
Sinar mentari mulai mencolok paksa di antara sela-sela ruangan Devan, perlahan Devan pun membukakan kedua mata nya sambil merasakan nyeri yang ada ditubuh nya.
Diri nya pun heran berada dirumah sakit lalu
Ia mulai mengingatkan kembali tentang kejadian yang menimpa diri nya.
Lalu sorot mata nya tertuju ke arah Adila yang sedang tertidur tepat di hadapan nya, perlahan tangan Devan mulai merapikan rambut Adila yang hampir menutupi wajah nya,
"Hemm,,,, cantik juga dia saat tertidur" ucap Devan dengan asal.
Adila pun merasa terganggu dengan ada nya gerak area kepala nya, melihat gerak-gerik Adila yang ingin bangun dari tidur nya sontak membuat Devan memejamkan mata nya kembali karena ia tidak ingin diketahui Adila bahwa ia sudah siuman.
Tangan nya pun mulai mengucek kedua mata nya Adila pun kaget secara tak sengaja diri nya sudah ketiduran diruangan Devan,
"Ya ampun,,, kenapa aku bisa ketiduran disini. Bagaimana nanti jika ada perawat atau dokter yang ingin mencari ku" ucap Adila dengan nada panik sambil berdiri dan sorot mata nya mengelilingi sekitar ruangan serta sudah tersedia sarapan untuk Devan.
"Sudah jam 8 pagi dia belum siuman juga, kasian sekali kamu Devan disaat kondisi mu seperti ini tidak ada orang terdekat disamping mu. Baik lah aku harus membalas Budi mu sebagai ganti nya aku yang akan merawat dan memperhatikan selama dirumah sakit" ucapan Adila pun terdengar jelas pada telinga Devan, ia pun mulai mencerna perkataan terakhir Adila.
"Benarkah ??? Sungguh ???" Ucap Devan secara tiba-tiba dengan semangat, dan itu membuat Adila terkejut.
"Kamu,,, rupa nya kamu sudah bangun lebih dulu",
"Memang nya kenapa ?" Devan pun mulai mengangkat tubuh dari baring nya.
'Aaakkhhh,,,,' ucap nya yang meringis kesakitan sambil memegang perut nya.
"Hati-hati Devan, sini biar aku bantu" sambil membantu tubuh Devan yang ingin duduk.
"Tubuh gua masih merasakan sakit, memang nya Lo ga kasih gua obat pereda nyeri apa ?",
"Aku sudah memberikan nya sesuai takaran nya jika diberikan berlebihan maka itu tidak bagus untuk tubuh mu. Bersabar lah rasa nyeri nya akan hilang beberapa hari kedepan." Perjelas Adila.
"Beberapa hari ? Haduhh,,, gua paling muak sama yang nama nya rumah sakit" bantah Devan.
"Tapi ini menyangkut kondisi mu, aku mohon kerja sama nya, tolong bersabar lah sedikit" pinta Adila terhadap nya.
"Baiklah, seperti yang gua denger kata-kata Lo barusan, bahwa Lo harus memperhatikan kesembuhan gua",
"Baiklah aku bersedia" Adila pun tidak sungkan untuk merawat Devan selama dirumah sakit bagi nya yang ia lakukan adalah untuk menebus kebaikan Devan karena sudah menolong nyawa ibu tiri nya.
Pandangan Devan tertuju diatas meja yang tersedia semangkuk bubur serta segelas susu untuk nya, kemudian ia meminta Adila untuk menyuapi nya karena untuk saat ini Devan sulit untuk bergerak.
Tak berpikir panjang Adila pun menuruti permintaan nya lagi pula untuk saat ini ia mengerti dengan kondisi di rasakan nya.
Perlahan Adila mulai menyuapi nya, Devan pun mulai membuka mulut nya.
Kenapa jantung gua berdegup ga karuan begini, apa ini ada hubungan nya dengan suapan yang di beri adila 'gerutu Devan dalam hati'.
Devan pun mulai perhatikan gerak-gerik Adila pada saat dihadapan nya, namun perasaan Adila biasa saja ia pun tak menghiraukan tatapan Devan kepada nya, ia hanya memfokuskan memberi sarapan kepada nya.
Setelah bubur nya habis dilahap tak lupa Adila memberi segelas susu untuk nya, Devan pun meraih dan meminum nya.
Disaat ia ingin menghabiskan susu nya tiba-tiba tenggorokan nya terasa gatal seketika membuat Devan terbatuk, tanpa disengaja membuat setengah susu nya itu tumpah dibagian dada sehingga mengenai baju yang ia kenakan.
