
3 hari sudah Devan berada di rumah sakit dan kondisi nya pun sudah cukup membaik, ditambah lagi ada Adila yang mendampingi nya ia pun tampak bersemangat untuk segera sembuh.
Sementara itu Adila sudah menghubungi Bayu untuk segera datang ke rumah sakit, bahwa ia akan memberi kejutan kepada nya tentang siapa yang telah mendonorkan darah untuk ibu nya karena selama ini Bayu belum mengetahui nya.
Sore itu sekitar jam 5, sepulang dari kantor bergegas lah Bayu mengendarai mobil menuju rumah sakit guna untuk menemui sang kakak sekaligus ingin tahu pada seseorang yang telah menolong Evi.
"Aku jadi penasaran siapa orang itu ! dan aku harus banyak berterima kasih pada nya berkat dirinya, aku bisa mengetahui siapa diri ku sebenarnya" ucap Bayu dengan lirih sambil menyetir mobil dengan kecepatan cukup kencang karena ia sudah tidak sabar ingin menemui orang yang dimaksud kakak nya.
Setiba di rumah sakit, Bayu langsung memarkirkan mobil nya dalam lobby, setelah itu ia melangkah dengan cukup cepat ke arah lift. Kebetulan lift nya terhenti di hadapan nya lalu ia pun masuk dan menekan tombol angka 4 karena ruangan Adila terdapat di lantai 4.
Adila keluar dari ruangan nya karena ia ingin mengecek keadaan Devan tanpa di dampingi perawat nya, karena sebagian perawat nya sedang membantu dokter lain yang sedang melakukan operasi dan ada pula yang menangani pasien lain.
Langkah Adila melewati pintu lift terhenti yang tak jauh arah nya, beruntung lah Bayu berpapasan dengan kakak nya.
"Kak Dila" panggil setelah keluar dari pintu lift sambil melihat ke arah nya.
Adila pun mendengar suara yang memanggil nya dari samping dan menoleh ke arah nya.
"Bayu...." Sahut nya.
"Kamu sudah pulang dari kantor ?" Tanya nya.
"Sudah kak",
"Kebetulan sekali kakak ingin mengecek keadaan pasien yang kakak maksud untuk mu, sekarang juga kamu ikut kakak" ajak Adila.
"Baik kak, lagi pula aku sudah penasaran dengan nya",
Kemudian mereka pun berjalan bersama menuju ruang perawatan Devan.
Sampai lah di depan pintu dan langkah mereka pun terhenti.
'tok,,,tok,,,tok,,,' bunyi suara ketuk pintu.
"Masuk" jawab Devan dari dalam.
Adila pun membuka kan pintu dan berjalan ke arah Devan lalu di ikuti langkah Bayu dari belakang nya.
__ADS_1
Devan yang sedang berbaring pandangan nya lebih fokus ke arah Bayu.
Siapa pria yang bersama nya itu, di lihat dari segi wajah nya masih di bawah Adila usianya, 'gerutu Devan dalam hati'.
"Devan sebelum nya kenalkan ini adik ku nama nya Bayu" Adila memperkenalkan Bayu pada nya.
"Bayu" sambil mengulurkan tangan nya ke arah Devan.
"Devan" balas nya dengan uluran tangan, tak lama kemudian mereka melepaskan uluran tangan masing-masing.
Ohh,,, rupa nya dia adik nya Adila, pantas saja sewaktu lalu aku hanya memperhatikan nya tidak begitu jelas dengan wajah nya.
"Bayu, kakDevan ini adalah salah satu sepupu nya ka Rezky" sahut Adila.
"Ohh !!! Ka Rezky yang pacar nya ka Dila itu ya" ujar Bayu dengan tersenyum lebar.
Adila hanya merespon sedikit senyum dan tersipu malu.
Mendengar ujaran Bayu membuat Devan sedikit cemberut dan tak ingin membahas Rezky pada saat itu.
"Lalu untuk apa Dil dia kesini ?" Tanya nya pada Adila dengan sinis, begitu lah Devan sikap nya jika ada orang tak dikenal.
"Sebelum nya aku sangat berterima kasih terhadap mu. Bahwa kamu sudah mendonorkan darah untuk ibu ku, kebetulan pada saat itu situasi nya sedang genting".
Mendengar penuturan kata dari Bayu sontak Devan sangat terkejut, bahwasanya ia sudah menutupi semua nya ini dari Adila.
