Bring Me To Life

Bring Me To Life
Episode 38


__ADS_3

Tanpa basa-basi Devan pun segera melawan 4 musuh nya itu, ia pun mulai menyerang dengan beringas.


Tetapi salah satu teman musuh nya lebih cekatan memukul Devan, pukulan demi pukulan mendarat di wajah, perut serta punggung Devan.


Devan pun tak mau kalah tendangan yang cukup keras mendarat di tubuh lawan nya


"Pers*t*n buat Lo !!! Berani nya maen keroyokan" dengus Devan sambil menahan sakit.


"Gua ga bakal kasih ampun buat Lo dasar bocah si*l*n !",


"Bos, dia cukup kuat lebih baik kita serang aja rame-rame" ucap seorang teman nya dengan kecaman nya.


Pria itu pun menuruti perintah salah satu teman nya, amarah pria tersebut semakin terkuasai menatap Devan dengan tatapan membunuh.


Baru saja Devan bangkit yang menahan sakit nya dan mengusap darah segar yang keluar dari bibir nya, mereka pun menyerang Devan disertai pukulan dan tendangan yang menghujani tubuh Devan dengan membabi buta.


Ingin rasa nya Devan membalas pukulan mereka tapi apalah daya Devan sudah terlihat lemah, kini wajah nya perlahan mulai berdarah dan membiru.


Sementara itu Adila terlihat khawatir dengan keadaan Devan, ia pun tidak yakin bahwa Devan bisa mengalahkan mereka karena 4 orang tersebut tampak hebat dalam bertarung.


Biar pun Devan orang yang menyebalkan bagi nya, tapi melihat Devan diperlakukan seperti itu Adila merasa tidak tega dan menangis sejadi nya.


"Hentikaannn !!!" Teriak Adila dengan tangis nya.


Dari jarak yang tak jauh dari nya Devan hanya memandangi Adila dengan kesakitan yang dirasakan tubuh nya.


Apaaa,,,, Adila menangis apa dia sangat khawatir dengan keadaan gua 'ucap batin devan'


Adila pun berinisiatif mencari bantuan karena ia yakin bahwa area nya itu tak jauh dari pemukiman warga, dengan berat hati ia meninggalkan Devan yang tengah dikeroyok.


Perlahan Devan membangkitkan tubuh nya di ikuti tangan nya yang sudah mengepal dengan amarah yang meledak.


Pukulan Devan berhasil mendarat tepat dibagian dada lawan judi nya yang pada waktu itu, kemudian orang tersebut ambruk karena tak kuasa mendapat serangan dari Devan yang cukup keras.


"Kurang aja* !!! Dia berani menyerang bos kita, sekarang Lo harus terima ini" orang itu pun menyerang Devan dari belakang lalu mencekit leher Devan bersama lengan nya tanpa ampun.


Merasakan serangan itu nafas Devan merasa sesak dengan kesakitan nya, ia pun berusaha melepaskan pegangan lengan orang tersebut yang melingkari leher nya namun orang tersebut cukup kuat dan Devan pun semakin lemah.


'aakkk,,,,aakkkk,,,,akkkk'


Suara dari kerongkongan Devan.

__ADS_1


Tak berapa kemudian datang lah Adila yang di ikuti 15 warga penduduk sekitar yang sebagian membawa kayu masing-masing yang dipegangi nya untuk siap melawan 4 orang tersebut.


Mendengar gemuruh rombongan warga, 3 orang tersebut merasa ketakutan akhir nya salah seorang yang masih mencekik Devan terpaksa ia lepaskan sambil menjatuhkan tubuh Devan yang terlihat lemah.


'uhukk,,,uhukkk,,,hukkk'


Terdengar suara batuk Devan yang terasa menyakitkan.


4 orang tersebut merasakan kalang kabut segera berlari dengan cepat dan berhasil meloloskan diri.


Adila pun menghampiri Devan yang terlihat tak berdaya sambil dikerumuni beberapa warga yang bersama nya, bergegas ia merebahkan kepala dipangkuan nya namun sorot mata Devan mulai sayu perlahan pandangan nya terlihat blur dan gelap.


Akhirnya ia pun tak sadarkan diri di pangkuan Adila, Adila pun sangat cemas segera lah ia menelpon ambulans tempat ia berkerja.


Dirumah sakit


Devan pun di arahkan ke ruang UGD bersama beberapa perawat.


Sementara itu Adila memasuki ruangan nya untuk memakai almamater guna untuk menangani Devan.


Setelah itu langkah Adila pun menuju ruang UGD dengan cepat.