Mengetahui hal itu bergegas lah Adila membersihkan nya menggunakan beberapa helai tissu yang sudah tersedia di ruangan tersebut.
"Maaf gua terlalu ceroboh, ga disengaja susu nya tumpah" ucap Devan dengan permohonan maaf nya sebab baru di awal ia sudah merepotkan Adila.
"Tidak apa-apa" ucap Adila dengan datar sambil membersihkan tumpahan yang mengenai dibagian dada Devan.
Lagi-lagi jantung Devan kembali berdegup kencang seolah tangan Adila pun merasakan getaran nya dari luar.
__ADS_1
"Devan, apa kamu baik-baik saja ?" tanya Adila dengan khawatir.
"Tentu saja. Kenapa memang nya ?" Tanya lagi dengan sinis.
"Disaat aku mengelap tumpahan susu didada mu, tangan ku merasakan getaran detak jantung mu. Sungguh kamu tidak apa-apa ?" Adila bertanya lagi dan sedikit panik.
Mendengar penjelasan Adila sontak membuat nya kaget kini wajah Devan memerah seperti kepiting rebus, ia pun memalingkan wajah nya kesekitar arah,
"Je-- jelas baik-baik saja memang nya Lo ga liat apa" balas nya yang sedikit gugup
"Bagus lah kalau begitu" sahut Adila dengan senyum nya.
"Ya sudah. Kalo udah selesai Lo balik dari ruangan gua nanti kalo gua butuh bantuan, gua telepon Lo" mengucap kata telepon justru membuat Devan mengingat akan ponselnya.
Baru saja Adila melangkah 1 langka, sontak lah Devan menghentikan langkah nya,
"Tunggu. Gua hampir lupa, dimana ponsel gua ?",
"Ponsel kamu ada di dalam laci meja",
"Trus gimana dengan mobil ?" Tanya nya panik .
"Tenang saja mobil nya aman kok. Mobil nya ada di lobby parkir rumah sakit, sewaktu kamu pingsan aku minta bantuan Beberapa warga untuk mengendarai mobil mu lalu mengikuti ambulance dari belakang" perjelas Adila.
"Oh begitu syukur deh" balas nya dengan tenang.
Adila pun melanjutkan langkah nya, tepat berada di depan pintu dan hampir membuka nya lalu di hentikan lagi oleh nya.
"Tunggu..." Pinta Devan .
Heuhhf,,, ada apa lagi sih nih 'gerutu Adila'
Adila pun menolah dengan tersenyum kaku,
"Terima kasih ya untuk semua nya maaf terlalu ngerepotin" balas dengan senyuman yang manis.
"Sama-sama" balas nya singkat.
-----
Hari sudah mulai petang, terlihat 2 orang perawat menuju ruangan Devan sambil membawa baki yang dia atas nya terdapat beberapa butir obat.
'Tok,,,tok,,,,tok,,,tok,,,'
Suara ketukan pintu.
"Masuk" balas Devan dari balik pintu.
Kemudian kedua perawat itu pun masuk secara berbarengan,
"Permisi tuan maaf mengganggu. Ini sudah waktu nya anda untuk meminum obat" jawab salah seorang perawat.
"Baiklah. Taruh saja di atas meja nanti obat nya saya minum sendiri" balas Devan dengan datar yang masih terbaring.
"Maaf tuan, saya harus memakaikan salep ini pada area tubuh anda yang terlihat masih memar",
"Kenapa harus kalian, dokter Adila nya mana ?" Tanya nya dengan ketus.
"Kebetulan dokter Adila nya sudah pulang dari jam 1 siang, ia akan kembali lagi sekitar jam 8 malam",
"Apaaa !!! Jam 8 malam. Lama sekali sekarang saja sudah jam 6 kurang 10 menit. Masa iya saya harus menunggu nya selama itu" omel Devan.
__ADS_1
Mendengar Omelan dari Devan membuat 2 perawat mulai merasa takut karena jika ia membalas bicara nya pasti akan serba salah dibuat nya.
Akhirnya salah satu perawat nya mulai menenangkan Devan,
"Tuan tidak perlu menunggu dokter Adila, jika tuan memerlukan sesuatu, tuan bisa minta tolong sama kami dan kami semua disini akan senang hati membantu anda",
"Ga bisa. Saya mau nya dibantu oleh dokter Adila karena dia sudah berjanji untuk merawat saya selama masa perawatan nya selesai. Atau saya akan lapor kan kepada direktur rumah sakit ini bahwasanya pelayanan ini buruk terhadap pasien" bentak Devan yang semakin jadi.
