, mamah ga bisa jauh dari Bayu hiks,,,hiks,,,hiks,,,,"
Hati Evi pun hancur, sakit seperti di tusuk-tusuk bagaimana tidak justru ia tidak bisa jauh dari Bayu sedangkan Bayu seperti nya tidak memihak kepada nya, mungkin ini lah balasan bagi nya Bayu sering sekali menasehati Evi untuk berbuat baik terhadap Adila tapi ia tak menghiraukan nya.
" Hiks,,, hiks,,, hiks,,,, mamah ga bisa menjauh dari Bayu. Seperti nya Bayu tidak memihak ku sekarang aku hanya bisa pasrah hiks,,,,hiks,,,Hiks". Sambung nya lagi.
__ADS_1
Melihat Evi seperti itu Adila sangat iba terhadap nya, sebelum sangat berbeda jauh sikap nya terhadap Adila tapi kini ia mulai melihat titik lemah nya.
Adila pun mulai berdiri dari duduk nya lalu ia berkata " mamah ga usah cemas, sekarang Adila akan jelaskan semua nya pada papah & Adila harus membatalkan keputusan nya"
" tapi Dil, papah mu itu orang nya keras kepala jika ia sudah memilih keputusan nya maka akan sulit ia tarik kembali" ujar Evi yang masih sedih
" Adila akan usaha kan mah semoga aja papah bisa luluh" sahut Adila
" kalau begitu Adila izin menghadap papah dulu, mamah istirahat saja kelihatan nya mamah masih shock" sambung nya lagi.
Evi pun hanya mengangguk lalu mempersilahkan Adila pergi dari kamar nya.
Adila mulai melangkah ke kamar ayahnya namun setelah masuk rupa nya tak ada sosok ayah nya, ia pun terus mencari nya disekitar rumah itu.
tak berapa lama ia menemukan ayah nya yang sedang duduk di teras belakang rumah.
" papah,,,," panggil Adila kepada nya.
" ada apa Dil " tanya nya.
" ada yang ingin Adila bicarakan kepapah "
" ini soal mamah pah " sahut Adila
" kamu masih membela nya?, dengar ya Adila papah melakukan ini untuk melindungi mu. ini kesalahan besar untuk papah yang sudah membiarkan orang asing masuk kerumah kita lalu dengan seenaknya menyakiti mu. sedangkan papah hanya sibuk kerja sibuk kerja tidak memperhatikan keseharian mu" ucap ayah Adila ke inti permasalahannya dengan menatap wajah Adila yang penuh kecemasan.
" tapi pah mamah sudah minta maaf dan menurut Adila ia tulus mengucapkan nya"
" minta maaf saja itu tidak cukup. Bertahun-tahun papah membiarkan kejadian ini yang menimpa mu" balas nya dengan nada sedikit tinggi.
Ayah Adila hanya ingin ia memihak keputusan nya sekaligus memberi pelajaran kepada Evi.
" Adila kan sudah melupakan nya pah, pah Adila mohon jangan ceraikan mamah & jangan pisahkan mamah dari Bayu Krn sudah pasti mamah ga akan sanggup menerima semua keputusan papah" ucap Adila sambil memohon dengan menjatuhkan tubuh nya dan menggenggam tangan papah nya.
" kamu ini kenapa merendahkan seperti ini, sekarang juga kamu bangun,,,,bangun,,, papah ga suka lihat kamu seperti ini" balasnya sambil menaikan tubuh Adila yang akan berdiri.
__ADS_1
" papah jangan seperti itu Adila tau papah kecewa terhadap mamah tapi tolong pah beri mamah kesempatan sekali lagi" tiba-tiba Adila pun mengeluarkan air mata nya lagi agar papah nya melihat tingkah ketulusan anak nya demi membantu mamah nya.
lalu ayah Adila pun membalikkan tubuh nya
" papah ga bisa dila, keputusan papah sudah bulat tolong kamu jangan halangi keputusan papah " ucap nya dengan tegas.
Rupa nya di balik pintu Evi pun mendengar obrolan mereka berdua, ia pun mencerna obrolan mereka seketika itu sudah tidak ada harapan lagi untuk nya sekarang perasaan Evi benar-benar hancur.
hiks,,,hiks,,,, hikss,,, adila sudah kamu jangan berargumen lagi dengan papah mu, percuma saja ia akan tetap dengan keputusan nya dan terimakasih sudah membela ku Adila ' ucap Batin Evi sambil menangis'
Evi pun pergi dari hadapan mereka berdua yang tak di ketahui, lalu ia menuju dapur untuk meminum air guna menenangkan perasaan dan pikiran nya.
setelah ia meminum air lalu seketika ia melihat pisau yang ada di dapur, ia pun melangkah dan mengambil pisau tersebut lalu ia mulai berpikir.....
" baik lah pah jika keputusan mu yang terbaik menurut mu lalu apa beda nya keputusan ku yang terbaik untuk ku hiks,,,hiks,,,hiks,,,, mungkin inilah saat nya aku harus mengakhiri hidup ku, Bayu maafkan mamah selama ini belum menjadi ibu yang baik hiks,,,hiks,,,hiks,,,"
ujar Evi sambil menangis segugukan tak berpikir panjang ia pun mulai menggoreskan urat nadi di tangan kiri nya menggunakan pisau lalu mengalir lah darah segar dari tangan kirinya.
Tak berapa lama muncul lah bi Ina seorang asisten rumah tangga nya yang pulang dari pasar kebetulan ingin membereskan belanjaan nya di dapur, Ia pun sangat terkejut melihat majikan nya sudah berlumuran darah ditangan kiri nya bergegas sangat cepat ia pun mulai mencari orang rumah disekitar nya.
Bu Ina pun menemukan mereka berdua diteras belakang rumah, rupa nya mereka berdua masih beradu argumen, tanpa permisi bi Ina pun mengganggu mereka dengan wajah yang bercucuran keringat serta panik.
" Tuan,,,, non Adila,,,, nyonya ?????"
mendengar suara bi Ina yang panik membuat Adila penasaran " ada apa dengan mamah ?"
sementara itu ayah Adila hanya merespon datar karena ia sudah sangat kecewa atas kelakuan Evi selama ini.
" nyoya tangan nya berlumuran darah seperti nya beliau sengaja melukai nya" jawab Bi Ina dengan jelas serta penuh kepanikan.
" apaaaaa????? mamah,,,,jangan-jangan ????" Adila pun sangat terkejut mendengar nya ia pun segera berlari kearah Evi berada.
sementara itu ayah Adila pun yang mendengar nya langsung terkejut & mengikuti arah Adila dari belakang.
Bersambung.........
__ADS_1
*******
jangan pernah bosan simak novel ku yaaa reader & tunggu up nya dengan sabar 🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