Beberapa perawat sudah ada didalam nya masing-masing mengerjakan tugas nya dengan baik.


"Bagaimana sudah dibersihkan luka pasien ?" Tanya Adila dengan tegas .


"Sudah dokter. Namun pasien mengalami demam tinggi" jawab salah satu perawat .


Adila pun mengecek kondisi Devan dengan stetoskop serta senter kecil untuk mengecek bola mata Devan.


"Kondisi pasien tidak kritis, beri ia cairan infus antibodi agar pasien tidak merasakan nyeri serta beri suntikan agar demam nya mereda. Setelah itu bawakan pasien keruang perawatan" perintah Adila kepada para perawat.


"Baik dokter" ucap nya serentak.


****


Devan sudah di pindahkan keruang perawatan, Adila merasa iba dan terlihat jelas luka nya yang dibaluti dengan perban.


Karena suntikan yang diberikan kepada nya membuat Devan belum siuman, namun itu tidak masalah karena untuk saat ini yang Devan butuhkan hanyalah istirahat yang cukup guna untuk memulihkan rasa nyeri nya.


Adila berserta beberapa perawat nya keluar dari ruangan Devan, dan beriringan melangkah kaki nya dengan santai.

__ADS_1


"Rupa nya dokter Adila sudah lama berteman dekat dengan pasien ya ?" Tanya Desi pada Adila.


Adila pun hanya menatap bingung serta tak mengerti apa dimaksud Desi barusan,


Berteman dekat dengan nya padahal kan baru kali ini aku mengobrol dengan nya.


"Beruntung sekali ya dokter Adila punya teman sebaik dia udah gitu tampan lagi" celetuk salah satu seorang perawat.


"Maksud kalian baik gimana ya ? Kalian kan baru bertemu pasien hari ini ?" Adila pun semakin tambah bingung dan setahu Adila para perawat nya itu sebelum nya tidak mengenali Devan tapi mereka sudah asal tebak sikap Devan.


"Hehe,,, kita sudah bertemu 2 kali dok termasuk hari ini. Dia itu orang nya sangat ramah" balas seorang perawat yang berbeda.


Ramah dari mana coba ? Padahal kan Devan itu orang nya jutek, sinis dan nyebelin.


"Oh iya dokter aku hampir lupa. Pasien itu juga yang telah mendonorkan darah nya ibu nya dokter" sahut Desi.


"Benar dokter dia lah orang nya, saya sendiri kok yang mengambil beberapa mili darah nya lalu baru kami tinggal sebentar diruang perawatan khusus tanpa sebab ia menghilang" sambung perawat yang disebelah Desi.


Mendengar hal itu Adila sangat terkejut ternyata Devan lah orang nya yang telah menyelamatkan Evi saat situasi sedang genting.


Di pertengahan langkah Adila pun terhenti, ia pun berinisiatif untuk segera keruangan Devan.


"Kalian duluan saja. Seperti nya alat medis ku tertinggal diruangan pasien" ucap Adila dengan alasan nya serta gelagat yang berbeda.


"Baik dokter kalau gitu kita duluan" Desi pun berucap mewakili.


Sampai lah Adila di ruangan Devan di antarkan langkah kaki nya yang cukup terburu-buru.


Adila pun mengambil kursi untuk duduk disebelah kanan Devan, ia pun menatap Devan kembali dengan perasaan iba serta prihatin karena disaat kondisi nya seperti ini jauh dari keluarga terdekat nya.


"Terima kasih Devan kamu sudah menyelamatkan nyawa ibu ku, kalau tidak ada kamu entah lah. Ternyata kamu menyembunyikan ini semua dari ku, lalu apa maksud mu semua ini" ucap nya dengan lembut sambil memegang tangan kanan Devan.


Adila pun mengecek suhu Devan melalui dahi nya.


"Syukur lah suhu nya sudah kembali normal. Apa sebaiknya aku memberitahu Rezky ? Mungkin setelah ia mendapat kabar ini pasti Rezky sangat khawatir dan mengganggu pekerjaan nya, sebaiknya aku urungkan saja nanti setelah Devan siuman baru aku membahas Rezky".


Kebetulan hari ini pekerjaan Adila tidak terlalu sibuk karena beberapa pasien sudah ditangani oleh para dokter lain ditambah lagi dengan jumlah perawat yang memadai.


Sebagai bentuk rasa terima kasih nya terhadap Devan, Adila pun tak sungkan untuk menemani disamping nya.


Lama - kelamaan Adila mulai mengantuk tak terasa ia pun tidur disamping Devan sambil duduk dikursi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2