Devan pun diam sejenak yang telah kehabisan kata.
"Kamu kenapa diam Devan ?" Tanya Adila .
Kemudian Adila berpikir sejenak, "tunggu deh seperti nya ada yang janggal ! Kejadian itu kan sebelum aku bertemu dengan Rezky, kenapa tiba-tiba kamu bisa mendonorkan darah untuk ibu ku ?" Tanya nya lagi dengan kebingungan.
Seluruh tubuh Devan mulai berkeringat karena panik bahwasanya ia lakukan itu dari awal hanya untuk menguntit Adila,
Oh my God ! Apakah gua harus bilang yang sebenarnya, kalo gua jujur gua takut Adila marah dan menjauhi gua dan untuk saat ini hati gua udah terlanjur nyaman dengan nya.
"Adila sebenarnya ada yang ingin gua katakan sama Lo yang sebenarnya, tapi gua takut Lo marah" ujar Devan dengan raut wajah yang sangat panik.
__ADS_1
Bayu yang tengah berdiri hanya menatap heran.
"Bicara apa Van ?" Tanya Adila yang penasaran.
"Tapi janji ya Lo jangan marah".
Hanya anggukan yang Adila respon.
Devan pun mulai menjelaskan,
"Sebelum nya Rezky sudah lebih dulu ke Indonesia bahkan dia pun pergi tanpa sepengetahuan gua, dari situ gua merasa kecewa terhadap nya lalu selang 2 Minggu gua menyusul. Kenapa gua ikut menyusul, karena pada saat itu lah gua merasa hubungan persaudaraan gua dengan Rezky yang begitu dekat tiba-tiba di ganggu oleh sosok wanita dalam hidup nya. Dari situ gua mulai berpikir bahwasa nya Rezky sudah mengabaikan gua sebagai sepupu bahkan hanya karena wanita ia tidak mau tinggal di Amerika".
"Lalu gimana cara nya kamu bisa bertemu kak Dila ?" Tanya Bayu yang masih bingung.
"Justru itu seperti nya takdir membuka jalan gua dengan lancar" balas nya lirih .
Kemudian Devan menjelaskan kembali perihal sewaktu ia mengantarkan pasien yang sedang pingsan, lalu membawa nya dengan taksi yang ia tumpangi secara kebetulan ia membawa nya kerumah sakit tepat Adila lah salah satu dokter nya.
Dan dari situ lah selama satu Minggu berturut-turut ia mulai menguntit Adila.
"Sampai disini apakah kalian merasa kecewa terhadap ku ?" Tanya nya dengan nada rendah.
"Tentu saja kak Dila sangat kecewa. Secara tak sengaja kamu jadi penguntit" ucap Bayu dengan nada tinggi karena ia sudah tidak tahan atas kelakuan Devan terhadap nya.
"Bayu kamu tidak boleh bicara seperti itu" ucap Adila sambil menatap ke arah Bayu.
"maaf kak" balas nya sambil menunduk.
"Lalu gimana ceritanya kamu bisa mendonorkan darah untuk ibu ku ?" Adila meneruskan pertanyaan yang masih penasaran.
"kebetulan pada saat itu aku berada dirumah sakit karena aku masih penasaran terhadap sosok mu, aku hampir seperti orang gila dan tidak ada kerjaan selain memata-matai mu. karena terus memantau mu setiap saat, aku jadi hafal pada area rumah sakit tersebut. Sehingga pada saat aku keluar dari toilet sehabis buang air kecil, tanpa sengaja aku melewati ruang khusus pendonor darah lalu aku mendengar pembicaraan beberapa perawat yang ada diruangan tersebut bahwa kau sedang kesulitan mencari golongan darah AB. Kebetulan aku memiliki golongan darah yang sama, tanpa berpikir panjang segera lah aku donorkan darah untuk keselamatan nyawa ibu mu" raut wajah Devan menjadi senyum.
"Dan kamu juga tidak memberikan identitas mu serta kamu menghilang seketika selesai mendonor darah" sambung Adila, kini ia sudah mengerti dengan apa yang Devan jelaskan.
"Itu karena aku tak ingin di ketahui oleh mu dan pada saat itu aku belum siap mengungkapkan nya" balas Devan dengan lirih.
mendengar penuturan Devan yang panjang dan lebar membuat Bayu menaruh curiga kepada nya.
__ADS_1
Bersambung....