2 perawat itu pun saling menatap satu sama lain penuh dengan ketakutan,
"Ba--ba---baik tuan sekarang kami akan hubungi dokter Adila untuk segera kesini. Kalau begitu kami permisi keluar" ucap nya dan sambil melangkah keluar dengan terburu-buru.
Yang saat ini Devan butuhkan adalah sosok Adila untuk selalu berada disampingnya, menurut nya Adila cukup perhatian terhadap nya, begitu pula Devan merasa tenang dan nyaman semenjak Adila mulai merawat diri nya.
40 menit kemudian datang lah Adila menuju ke ruangan Devan, tanpa disertai ketuk pintu Adila pun membuka kan pintu nya.
'kedebug' bunyi suara pintu terbuka.
"Adila" Devan pun merasa kaget dan bercampur rasa senang nya karena kehadiran Adila.
"Devan kau sudah membuat kegaduhan pada 2 perawat tadi. Padahal kan ada 2 perawat yang siaga merawat mu mengapa harus aku, jam kerja ku kan sudah selesai" ucap Adila dengan sedikit mengomel.
"Rupa nya Lo sudah lupa ya sama janji Lo, wajar dong kalau gua minta bukti dari janji Lo" ujar nya dengan santai.
Ya Tuhan aku hampir lupa bahwa aku sudah berjanji untuk merawat nya sebagai tanda terima kasih ku kepada nya.
"Baik lah. Apa kamu sudah makan ?".
Devan pun hanya mengarahkan pandangan nya ke arah makanan yang tersedia diatas meja seolah memberi isyarat kepada Adila untuk segera menyuapi nya.
Adila pun mengerti apa yang dimaksud pandangan Devan terhadap nya segera lah ia menyuapi makanan tersebut ke mulut Devan.
Setelah selesai menyuapi Devan, Adila meraih salep yang akan di oles pada bagian tubuh Devan yang masih memar.
"Tahan sedikit ya salep ini memang terasa sedikit panas dan perih saat di balurkan, tapi ga lama kok nanti akan balik seperti semula" perintah Adila dengan lembut sambil mengoles obat kebeberapa titik yang memar.
'sshhh,,,,sshhhh,,,,ssshhhh aakhhh'
Devan pun meringis perih dan panas seolah ia menahan semua rasa itu .
Namun pandangan nya tertuju disaat Adila mulai fokus yang ia kerjakan, sorot mata nya pun tidak berkedip sedikit pun tetapi Adila tidak menyadari bahwa diri nya sedang diperhatikan oleh Devan dengan serius. Menurut nya Adila terlihat sangat menarik dihadapan nya saat ini ditambah lagi dengan gelar nya sebagai dokter sehingga memancarkan pesona pada diri nya.
Setelah selesai membalurkan salep dibeberapa titik lalu Adila menoleh Devan, sontak saja membuat Devan kaget lalu memalingkan pandangannya ke arah di sekeliling nya.
"Salep nya sudah selesai aku oles, sekarang kamu minum antibiotik dan beberapa obat lain nya" Adila pun mengambil beberapa butir obat masing-masing yang tersimpan ditube kecil dan tertutup rapat, tak lupa ia mengambil segelas air.
Devan pun meminum obat nya atas petunjuk dari Adila.
Selesai merawat Devan, Adila mohon untuk mengundurkan diri dari hadapan nya karena harus menangani pasien lain nya, kemudian Devan pun mengiyakan permintaan nya.
Suasana seketika hening, saat itu lah Devan merasakan perasaan nya yang tak biasa pada diri nya.
"Beruntung sekali Rezky memiliki adila, apalagi hubungan mereka sempat dijeda selama 10 tahun kedua nya masih menjaga kesetiaan satu sama lain. Dan itu membuat gua iri dengan hubungan mereka karena selama ini hubungan asmara gua ga pernah berjalan dengan mulus, dan hari ini Adila benar-benar merawat gua dengan baik.
Entah kenapa tiba-tiba merasa nyaman saat dekat dengan nya, seandainya gua lebih dulu bertemu Adila mungkin hidup gua gak akan sekacau ini" gumam Devan yang meratapi hidup nya.
"Kenapa pikiran gua tertuju ke Adila terus sih ? Engga,,, gak,,, pokok nya gua gak boleh menyimpan rasa terhadap nya apalagi dia itu adalah pacar sepupu gua sendiri. Pokok nya gua harus menjauh dari nya" gumam nya lagi dengan kepanikan.
***Akan kah Devan berhasil menjauhi Adila dan membuang jauh-jauh perasaan nya atau bahkan ia semakin tenggelam dengan perasaan yang ia rasakan ????
Temukan jawabannya di episode selanjutnya***.....
__ADS_1
Bersambung.....